http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=304100
Senin, 17 Sept 2007,
Memperkuat Kalangan Moderat Islam 


Oleh Zuhairi Misrawi 

Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC, Sidney, 
beberapa hari lalu menarik perhatian publik. Salah satu harian terbesar, The 
Australian, (3/9) menulis bahwa Indonesia merupakan salah satu negara muslim 
terbesar di dunia yang corak keberagamaannya adalah moderat. Kedatangan SBY, 
menurut Perdana Menteri Australia Jonh Howard, akan memberikan arti bagi 
upaya-upaya untuk memperkuat sayap moderatisme.

Masih dalam harian yang sama, David Miliband, sekretaris jenderal urusan luar 
negeri Inggris, juga menyatakan bahwa langkah politik yang akan diambil Inggris 
di masa mendatang adalah tidak memerangi kalangan radikal, tetapi justru 
memperkuat kalangan moderat. Dalam hal itu, komitmen kedua negara tersebut 
semakin memperkuat jejaring kalangan moderat dalam lingkup yang lebih luas. 
Tentu saja, pernyataan tokoh-tokoh kunci itu merupakan kabar baik dalam upaya 
mengatasi ledakan terorisme yang terus mengancam seantero penduduk dunia, 
terutama pascatragedi 11 September. 

Setidaknya, tragedi 11 September telah melahirkan sebuah kebijakan yang 
berdampak cukup besar, terutama pada tataran global. Pemerintah Amerika Serikat 
di bawah komando George W. Bush telah menerbitkan sebuah kebijakan yang amat 
kontroversial. Di antaranya, invasi terhadap Afghanistan dan Iraq. Segala 
sesuatu yang dianggap mempunyai keterkaitan dan potensi bagi tumbuhnya 
terorisme harus dibasmi hingga ke akar-akarnya. 

Karena itu, pemerintah AS secara politis mengambil kebijakan yang hampir tidak 
memberikan ruang bagi tumbuhnya benih-benih terorisme. Tragedi 11 September 
betul-betul menjadi pelajaran berharga. Tidak hanya itu, AS membangun aliansi 
strategis dengan pelbagai negara-negara lain untuk melawan terorisme.

Meski demikian, di pentas global, kini terpecah dua arus besar dalam menangani 
terorisme. Pertama, melawan terorisme dengan cara membombardir dan 
menghancurkan sentra-sentra pendidikan dan penguatan terorisme. Sejauh ini, AS 
dan seluruh sekutunya memusatkan perhatian pada Afghanistan karena jaringan Al 
Qaidah diduga kuat bersembunyi di negara tersebut. 

Selain itu, Taliban sebagai salah satu kelompok yang dikenal mempunyai ideologi 
dan kemampuan untuk menggunakan kekerasan merupakan salah satu cikal-bakal bagi 
meluasnya terorisme. Dalam sejumlah penelitian yang dilakukan banyak ahli 
tentang terorisme disebutkan bahwa seluruh jaringan terorisme mempunyai koneksi 
kuat dengan Afghanistan, termasuk di antaranya Jamaah Islamiyah. Mereka belajar 
tentang ideologi dan cara-cara menggunakan bom dari Afghanistan. 

Dalam hal itu, tidak diragukan lagi bahwa sasaran untuk membatasi gerak para 
teroris di Afghanistan merupakan langkah yang harus dilaksanakan agar kekuatan 
mereka tidak menjalar ke negara-negara lain, terutama Indonesia.

Tapi, penyerangan terhadap Iraq sampai saat ini masih menimbulkan tanda tanya. 
Sebab, dalam sejarahnya, Iraq tidak mempunyai indikasi kuat bagi tumbuhnya 
teroris. Yang terjadi sebenarnya justru sebaliknya, yaitu arus-arus moderatisme 
muncul dari Iraq. 

Imam Syafi'i yang cukup dikenal sangat kuat di kalangan NU merupakan salah satu 
ulama yang melahirkan mazhab lamanya di Iraq. Kota Seribu Satu Malam itu 
dikenal sebagai salah satu peradaban Islam yang adiluhung. Karena itu, 
penyerangan AS dan sekutunya terhadap Iraq menimbulkan reaksi protes dari 
seluruh penjuru dunia, termasuk masyarakat AS sendiri, karena tidak cukup 
alasan untuk menyatakan Iraq sebagai negara yang di dalamnya memproduksi para 
teroris. 

Kedua, melawan terorisme dengan mengembangkan dan membangun aliansi bersama 
kalangan moderat. Langkah itu terakhir digalakkan Inggris di bawah pimpinan 
barunya. Berbeda dengan Tony Blair, PM Inggris yang baru, Gordon Brown, 
mempunyai komitmen untuk memperluas jaringan kelompok muslim moderat. 

Karena itu, beberapa saat lalu, Inggris menarik pasukan dari Iraq dan membangun 
kebijakan politik di atas paradigma baru tentang pentingnya kalangan moderat. 
Langkah pertama harus diakui telah gagal dalam meredam langkah teroris. Sebab, 
terorisme pada hakikatnya merupakan hasil dari proses panjang peminggiran dan 
diskriminasi. Artinya, semakin keras kalangan teroris, semakin keras pula 
mereka melawan.

Langkah kedua merupakan alternatif terbaik untuk membangun kepercayaan baru 
bagi kalangan muslim. Sebab, identifikasi Islam atau kalangan muslim dengan 
terorisme melahirkan luka sejarah dan peradaban yang amat lama. 

Pada hakikatnya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan 
keadilan. Tidak ada kaitan sama sekali dengan agama Islam yang hanif. Di dalam 
Alquran disebutkan, barang siapa membunuh seseorang, sesungguhnya dia membunuh 
seluruh manusia. 

Di sini, peran yang dilakukan NU dan Muhammadiyah memberikan harapan baru. 
Kedua ormas itu dikenal luas secara internasional sebagai organisasi muslim 
terbesar di dunia, yang sejak pra-kemerdekaan mengedepankan moderatisme. NU 
sejak beberapa tahun lalu menggelar karpet merah sebagai agama yang terbuka dan 
ramah pada keragaman (rahmatan lil 'alamin). Sementara itu, Muhammadiyah secara 
konsisten mengadakan forum-forum internasional yang secara eksplisit menyerukan 
perdamaian. 

Karena itu, pemerintah Indonesia harus punya inisiatif untuk menggunakan 
momentum hausnya dunia pada wawasan dan gerakan keagamaan yang moderat. NU dan 
Muhammadiyah bisa secara proaktif mengadakan pertemuan-pertemuan internasional 
yang secara kontinu mengampanyekan dan mendiskusikan isu-isu strategis yang 
berkaitan dengan tata dunia Islam yang ramah terhadap keragamaan dan mendorong 
pada terbentuknya etika sosial yang berkeadaban.

Di dalam negeri, kedua ormas itu harus memperluas jangkauan hingga ke 
kelompok-kelompok yang selama ini belum disentuh. Sebab, kecenderungan 
mutakhir, menguatnya tensi kalangan moderat terhadap politik praktis 
menyebabkan bangkitnya gerakan-gerakan radikal, yang secara terang-terangan 
mendakwahkan kekerasan, baik fisik maupun nonfisik. 


Zuhairi Misrawi, direktur Moderate Muslim Society (MMS), sedang belajar di 
Melbourne 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke