Agama dalam arti A besar itu terletak pada kedigdayaan pemimpinnya. Memang
betul pada jaman abad 20 dan 21 ini belum ada agama karena tidak ada "orag
pilhan" ataupun ada mereka menutupi dri karena merasa tidak mampu mengatasi
gelombang dunia yang semakin besar. Kini hanya ada sebutan kyai, ulama, biksu,
pendeta tapi mereka bukan orang pilihan. Dimana gerangan, marlah kita
mencarinya "orang-orang shalih" tersebut. Yang biasanya menutup diri menunggu
nur yang suci
Jamaluddin Mohammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sampai sekarang saya masih ragu, apakah Agama (memakai A
besar) masih cukup energi untuk melakukan transformasi sosial? Apa yang
menggerakkan ratusan ribu biksu di Myanmar untuk melawan junta militer yang
ada di sana? apakah Agama? Saya yakin bukan!
Saat ini, Agama ibarat "perawan cantik" yang dilamar banyak orang. Sejatinya,
ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Kekuatannya adalah kelemahanya; keduanya
dapat dipertukarkan satu sama lain, bahkan saling memanipulasi.
Saya hanya percaya agama (menggunakan "a" kecil). "agama" hadir dan mengeram
dalam ruang hati masing-masing orang, mengikat satu sama lain. Ia tidak butuh
pengakuan, pelembagaan, bahkan "persaksian" (syahadah). "Agama" tidak
menghasilkan "agama", juga sebaliknya.
Konon, kata al-Qur'an, manusia sebelum lahir telah melakukan perjanjian
primordial dengan Tuhan. Dalam perjanjian itu manusia akan terus menjaga
imannya. Dan betul, setiap manusia tidak akan melanggar perjanjian itu sampai
akhir hayatnya. Itulah agama; agama yang tidak pernah ingkar janji.
---------------------------------
Tonight's top picks. What will you watch tonight? Preview the hottest shows
on Yahoo! TV.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Tryit now.
[Non-text portions of this message have been removed]