Kang = Gus Anam(Alias honoris causa "Kang" setara gelar "Gus").
Saya mau nanya,
Sejak kapan Jurnal ini diterbitkan? Apakah masih melibatkan 'orang dalam'?
Dulu lirboyo punya Majalah MISYKAT(Media Informasi Santri dan Masyarakat)
sayangnya hanya dominan 'dimonopoli' oleh orang dalem, SDM terbatas.
Resikonya pernah cuti sangat lama, mulai tiga tahun lalu tampaknya ada usaha
untuk bnagkit lagi. Bagaimanakah nasib dia sekarang?
Lirboyo Juga Punya HIMASAL(Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) Sejak kapan
FORMAL(Forum Alumni Lirboyo ini didirikan)? Bolehkah saya ikutan? Di Mana
Markasnya? Saya tertarik.
Nasrul
(Pernah Aktif di Majalah Misykat Lirboyo, keluar dari Lirboyo '02)
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: *Jurnal Kajian
Pesantren ini bernama*
*RO'AN*
* *
*Diterbitkan oleh Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (Formal)*
*Prawacana*
Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam. Namun
sebenarnya pesantren lebih dari itu. Pesantren adalah sebuah institusi
kebudayaan besar. Orang sering menyebut pesantren sebagai "subculture
system" atau sebuah sistem budaya yang mapan di antara kerumunan kebudayaan
dunia. Ada juga yang menyebut sebagai "grass root power" sebagai kekuatan
yang muncul dari ide-ide dan aspirasi masyarakat bawah.
Pada mulanya, pesantren dimaksudkan sebagai langgar, musholla, atau
padepokan dimana para santri digembleng oleh kiai mengenai tata cara hidup
yang sesuai dengan tututunan agama Islam. Musholla, langgar, atau padepokan
itu berada ditengah-tengah masyarakat, kiainya menjadi pemuka masyarakat dan
para santrinyamenjadi semacam "aktivis" yang menjadi pelaksana perubahan.
Pesantren tidak sekedar mengajarkan ilmu agama secara dogmatis, tetapi juga
ilmu-ilmu sosial, mistik, bahkan kanuragan. Pesantren mampu menyelesaikan
semua persoalan dan melindungi masyarakat.
Pada masa penjajahan pesantren dipandang sebagai kekuatan yang menakutkan.
Sekali pesantren bergerak, penjajah kalangkabut. Ketika pesantren yang
diwakili oleh seosok seorang kiai mengajukan sikapnya maka ketika itu juga
masyarakat seputar pesantren akan berada dalam satu komando.
Zaman terus berubah. Ketika penjajahan secara fisik telah berakhir, dan
ketika diterapkan satu sistem pendidikan nasional, pesantren pun terbawa
arus, mengalami penyempitan peran, menjelma sistem pendidikan dengan
kelas-kelas dan standar-standar tertentu semisal masa belajar, ijazah dan
kurikulum. Arus ini juga tidak serta merta disalahkan karena pada awal
kemerdekaan bangsa Indonesia sedang berada dalam hiruk pikuk mengisi
kemerdekaan, mencari identitas diri di antara bangsa-bangsa merdeka di
dunia.
Meski tidak semua pesantren berubah oleh arus, akan tetapi arus itu sendiri
telah menjadikan pesantren terus bergolak: antara bertahan, berubah, atau
berbenah. Ketika muncul institusi bernama "Departemen Agama" lengkaplah
sudah pergolakan itu. Departemen ini tidak saja menjadikan pesantren sebagai
lembaga pendidikan, tetapi telah mengesahkan dikotomi yang salah kaprah
yakni adanya ilmu agama dan umum.
Namun posisi pesantren sebagai intitusi kebudayaan dengan jutaan massa tetap
bertahan saja; kalaupun terbawa arus, hanya sedikit hal yang larut.
Maka banyak hal tentang pesantren yang perlu digali dan difikirkan!
*Tema Kajian Edisi Pertama:*
Sebagai awalan kita membuka kembali soal *"Perubahan paradigma pendidikan
pesantren"*
Mengulas perjalanan "*pesantren sebagai institusi pendidikan*" dari waktu ke
waktu.
1. Pesantren pada masa awal mula penyebaran Islam
2. Pesantren di tengah tekanan penjajahan Belanda dan Jepang.
3. Pesantren pada masa kemerdekaan; hiruk pikuk penyusunan sistem
pendidikan nasional
4. Kebijakan pemerintah terkait pesantren; mulai kewajiban mengajarkan
pendidikan agama di sekolah umum, SKB dua menteri hingga UU sisdiknas.
5. Titik pointnya pada soal perluasan peran pesantren dan tuntututan
dunia kerja; Kurikulum pesantren, sistem pendidikan, cara belajar, dll
perlukah berubah?
**
*Catatan*: Ini hanya pembahasan inti (untuk artikel utama), ada juga rubrik
artikel lepas, resensi dan lain-lain, terkait kepesantrenan. Nah biar kita
tidak mengulang pembahasan, dipersiapkan 3 tema berikutnya. Maksudnya, jika
menulis artikel lepas jangan yang berkenaan dengan tema berikut ini:
Tema 2: Pesantren, NU dan konsep besar "Pancasila"
Tema 3: Zuhud pesantren dan arus konsumerisme global
Tema 4: Pesantren sebagai kekuatan massa dan tarikan politiknya
Panjang tulisan max 15 halaman spasi satu setengah
Edisi pertama akan terbit akhir syawal
Tulisan yang dimuat akan mendapat "penghargaan" dan ucapan terimakasih
Sekian saja. Ditunggu tulisannya.
Salam sayang semuanya dari kru Jurnal RO'AN
Pemimpin Redaksi
A Khoirul Anam
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
[Non-text portions of this message have been removed]