Salam,

Sewaktu Gus Dur di Jogja menjawab pertanyaan salah satu audien. Di
Jogja ada gempa dan banyak musibah itu khan masalahnya Nyai Roro Kidul
dipaksa pakai jilbab sama FPI.....:0
Ha.ha..ha kalu yang ini mungkin guyon Mas Ghafur....;-)

Btw, saya kangen postingan2 kritis sampean ;)


Salam,




--- In [email protected], "Abdul Ghofur" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wahhabiyah sudah seharusnya terus menerus dikritik. Islam yang
dikembangkan 
> sudah sangat kuno, dan sangat tidak relevan. Persis seperti benda
purba yang 
> kelayapan di era moderen, yang sebetulnya hanya relevan untuk
dipajang di 
> museum. Susahnya, ia dilindungi oleh kekuatan petro dolar. Dengan
uang yang 
> melimpah, bahkan ia bisa masuk dengan kuat di Universitas Al-Azhar.
> 
> Akan tetapi, apa yang disampaikan oleh Gus Dur, bagi saya, cukup 
> mengejutkan. Ia menuduh dinasti Saud
> sebagai keturunan Musailaham Al-Kadzab. Seriuskan Gus Dur? Atau sekedar 
> Joke? Rasanya sangat mustahil membuktikannya.
> 
> ghofur
> 
> http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/579/52/
> Jakarta, wahidinstitute.org
> Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan
> tegas menyatakan, kaum Wahabi menjadi keras dan merasa benar
sendiri, tak
> lain karena pengaruh kerja samanya dengan Dinasti Saudi.
> 
> "Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang
> penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri.
> Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab."
> 
> Demikian disampaikan Mantan Ketua PBNU itu pada diskusi buku karya
Stephen
> Sulaiman Schwartz berjudul Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs
Fundamentalisme
> dalam Wacana Global, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas
Paramadina
> Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Rabu,
> (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli The Two Faces of Islam:
The House
> of Sa'ud from Tradition to Terror (2002) yang diterjemahkan dan
diterbitkan
> kembali oleh the WAHID Institute pada September, 2007.
> 
> Pada jaman Nabi Muhammad SAW, Musailamah al-Kadzab (Sang Penipu) pernah
> mengaku menjadi nabi. Dia dulu tinggal di Yalamlam, daerah antara
Jedah dan
> Yaman. Dan, kata Gus Dur, Dinasti Saudi dulu menamai istananya
dengan Istana
> Yalamlam.
> 
> "Ketika Faishal menjadi raja, nama itu diubah menjadi Istana Riyadh.
Soal
> ini kita harus tahu persis sejarahnya, biar kita tidak berat
sebelah," pinta
> Gus Dur.
> 
> "Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah
paling benar
> sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud
saja,"
> tegas Gus Dur.
> 
> "Saya tahu ini dari informasi-informasi yang masuk. Saya bicara apa
adanya.
> Obyektifitas itu penting dan menuntut sikap yang betul-betul
mendalam tanpa
> pikiran macam-macam," imbuhnya.
> 
> Pada diskusi buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007, ini hadir
juga
> sebagai pembedah intelektual Syiah Jalaluddin Rakhmat dan Dosen
Universitas
> Paramadina Ihsan Ali Fauzi. Ratusan hadirin terlihat memenuhi ruang
diskusi.
> 
> Mengomentari isi buku, Jalaluddin Rakhmat menyatakan, buku yang
sebetulnya
> hanya menampilkan satu wajah Islam Wahabi, ini akan banyak memukul
para dai
> di negeri ini. "Mereka hanyalah loud speaker Wahabi yang digerakkan
dengan
> petro dolar dari Jazirah Arabia," ujarnya. "Saudi mungkin kebakaran
jenggot
> dengan buku ini," sambungnya.
> 
> Kang Jalal – sapaan akrabnya – lantas menyuguhkan beberapa ciri spesifik
> gerakan Wahabi. Pertama, merasa paling suci dan benar. "Dialah yang
paling
> benar dan semua orang sesat. Dialah yang berada di jalan lurus, di atas
> sunnah, dan semua orang di atas bid'ah. Dialah yang menjalankan
tauhid murni
> dan semua orang musyrik," tegasnya.
> 
> Kedua , anti plularisme. "Mereka sangat eksklusif. Merasa bahwa
surga hanya
> milik dia dan kelompoknya," terangnya.
> 
> Ketiga , anti tradisi lokal, kecuali tradisi Arab di Padang Pasir.
"Semua
> tradisi di tempat yang didatangi tidak disukai," katanya.
> 
> Dan keempat, anti intelektualisme. "Kita harus patuh pada wahyu
al-Qur'an
> dan Sunnah, dengan tambahan, seperti penafsiran mereka. Karena itu, kita
> dilarang mengikuti penafsiran yang menyimpang dari penafsiran mereka,"
> ujarnya.
> 
> "Jika semua ciri itu terpenuhi dalam diri kita, insya Allah agama kita
> becomes evil. Dan insya Allah, kita akan menjadi teroris-teroris
baru yang
> menyebarkan ketakutan di sekitar kita," tandasnya.
> 
> "Dan, musuh paling besar dan paling tidak disukai oleh mereka adalah
Syiah,"
> imbuh Kang Jalal disambut tawa.
> 
> Sedangkan Ihsan Ali Fauzi ingin melihat gerakan Wahabi secara lebih
fair."Saya
> ingin membela Wahabi dari beberapa tuduhan yang mengganggu pikiran kita.
> Karena kok kayaknya hampir tidak ada sumbangan positif dari Wahabi
terhadap
> peradaban," katanya. "Jadi, saya mengecam Wahabi, tapi be fair,"
imbuhnya.
> 
> Hal positif dari Wahabi, kata Ihsan, antara lain semangatnya untuk
> bertauhid. "Mereka menyebut diri muwahhidun (ahli tauhid, red.).
Sama juga
> seperti Muhammadiyah. Semangat tauhid ini sangat patut digarisbawahi,
> terlepas dari eksesnya," pintanya.
> 
> Selain itu, pinta Ihsan lagi, kita harus tenang berbicara perihal
sumbangan
> dari Wahabi. "Apa alasan kita menolak orang yang memberikan
sumbangan kepada
> orang lain? Kalau kita menerima sumbangan dari AS (Amerika Serikat,
red.),
> kenapa tidak dari SA ( Saudi Arabia, red.)?" tanyanya.
> 
> Secara prinsipil, kata Ihsan, tidak ada alasan sedikitpun untuk menolak
> sumbangan dari mereka. Toh, ujarnya, banyak sekali madrasah, masjid,
atau
> kantor-kantor di negeri ini yang hidup karena bantuan mereka. "Harus
> hati-hati menyimpulkan mana yang sumbangan teroris dan mana yang bukan.
> Kalau tidak, akan bahaya," pungkasnya.[]
>


Kirim email ke