http://www.gatra.com/artikel.php?id=109322 Jalur Sempalan Menuju Tuhan
Semarak aliran menyimpang dipicu perasaan tertekan dan kehilangan harapan. Baik desakan ekonomi maupun krisis spiritual. Menurut peneliti senior Litbang Departemen Agama yang banyak menelisik aliran sesat, Abdul Aziz Ahmad, semarak aliran sesat itu dipicu oleh deprivasi yang melanda masyarakat. "Deprivasi itu perasaan tertekan, merasa tidak punya harapan. Nah, deprivasi sosial ini menimpa banyak segmen masyarakat," ujarnya. Deprivasi yang banyak terjadi biasanya di bidang ekonomi. "Dari deprivasi ekonomi, lalu lari ke persoalan agama. Dengan lari ke persoalan agama, seolah-olah dia mendapatkan outlet," ia menambahkan. Selain faktor deprivasi, kekebasan informasi di Indonesia juga menjadi salah satu sebab. "Sekarang bebas. Buku-buku agama banyak. Tapi, buku-buku mana yang membawa ke arah pemahaman yang benar?" tanyanya. Solusinya, kata Aziz, bimbingan ulama harus diberdayakan. Tentang banyaknya mahasiswa yang tertarik, perkiraan Aziz, karena banyak mahasiswa yang dasar pemahaman Islamnya masih rendah. "Sehingga, ketika ada pandangan yang meyakinkan dan didasarkan pada teks-teks yang ditafsirkan oleh si pengusung aliran, mereka bisa percaya," katanya. Faktor rasionalitas, kata Aziz, kadang juga tidak bisa mencegah. "Sebab kadang ajaran-ajaran itu dirumuskan berlandaskan alasan-alasan rasional," ujarnya. Contohnya gerakan Isa Bugis. "Gerakan ini sangat rasional," katanya. Sebenarnya gerakan Islam sempalan bukan fenomena baru. "Gerakan-gerakan semacam ini muncul sejak tahun 1970-an. Cuma, karena zaman Orde Baru, mereka masih tertekan," tuturnya. Pola rekrutmen mereka masih sama, yakni model multilevel marketing. Ketua MUI, Prof. Umar Shihab menyampaikan maaf karena ulama tidak maksimal menjalankan fungsi sebagai pelayan umat, sehingga banyak umat yang terjerat dalam aliran sesat. Menteri Agama Maftuh Basyuni menyerukan agar para ulama kembali ke barak, mengurus pesantren dan madrasah. "Jangan lama-lama di Senayan," katanya. Maksudnya, jangan terlalu sibuk mengurus politik. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika pembukaan Rakernas MUI, di istana, menyatakan bahwa perangkat negara akan menindaklanjuti fatwa ulama terkait aliran sesat. "Setelah fatwa dikeluarkan, maka perangkat negara sesuai dengan wewenang yang diberikan akan menjalankan tugasnya. Paduan inilah yang diharapkan terus terjalin di waktu yang akan datang," ungkap presiden. Lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada saat menutup rakernas di istana wapres, menyampaikan kritik lebih menukik. Semarak aliran sesat jangan-jangan karena pesan dakwah tidak sampai. "MUI jangan hanya mengatasi dengan melaporkan ke aparat, polisi, dan jaksa. Kalau begitu saja, peran MUI hanya sebagai pelapor," katanya. Ulama harus melakukan langkah preventif. Kalau hanya ditangani polisi dan jaksa, kata wapres, secara formal bisa selesai. "Tapi, saya yakin, secara hati nurani belum selesai. Nanti akan bermunculan lagi aliran sesat baru," tuturnya. "Jangan kita bangga tiap hari melihat orang diborgol oleh polisi karena menganut ajaran sesat. Itu artinya dakwah dengan kekuasaan. Dakwah harus dikembangkan secara kreatif, dengan hikmah," ujarnya. Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Nasaruddin Umar, menyebut maraknya aliran sesat sebagai fenomena global. Bukan hanya Indonesia, melainkan juga Pakistan dan Suriah. "Dan tidak hanya Islam, juga agama lain," katanya. Sebelum kasus ini mencuat, instansinya mengaku telah banyak melakukan pembinaan. Metode dakwah diperkuat agar kaum yang "menyempal" itu kembali. Juga diupayakan agar para kaum sempalan itu kembali pada keluarga masing-masing. Pesan Jusuf Kalla penting diingat. "Jangan dibiasakan menyelesaikan dengan batu dan api. Itu cara-cara zaman kuno," ujar Kalla. "Kalau menyelesaikan aliran sesat dengan bakar-bakar dan lempar-lempar, preman-preman pun bisa menyelesaikan aliran sesat." [Non-text portions of this message have been removed]
