Mohon ma¢af, agak sulit saya mendeskripsikan apa yang telah
dihasilkan oleh para ulama NU Jawa Timur di Genggong, Probolinggo
kemarin. Intinya, Luar Biasa! Hasil-hasil bahtsul masaail di forum
tersebut sungguh menunjukkan ciri NU yang sesungguhnya, subtantif dan
toleran! Suara menggelegar ke seluruh pelosok (Gong) karena ditabuh para
tokoh-tokoh umat Islam (Geng)..
Ya,
di Pesantren Zainul Hasan, para ulama dengan arif dan mendalam membahas
persoalan kontemporer dan mendesak untuk segera diperteguh kembali.
Diantaranya keputusan yang sangat penting adalah komitmen terhadap NKRI. Mereka
sepakat bahwa NKRI
sudah final. Gagasan khilafah para bagi penguasa agama ini tidak tepat
bagi Indonesia yang ragam ini. Jika disetujui, tak pelak NKRI akan terancam dan
memunculkan disintegrasi bangsa.
Bagi
NU, Indonesia dalam format kebangsaan lebih penting dari sekedar
bermimpi menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Disamping itu, dalam
banyak keputusannya, secara tegas NU menyatakan Indonesia dengan
Pancasila dan NKRI-nya merupakan pilihan final. Keputusan ini
diantaranya tertera pada hasil muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin,
muktamar NU tahun 1984 di Situbondo serta Munas Alim Ulama tahun 2006
di Surabaya.
Bukti konkret dari komitmen kebangsaan NU terhadap NKRI adalah pada
awal tahun 1950-an ketika ada pemberontakan DI/TII.
Kelompok pemberontak ini beralasan bahwa kepemimpinan Presiden Soekarno
tidak sah karena tidak dipilih oleh rakyat. Mereka menuntut Negara
Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila ini diganti dengan
Negara Islam Indonesia (NII).
Tentu
saja, tuntutan tersebut sangat mengguncang politik dalam negeri yang
saat itu masih sangat rentan. Sangat dimungkinkan, jika Soekarno diberi
fatwa sebagai presiden yang tidak sah maka akan segera ada huru hara
bahkan perang saudara karena tidak adanya kepemimpinan nasional. Dan
kalau saja Negara Islam Indonesia (NII) diproklamirkan tentu Nusantara ini akan
pecah, tidak lagi dari Sabang sampai Merauke.
Melewati Musyawarah Nasional (MUNAS)
Alim-Ulama tahun 1952 di Cipanas para ulama NU memutuskan bahwa
Soekarno memang bukan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Akan
tetapi jika tidak dipertahankan meskipun sebentar dan tidak diakui/sah
maka konsekwensinya Indonesia akan berpecah belah. Oleh karena itu
soekarno adalah pemimpin de facto negara Indonesia (waliyyu al-amri al-dharuri
bi al-syaukah).
Dengan
fatwa ini maka diperkokoh kembali perpecahan yang akan
memporak-porandakan kesatuan bangsa. Keputusan para ulama tentang
tuntutan DI/TII tersebut sangat luar biasa. Mereka yang sejatinya representasi
umat Islam justru memilih NKRI sebagai basis kehidupan bernegara.
Warisan ulama NU inilah yang dipertegas kembali dalam Konferwil PWNU
Jawa Timur di Genggong kemarin. Jadi, jangan bawa-bawa NU lagi ya!!
Salam,
Masykurudin Hafidz
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/