Tulisan ini tak lebih dari curahan hati seorang Anwar Djaelani dalam menghadapi situasi Bangsa Indonesia yang sebagian besar pemeluknya adalah Orang Islam. Oleh karena itu Saya tak berniat menanggapi tulisan yang dangkal ini yang hanya berpegang pada kaidah-kaidah yang sama sekali meragukan. Lihat saja misalnya Anwar mengkeriteriakan bahwa hanyalah Ulama' yang baik saja boleh menafsirkan al-Quran. Namun di sinilah kerancuan tulisana ini. Penulisnya menyodorkan solusi yang malah membingungkan. Dengan kata lain Anwar tidak mendefinisikan dulu apa pengertian ulama baik itu. Bukan kah ada banya ulama di dunia ini. ada ulama fikih, Ulama Tauhid, Tasawuf., dan masih banyak lagi lainnya. Selain itu di judulnya Anwar juga menyebut kaum Liberal, yang sama-sama tidak mengartikan terlebih dulu apa artinya gabungan kedua kata itu. Berangkat dari itu semua, saya beranggapan tulisan ini ibaratkan seekor Banteng yang mengamuk yang menyerodok ke sana kemari tanpa tahu siapa yang diserang dan dengan apa dia akan menyerang. Salam Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bagaimana Om Guntur responya? Ditunggu komentarnya ...! Salam, Mukhlisin
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=312849 Jumat, 16 Nov 2007, Ulama dan Relativisme Kaum Liberal Oleh M. Anwar Djaelani "JIMAT" yang kerap dijadikan amunisi kaum liberal, antara lain, pluralisme, liberalisme, persamaan tanpa batas, antiotoritas, dan relativisme. Maka, menyusul maraknya diskusi di seputar aliran sesat, terlihat bahwa dua "jimat" yang disebut terakhir itu paling sering dipakai kaum liberal saat membela kelompok, seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Lihat, misalnya, dua tulisan di Jawa Pos. Pada 14/11/07 Mohamad Guntur Romli menulis Sesatnya Kriteria Sesat. Pada dasarnya, dia menyatakan bahwa kriteria penyesatan versi Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus ditolak karena semua orang atau kelompok memiliki derajat yang sama ketika berusaha memahami wahyu. Itu pun -kata dia-, hakikat kebenarannya baru sampai pada tahap "kebenaran manusiawi" dan bukan "kebenaran Ilahi". Untuk itu, dia bersandar pada hadis bahwa perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat.
