SETELAH SEPEREMPAT ABAD
   
   
  Oleh JJ. Kusni
   
   
  Desember tahun 2007 ini, Koperasi Restoran Indonesia [SCOP Fraternité], 
Paris, genap berusia seperempat abad. Barangkali dari segi bisnis, untuk suatu 
usaha produktif, apalagi didirikan dan dikembangkan oleh orang-orang yang 
tadinya tidak mempunyai latarbelakang bisnis, bisa bertahan dan berkembangnya 
suatu kegiatan jenis begini, bukanlah hal sederhana. Riwayat apa-bagaimana 
serta lika-liku usaha produktif ini lahir dan berkembang, bisa dibaca dalam 
buku JJ. Kusni "Membela Martabat Diri Dan Indonesia. Koperasi Restoran 
Indonesia di Paris" [ Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005], buku yang oleh 
Koperasi dipandang sebagai buku standar tentang Koperasi Restoran Indonesia 
Paris. Ia pun bisa diketahui melalui filem yang dibuat oleh Dhany Agustinus, 
dosen Fakultas Seni Perfileman dari Institut Kesenian Jakarta  [IKJ], yang  
sekarang melanjutkan studi S2nya di Paris, pekerja filem yang pernah melakukan 
studi di akademi filem terkemuka Eropa di Paris, Fimes.
   
   
  Kata-kata Goenawan Mohamad yang tercatat di buku tamu koperasi di antara 
sekian banyak kesan para tamu,  barangkali bisa merumuskan menjawab pertanyaan 
tentang arti Koperasi Restoran Indonesia di Paris ini. Goenawan Mohamad dalam 
buku tamu koperasi menulis antara lain, bahwa: "Sejarah Indonesia tercatat di 
sini  dengan kerinduan, kesedihan, tapi njuga kehangatan" atau dalam kata-kata 
Yuli Mumpuni, mantan AtasePers KBRI di Paris:"RI [Restoran Indonesia] , 
benar-benar DUTA BANGSA".  Jika dilihat dari konteks sejarahnya, barangkali 
Koperas Restaurant Indonesia Paris pada masa Orba, bisa disebut sebagai 
"Indonesia yang lain" [the other Indonesia] untuk memberi varian kepada 
kata-kata spanduk orang-orang Mindanao Filipina dan ucapan warga Conakry 
[Afrika], ketika menyambut kunjungan Soeharto sebagai Presiden Orba saat 
berkunjung ke negeri-negeri tersebut. Atau jika meminjam istilah orang-orang 
Perancis yang setia pada Koperasi, "restaurant pas commes  les autres" [restoran
 yang lain dari yang lain].
   
   
  Pada saat memperingati usia seperempat abad  usaha produktif koperatif ini, 
sebagai salah seorang pendirinya, saya ingin melihat ulang seperangkat nilai 
yang 
  tersimpan dibaliknya. Seperangkat nilai  ini, barangkali mempunyai arti lebih 
hakiki dari perujudan fisik sebuah restoran. Barangkali pula mempunyai nilai 
lebih jauh, baik dari segi waktu mau pun lingkup geografis.
   
   
  Apakah gerangan itu? Apabila merenungkannya kembali, maka saya melihat adanya 
hal-hal berikut:
   
   
  1.  Semangat bertarung:
   
  Seperti diketahui, para pendiri koperasi adalah mereka yang mencari suaka 
politik di Perancis dan jumlahnya tidak banyak dibandingkan dengan yang ada di 
Negeri Belanda, Jerman atau Skandinavia. Mereka berasal dari berbagai negeri 
dengan latarbelakang profesi berbeda-beda dan sama sekali tak ada kaitannya 
dengan usaha restoran. Ada yang wartawan, ada yang penulis, ada guru di 
universitas, ada yang dokter bedah, insinyur kapal , listrik dan lain-lain... 
   
   
  Mereka tidak ingin tergantung pada belas kasihan pemerintah Perancis.Tidak 
juga ingin tergantung pada bantuan sosial yang terbatas waktu dan jumlahnya. 
Karena itu mereka dipaksa untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Sebagai suaka 
politik, mereka tidak mempunyai uang untuk berusaha. Yang mereka punya hanyalah 
ide. Ide inilah yang mereka jual untuk mendapatkan modal awal berusaha. 
Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Gunawan Wiradi dalam catatan kesannya 
ketika berkunjung ke koperasi: "For a fighting idea there is no journey end" 
atau  jika menggunakan kata-kata filosof  Perancis Diderot "cogito ergo sum" 
[karena berpikir membuat diriku ada]. 
   
  Keadaan memaksa orang-orang pencari suaka politik sebagai akibat perobahan 
politik di Indonesia, untuk bertarung  guna survive secara berharga diri dan 
bermartabat. Membela kemanusiaan diri sendiri. Bisa menatap orang lain lurus 
pada mata dan bukan sebagai pengemis belaskasihan. Keadaan melahirkan ide dan 
semangat tarung. Keadaan bukan hanya membuat mereka "mencoba tidak menyerah" 
tapi "tidak boleh menyerah". Saya melihat ada perbedaan besar antara "mencoba 
tidak menyerah" dan "tidak boleh menyerah".  Dua kalimat ini mengandung dua 
pandangan hidup mendasar. Para pencari suaka politik di Perancis yang kemudian 
mendirikan Koperasi Restoran Indonesia bukan penganut ide "mencoba tidak 
menyerah" tapi "tidak boleh menyerah". Menolak nasib dan fatalisme. Yang jika 
menggunakan ungkapan manusia Dayak adalah hidup sebagai "rengan tingang nyanak 
jata" [anak enggang putera-puteri naga] sejalan dengan pandangan Diderot di 
atas. [Jika demikian, mengapa kita ternganga-nganga melihat
 Barat melulu, sementara kita pun punya logika yang tak terlalu ketinggalan 
jika kita mengenalnya! Apakah gejala ini bukannya gejala rasa rendah diri 
sambil menyebut diri manusia mereka dan putera-puteri Indonesia? Tidakkah 
gejala begini memperlihatkan bahwa sambil menyebut diri putera-puteri bangsa 
dan negeri merdeka tapi pada kenyataannya ,kita asing dari negeri dan bangsa 
sendiri  sekali pun misalnya kita hidup di negeri itu sendiri, dengan 
mentalitas anak dan bangsa terjajah?]. 
   
   
  Bertarung sesuai konsep "rengan tingang nyanak jata" untuk memanusiawikan 
diri, manusia, kehidupan dan masyarakat, membela martabat diri, terkesan padaku 
sampai hari ini, merupakan salah nilai dasar yang terdapat dibalik pembangunan 
Koperasi Restoran Indonesia di Paris. Semangat ini agaknhya diresapi oleh semua 
anggota Koperasi sampai kepada angkatan ketiga  yang mengelolanya sekarang. 
Dengan semangat ini, para anggota Koperasi tidak segan menolak melayani bahkan 
mengusir tamu yang mereka pandang menyentuh martabat kemanusiaan dan hitam di 
atas putih tercantum dalam 10 etika bagi  para tamu Koperasi.  Dari apa yang 
saya amati langsung, nampak bahwa semangat tarung dan martabat diri, baik 
sebagai individu mau pun sebagai bangsa sampai sekarang. Koperasi oleh para 
anggota dirasakan sebagai diri mereka sendiri sekaligus sebagai pewujudan 
bangsa di tengah pergaulan antar bangsa di sini. Ketika menghadapi para tamu 
dari berbagai negeri, tanpa kompleks, bahkan penuh percaya dan
 harga diri, mereka merasakan diri mereka mewakili  bangsa dan negerinya. 
   
   
  Harga diri, semangat tarung, jika kurenungi ulang, tentulah bukan harga diri 
dan semangat tarung membuta dan asal-asalan. Semangat tarung dan martabat diri, 
kukira tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai manusiawi dan di sini 
tertuang-ungkap  dalam kata-kata "SCOP FRATENRNITE RESTAURANT INDONESIA" serta 
pemajangan Bendera Merah Putih dan lambang Garuda di tembok Koperasi. 
   
   
  Pertanyaan kemudian muncul pada diri saya, bagaimana tanahair kita hari ini  
dilihat dari  semangat tarung dan martabat diri manusiawi?  Apakah kita bisa 
disebut bangsa dan negeri yang bermartabat manusiawi? Ataukah masih menjadi 
bangsa dan negeri koeli di antara koeli yang bermentalitas koeli? Sekedar 
pertanyaan tanpa keraguan bahwa Indonesia masih merupakan negeri di mana kita 
tetap bisa berharap.
   
   
  Paris, November 2007
  -----------------------------
  JJ. Kusni, salah seorang pendiri Le SCOP Fraternité  Restaurant Indonesia, 
Paris.
   
   
  [Bersambung.....]

       
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke