-----Original Message-----
From: sangumang kusni [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, November 18, 2007 8:23 PM
To: kmnu2000; wanita-muslimah; ppi india
Subject: [kmnu2000] seperempat abad kemudian [1]
 
SETELAH SEPEREMPAT ABAD


Oleh JJ. Kusni


Desember tahun 2007 ini, Koperasi Restoran Indonesia [SCOP Fraternité], Paris, 
genap berusia seperempat abad. Barangkali dari segi bisnis, untuk suatu usaha 
produktif, apalagi didirikan dan dikembangkan oleh orang-orang yang tadinya 
tidak mempunyai latarbelakang bisnis, bisa bertahan dan berkembangnya suatu 
kegiatan jenis begini, bukanlah hal sederhana. Riwayat apa-bagaimana serta 
lika-liku usaha produktif ini lahir dan berkembang, bisa dibaca dalam buku JJ. 
Kusni "Membela Martabat Diri Dan Indonesia. Koperasi Restoran Indonesia di 
Paris" [ Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005], buku yang oleh Koperasi dipandang 
sebagai buku standar tentang Koperasi Restoran Indonesia Paris. Ia pun bisa 
diketahui melalui filem yang dibuat oleh Dhany Agustinus, dosen Fakultas Seni 
Perfileman dari Institut Kesenian Jakarta [IKJ], yang sekarang melanjutkan 
studi S2nya di Paris, pekerja filem yang pernah melakukan studi di akademi 
filem terkemuka Eropa di Paris, Fimes.


Kata-kata Goenawan Mohamad yang tercatat di buku tamu koperasi di antara sekian 
banyak kesan para tamu, barangkali bisa merumuskan menjawab pertanyaan tentang 
arti Koperasi Restoran Indonesia di Paris ini. Goenawan Mohamad dalam buku tamu 
koperasi menulis antara lain, bahwa: "Sejarah Indonesia tercatat di sini dengan 
kerinduan, kesedihan, tapi njuga kehangatan" atau dalam kata-kata Yuli Mumpuni, 
mantan AtasePers KBRI di Paris:"RI [Restoran Indonesia] , benar-benar DUTA 
BANGSA". Jika dilihat dari konteks sejarahnya, barangkali Koperas Restaurant 
Indonesia Paris pada masa Orba, bisa disebut sebagai "Indonesia yang lain" [the 
other Indonesia] untuk memberi varian kepada kata-kata spanduk orang-orang 
Mindanao Filipina dan ucapan warga Conakry [Afrika], ketika menyambut kunjungan 
Soeharto sebagai Presiden Orba saat berkunjung ke negeri-negeri tersebut. Atau 
jika meminjam istilah orang-orang Perancis yang setia pada Koperasi, 
"restaurant pas commes les autres" [restoran
yang lain dari yang lain].


Pada saat memperingati usia seperempat abad usaha produktif koperatif ini, 
sebagai salah seorang pendirinya, saya ingin melihat ulang seperangkat nilai 
yang 
tersimpan dibaliknya. Seperangkat nilai ini, barangkali mempunyai arti lebih 
hakiki dari perujudan fisik sebuah restoran. Barangkali pula mempunyai nilai 
lebih jauh, baik dari segi waktu mau pun lingkup geografis.


Apakah gerangan itu? Apabila merenungkannya kembali, maka saya melihat adanya 
hal-hal berikut:


1. Semangat bertarung:

Seperti diketahui, para pendiri koperasi adalah mereka yang mencari suaka 
politik di Perancis dan jumlahnya tidak banyak dibandingkan dengan yang ada di 
Negeri Belanda, Jerman atau Skandinavia. Mereka berasal dari berbagai negeri 
dengan latarbelakang profesi berbeda-beda dan sama sekali tak ada kaitannya 
dengan usaha restoran. Ada yang wartawan, ada yang penulis, ada guru di 
universitas, ada yang dokter bedah, insinyur kapal , listrik dan lain-lain... 


Mereka tidak ingin tergantung pada belas kasihan pemerintah Perancis.Tidak juga 
ingin tergantung pada bantuan sosial yang terbatas waktu dan jumlahnya. Karena 
itu mereka dipaksa untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Sebagai suaka politik, 
mereka tidak mempunyai uang untuk berusaha. Yang mereka punya hanyalah ide. Ide 
inilah yang mereka jual untuk mendapatkan modal awal berusaha. Sebagaimana yang 
dikatakan oleh Dr. Gunawan Wiradi dalam catatan kesannya ketika berkunjung ke 
koperasi: "For a fighting idea there is no journey end" atau jika menggunakan 
kata-kata filosof Perancis Diderot "cogito ergo sum" [karena berpikir membuat 
diriku ada]. 

Keadaan memaksa orang-orang pencari suaka politik sebagai akibat perobahan 
politik di Indonesia, untuk bertarung guna survive secara berharga diri dan 
bermartabat. Membela kemanusiaan diri sendiri. Bisa menatap orang lain lurus 
pada mata dan bukan sebagai pengemis belaskasihan. Keadaan melahirkan ide dan 
semangat tarung. Keadaan bukan hanya membuat mereka "mencoba tidak menyerah" 
tapi "tidak boleh menyerah". Saya melihat ada perbedaan besar antara "mencoba 
tidak menyerah" dan "tidak boleh menyerah". Dua kalimat ini mengandung dua 
pandangan hidup mendasar. Para pencari suaka politik di Perancis yang kemudian 
mendirikan Koperasi Restoran Indonesia bukan penganut ide "mencoba tidak 
menyerah" tapi "tidak boleh menyerah". Menolak nasib dan fatalisme. Yang jika 
menggunakan ungkapan manusia Dayak adalah hidup sebagai "rengan tingang nyanak 
jata" [anak enggang putera-puteri naga] sejalan dengan pandangan Diderot di 
atas. [Jika demikian, mengapa kita ternganga-nganga melihat
Barat melulu, sementara kita pun punya logika yang tak terlalu ketinggalan jika 
kita mengenalnya! Apakah gejala ini bukannya gejala rasa rendah diri sambil 
menyebut diri manusia mereka dan putera-puteri Indonesia? Tidakkah gejala 
begini memperlihatkan bahwa sambil menyebut diri putera-puteri bangsa dan 
negeri merdeka tapi pada kenyataannya ,kita asing dari negeri dan bangsa 
sendiri sekali pun misalnya kita hidup di negeri itu sendiri, dengan mentalitas 
anak dan bangsa terjajah?]. 


Bertarung sesuai konsep "rengan tingang nyanak jata" untuk memanusiawikan diri, 
manusia, kehidupan dan masyarakat, membela martabat diri, terkesan padaku 
sampai hari ini, merupakan salah nilai dasar yang terdapat dibalik pembangunan 
Koperasi Restoran Indonesia di Paris. Semangat ini agaknhya diresapi oleh semua 
anggota Koperasi sampai kepada angkatan ketiga yang mengelolanya sekarang. 
Dengan semangat ini, para anggota Koperasi tidak segan menolak melayani bahkan 
mengusir tamu yang mereka pandang menyentuh martabat kemanusiaan dan hitam di 
atas putih tercantum dalam 10 etika bagi para tamu Koperasi. Dari apa yang saya 
amati langsung, nampak bahwa semangat tarung dan martabat diri, baik sebagai 
individu mau pun sebagai bangsa sampai sekarang. Koperasi oleh para anggota 
dirasakan sebagai diri mereka sendiri sekaligus sebagai pewujudan bangsa di 
tengah pergaulan antar bangsa di sini. Ketika menghadapi para tamu dari 
berbagai negeri, tanpa kompleks, bahkan penuh percaya dan
harga diri, mereka merasakan diri mereka mewakili bangsa dan negerinya. 


Harga diri, semangat tarung, jika kurenungi ulang, tentulah bukan harga diri 
dan semangat tarung membuta dan asal-asalan. Semangat tarung dan martabat diri, 
kukira tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai manusiawi dan di sini 
tertuang-ungkap dalam kata-kata "SCOP FRATENRNITE RESTAURANT INDONESIA" serta 
pemajangan Bendera Merah Putih dan lambang Garuda di tembok Koperasi. 


Pertanyaan kemudian muncul pada diri saya, bagaimana tanahair kita hari ini 
dilihat dari semangat tarung dan martabat diri manusiawi? Apakah kita bisa 
disebut bangsa dan negeri yang bermartabat manusiawi? Ataukah masih menjadi 
bangsa dan negeri koeli di antara koeli yang bermentalitas koeli? Sekedar 
pertanyaan tanpa keraguan bahwa Indonesia masih merupakan negeri di mana kita 
tetap bisa berharap.


Paris, November 2007
-----------------------------
JJ. Kusni, salah seorang pendiri Le SCOP Fraternité Restaurant Indonesia, Paris.


[Bersambung.....]

---------------------------------
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke