http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=313291 Kegagalan (Dakwah) Islam Mainstream
Oleh Pradana Boy Z.T.F. RESPONS Anwar Djaelani atas tulisan saya (16/11/2007) mengundang saya untuk berkomentar lebih jauh. Komentar ini perlu dibuat karena respons Djaelani, ternyata, jauh melampaui apa yang saya maksud. Ada titik-titik kesalahan fundamental dalam memahami gagasan saya. Seperti yang sering terjadi, kritik kelompok konservatif terhadap kelompok liberal sering terjebak pada ambiguitas. Ambiguitas itu bisa dilihat dari kegagalan kaum konservatif membedakan aspek-aspek pemikiran dengan aspek kepribadian ketika mendiskusikan sebuah persoalan. Ketika mengomentari kaidah tafsir sebagai salah satu kriteria kesesatan oleh MUI yang saya persoalkan, misalnya, Djaelani terlihat sangat emosional dan kurang mampu menangkap makna tersirat dari artikel saya. Akibatnya, dia lebih banyak terjebak pada analisis atas contoh-contoh pemikir yang saya ajukan. Djaelani juga mempersoalkan pemilihan nama-nama pemikir yang saya kutip karena dianggap liberal. Padahal, saya juga mengutip nama-nama, seperti Mawlana Abdul Kalam Azad, Sayyid Qutb, dan Quraish Shihab yang sama sekali bukan pemikir liberal. Fokus pada nama-nama inilah yang membuat Djaelani lupa bahwa maksud utama di balik fakta itu adalah untuk menyatakan keragaman metode dan kaidah tafsir. Tidak lebih. Karena itu, terlepas kaidah-kaidah tersebut lahir dari pemikir muslim liberal, moderat, konservatif, atau bahkan nonmuslim, semua merupakan kekayaan keilmuan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu pula, menjadi tidak relevan mempersoalkan muslim dan nonmuslim dalam konteks keilmuan. Sebuah pepatah Arab menyatakan, "aduwwun aqilun khairun min shadiqin jahilin" (musuh yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh). Djaelani juga menunjuk kecenderungan merujuk kepada pemikir nonmuslim tersebut sebagai "proyek" menjauhkan kaum muslimin dari Alquran. Tipikal seperti itu selalu muncul ketika menghadapi lahirnya persoalan-persoalan internal umat Islam. Misalnya, anggapan yang berkembang bahwa lahirnya aliran sesat di Indonesia merupakan agenda intelijen asing untuk memecah belah umat Islam di Indonesia. Saya sama sekali tidak menampik kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Tetapi, sejauh ini, kita tidak pernah dihadapkan pada bukti konkret dan otentik tentang sinyalemen-sinyalemen tersebut. Adalah benar bahwa kita harus tetap waspada dengan kemungkinan tersebut, tetapi mengarahkan bidikan semata-mata pada faktor-faktor eksternal yang belum sepenuhnya empiris seperti itu sama dengan mengajari umat untuk selalu berprasangka buruk dan tidak kritis. Padahal, di luar persoalan itu, patut pula direnungkan apa yang melatarbelakangi lahirnya aliran-aliran sempalan tersebut. Sementara di sisi lain, Islam mainstream di Indonesia sudah cukup kuat dan mapan. Peter Clarke, guru besar sosiologi agama di Kings College, London, menilai lahirnya gerakan-gerakan sempalan itu sebagai protes terhadap hegemoni kelompok agama mainstream. Dengan kata lain, agama-agama mainstream yang sering berkolaborasi dengan kekuatan politik berusaha memonopoli kehidupan agama suatu masyarakat dan memberlakukan sistem kepercayaan dan praktik keagamaan mereka (Clarke, 2006: 17). Jika analisis itu benar, Islam mainstream di Indonesia sepatutnya melakukan introspeksi atas doktrin, kepercayaan, praktik keberagamaan, dan dakwah mereka selama ini yang tidak lagi mampu menarik audiens yang lebih luas. Terlebih, jika dihubungkan dengan fakta bahwa para pengikut aliran sempalan tersebut mayoritas kalangan muda yang sedang mencari jati diri keagamaan, tesis Clarke itu layak dipertimbangkan. Ketika kaum muda Islam lebih banyak lari ke aliran-aliran sempalan dan bukan ke Islam mainstream, hal itu menjadi indikasi awal bahwa Islam mainstream tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan spiritualitas mereka. Akibatnya, terbuka ruang yang cukup lebar bagi lahirnya penafsiran-penafsiran agama yang mandiri. Caranya adalah dengan mendirikan aliran baru yang memberikan janji pemenuhan kebutuhan spiritualitas melalui penawaran metode dan teknik tertentu. Fakta itu mengingatkan kita pada tesis Kuntowijoyo tentang "muslim tanpa masjid", yaitu generasi muslim kontemporer yang tidak lahir dari rahim masjid, tapi dari lingkaran dan komunitas keagamaan mandiri yang ada di sekitar mereka. Mereka muslim dan kadang-kadang mengikuti kegiatan masjid, tetapi "kegiatan masjid yang pasif itu tidak efektif untuk membentuk kepribadian" (Kuntowijoyo, 2001: 130). Akibatnya, mereka lebih nyaman berada dalam lingkaran dan komunitas di luar masjid tersebut. Kuntowijoyo melanjutkan, "Pengetahuan agama mereka tidak didapat dari lembaga-lembaga Islam konvensional… mereka mendapatkannya dari sumber-sumber yang anonim, seperti kaset, CD, VCD, internet, radio, dan televisi." Belajar Islam dari guru-guru anonim itu, kata Kuntowijoyo, ibarat seorang bayi yang mendapatkan susu dari botol dan bukan dari ASI. Maka, jangan terlalu disalahkan ketika bertemu dengan sosok yang dianggap mampu mengayomi, mereka kemudian beralih. Atas dasar itulah, ketimbang sibuk menyalahkan dan menyesatkan aliran-aliran sempalan yang sebenarnya hanya merupakan fenomena musiman tersebut, lebih baik fokus diarahkan pada introspeksi dakwah Islam mainstream. Dengan demikian, mereka bisa hadir kembali sebagai kekuatan penenang, penyejuk, dan penyelamat. Jika tidak, secanggih apa pun kriteria sesat diformulasikan, aliran-aliran itu tidak akan pernah berhenti. Wallahu a’lam bi al-shawwab. Pradana Boy Z.T.F., dosen FAI dan sekretaris PSIF Universitas Muhammadiyah Malang ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
