http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/13/Utama/ut03.htm Mencintai Alam ala Pesantren
Semesta alam manusia menjalin persahabatan Menghampiri menyanyi merawat alam ini Mari bersama rawat dan jaga keindahan alam kita... SP/Adi Marsiela Dua santri Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menyortir sayuran sebelum dikemas dan dikirim ke supermarket- supermarket di Jakarta dan Bandung. Lagu Mencintai Keindahan itu begitu merdu terdengar dinyanyikan Ii (20), santri perempuan Pondok Pesantren Al Ittifaq. Teksnya, ia hafal di luar kepala. Cara menyanyikannya pun berbeda dengan lagu pop biasa, Ii bersama 325 santri lainnya di Al Ittifaq melantunkannya dengan cengkok yang khas, seperti orang mengaji. "Kalau mau menerapkan sesuatu, carilah cara yang mudah dan mengena. Seperti lagu itu," kata penciptanya, KH Fuad Affandi. Pria kelahiran 20 Juni 1948 itu memang memiliki cara yang berbeda dalam mengembangkan pondok pesantren yang mulai ada sejak tahun 1934 yang didirikan oleh KH Mansyur. Kala itu, pesantren tersebut berjalan dengan sistem pendidikan tradisional sebagaimana pesantren umumnya. "Seperti berjalan di tempat. Kesan kumuh dan jorok tidak bisa saya tolak," kata ayah dari lima orang anak itu. Para santri masih dilarang mengenal pejabat pemerintah. Mendengarkan radio dan melihat televisi dianggap tabu. Fuad sendiri hanya bersekolah sampai kelas empat setara sekolah dasar, dan tidak berijazah. Namun, sejak tahun 1970, Fuad yang mulai memimpim Al Ittifaq berupaya sedikit demi sedikit melakukan perubahan. Apabila pola kehidupan pesantren masih seperti itu, ungkapnya, masyarakat setempat dan santri tidak akan maju. Berbekal modal itu, ia berupaya mengangkat harkat santri dan masyarakat petani sekitar. Ia memadukan pendidikan pesantren dengan kegiatan agribisnis. Alasannya sederhana saja, kebanyakan santri itu berasal dari daerah dan mereka haruslah memiliki kemampuan untuk "bertahan hidup" ketika kembali ke daerah asalnya. "Saya dulu pernah diancam golok waktu mau memberdayakan para santri," ia mengenang. Pestisida Nabati Fuad berpendapat, sumber daya alam di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, yang berjarak sekitar 50 kilometer sebelah selatan Kota Bandung, tempat pondok pesantren itu berdiri, tidak akan bisa memberikan nilai tambah kecuali masyarakat ikut menjaganya. Salah satu upayanya dengan mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Para santri dan masyarakat di sana harus menggunakan pupuk dan pestisida organik. "Pakai bahan-bahan yang ada saja," katanya. Untuk pestisida, Fuad mengembangkan formula pestisida nabati yang berbahan baku tanaman alami. Ramuan itu, ia sebut ciknabat (cikur nabati) dengan bahan dasar cikur atau kencur, dan bawang putih. Selain itu masih ada innabat (insektisida nabati) yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temu lawak, dan air. "Ada juga sinabat (sirsak nabati) yang berasal dari biji sirsak dan daun arpuse. Fungsinya mengusir hama jenis serangga tanpa meninggalkan residu, sekaligus dapat menekan tingginya residu pengaruh pestisida buatan pabrik yang merusak struktur serta sifat biologis tanah," pria yang akrab dipanggil Uwa Haji itu menjelaskan. Formula lain yang dikembangkannya adalah betapur (campuran betadin dan kapur). Campuran itu sangat mujarab untuk menangkal sekaligus menyembuhkan sayuran dari serangan penyebab penyakit Phytophthora infestans yang sering menjangkiti tanaman kentang, serta penyebab penyakit Alternaria pori yang menyerang tanaman bawang daun. Kedua penyakit itu lebih dikenal penyakit busuk daun dan batang. Bahkan, nematoda golden yang sering menyerang tanaman kentang dan hingga kini belum didapat obat pembasminya, bisa diantisipasi dengan pestisida itu. "Kalau sayuran yang kita hasilkan itu menggunakan pestisida buatan bisa merugikan kesehatan. Bisa-bisa ada yang kena kanker nantinya," tuturnya. Fuad mengenang, dahulu masyarakat sempat tidak mau menggunakan pestisida alami yang diperkenalkannya. Mereka tidak akan percaya bila belum ada bukti. "Namun, setelah diujicobakan dan ternyata berhasil, baru mereka paham dan mau melaksanakannya," ia berkisah. Atas pemikirannya, sejak tahun 1995 pemerintah menganugerahkan Kalpataru untuknya di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Cara unik lainnya yang pernah dia terapkan adalah menciptakan pupuk organik nabati yang dikenal dengan nama MFA (Mikro Fermentasi Alami). Kala itu, ia meminta para santrinya untuk mengumpulkan air bekas kumurnya dalam satu wadah besar. Air bekas kumur itu dicampurnya dengan kulit pisang serta daun kirinyuh dan dedak, kemudian diaduk dengan sampah, kotoran sapi atau domba. Bakteri hasil kumur para santri itu ternyata bisa mempercepat proses fermentasi untuk pembusukan sampah. Dari situ bisa didapat pupuk organik yang bisa menyuburkan tanah sekaligus bisa memperbaiki struktur, tekstur, dan sifat biologis tanah dan memperbanyak unsur hara tanah. Mandiri Pola hidup ramah lingkungan juga terungkap saat SP menyambangi Al Ittifaq. Kegiatan masak para santri ternyata tidak menggunakan bahan bakar dari kayu bakar atau elpiji. Mereka menggunakan biogas, hasil kotoran sapi yang memang ditampung ke dalam wadah- wadah. Gas yang dihasilkan dari kotoran itu kemudian disalurkan melalui pipa ke dapur santri. Dalam bidang agrobisnis, Fuad juga berhasil memproduksi sayuran yang mencapai sedikitnya 3,5 ton per hari. Macam-macam sayuran itu kemudian disalurkan untuk pasar swalayan besar di Jakarta, yaitu Hero, Makro, dan Giant. Untuk wilayah Bandung, seluruh pasar swalayan menjadi langganannya, seperti Yogya, Matahari, dan Superindo. Produksi tersebut diperoleh dari lahan pesantren sebanyak satu ton dan sisanya dari lahan 400 warga sekitar dengan produk terdiri dari 26 sayur dan buah seperti tomat, wortel, bawang daun, dan selada. Untuk memanfaatkan limbah sayur yang tak layak dijual, pesantren juga mengembangkan peternakan. Sayuran kelas satu dijual untuk pasar swalayan, sayuran kelas dua dijual ke perumahan-perumahan dengan menggunakan sepeda motor, sedangkan sayuran kelas tiga untuk dikonsumsi sendiri. "Yang keempat buat pakan ternak, sehingga semua hasil produksi tidak ada yang mubazir," ujar Fuad. Awalnya, sebelum mengembangkan koperasi pesantren, lahan pertanian lebih banyak dikuasai swasta dari luar daerah Rancabali. Namun, koperasi telah membuat petani menjadi mandiri. Para santri sendiri tetap dapat mengikuti pendidikan secara normal. Pulang sekolah mereka mulai bekerja dan malamnya kembali belajar. Buat Fuad, pesantren memang bukan sekadar tempat memperdalam ilmu agama. Bertani baginya merupakan ilmu. Lulusan sekolah dasar itu mencontohkan saat ia menerima tawaran pemerintah untuk mengenyam ilmu bercocok tanam di Universitas Wageningen, Belanda, pada 1987. "Saya mensyukuri ilmu bertambah. Namun, saya melihat sebuah kenyataan. Tak ada tanah yang sesubur Indonesia, tapi tak ada orang yang semalas bangsa ini," ujarnya. Salah satu inovasi terakhir yang berhasil dikembangkannya ialah cara mendaur ulang pembalut wanita. Barang yang satu itu sekian lama menjadi sampah yang tidak bisa diatasi di pondok pesantren. Namun, ia terus tergerak untuk memikirkan jalan keluarnya. Ia kemudian mencoba untuk menggerakkan santri perempuan untuk tidak membuang pembalut bekas. "Pembalut itu kemudian dibersihkan. Begitu bersih, dijalin menjadi keset. Jadi tidak ada lagi sampah di sini," katanya sembari tertawa. Ketekunan itu berbuah manis, akhirnya. Pengakuan terhadap Fuad dalam memberdayakan santri dan masyarakat sekitar lingkungan Pondok Pesantren Al Ittifaq bertambah. Pekan lalu ia meraih Danamon Award untuk kategori organisasi. [SP/Adi Marsiela]
