Syariat Demokrasi
LURAH milih sendiri. Bupati milih sendiri. Gubernur milih sendiri. Presiden milih sendiri. Untuk wakil di legislatif sebagai pembuat aturan, baik tingkat kabupaten maupun nasional, kita juga milih sendiri. Itulah demokrasi. Sistem pemerintahan prasmanan. Jalan yang kita pilih setelah kekuasaan Pak Harto digiling reformasi. Kini muncul pertanyaan, kenapa hidup kita justru jadi tambah susah? Apakah demokrasi pilihan yang salah? Pertanyaan ini terus menggoda kita. Jangankan kita, para aktor politik nasional pun tak bisa menjawab. Muladi yang gubernur Lemhanas juga bingung. Padahal, dia pernah jadi menteri, rektor, sekaligus guru besar Undip, perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah. Gelarnya profesor doktor, masih ada SH-nya pula. Karena bingung, dia lontarkan gagasan gubernur sebaiknya kembali dipilih presiden, kayak zaman Pak Harto itu. Tentu ini membuat orang tambah bingung. Gagasan model begini niscaya tak akan muncul di masyarakat Iraq. Padahal, mereka lebih menderita daripada kita. Soalnya, waktu dipimpin Saddam Hussein, yang kata Amerika diktator kejam, otoriter, dan ganas, rakyatnya bisa tenang main di taman, juga bisa baca buku apa saja di perpustakaan nasionalnya yang superlengkap. Tapi setelah Saddam disikat AS dan sekutunya, dan Iraq jadi negara demokrasi, lengkap dengan pemilunya seperti kita, rakyatnya malah jadi tidak berani ke luar rumah. Apalagi bersantai di taman atau berenang di Sungai Tigris yang terkenal itu. *** Demokrasi memang seperti kekasih yang kita rindukan. Kekasih yang kalau kita kawini bisa memberikan kebahagiaan lahir batin. Memabukkan. Sehingga kita lupa kalau kabahagiaan itu hanya bisa dicukupi kalau kebutuhan lahir, seperti sandang, pangan, dan papan ada. Untuk itu, harus ada penghasilan. Sedangkan kebahagiaan batin sumbernya dari Gusti Allah. Kalau batin kita tidak memantulkan wajah pencipta-Nya, kalbu kita tidak dipenuhi rahman dan rahim, kasih dan sayang, sifat Allah yang paling didambakan para sufi, bagaimana mungkin ada kebahagiaan di batin kita? Karena itu, kalau demokrasi belum membawa berkah seperti sekarang, padahal demokrasi adalah cara paling masuk akal untuk menyejahterakan rakyat, jangan tanya kepada politisi. Jangan tanya profesor doktor. Tanya kepada kiai. Tentu kiai yang paham ayat-ayat Allah yang lahir maupun batin. Kalau bingung mencarinya, datang saja ke Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin di Rembang, Jawa Tengah. Benar, itu memang pondok KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus. Tapi, tidak perlu ke Gus Mus untuk urusan beginian. Cukup KH Yahya Staquf (Gus Yahya), keponakannya. Mantan juru bicara presiden (Gus Dur) itu sekarang memang naik pangkat. Jadi "juru bicara" Rasulullah. Tidak rumit dan tidak menimbulkan kontroversi karena yang disampaikan semata-mata pesan-pesan Kanjeng Nabi yang sudah teruji kebenarannya selama ratusan tahun. Soal demokrasi pilih-memilih yang malah membuat kita geleng kepala, kata Gus Yahya, karena demokrasi kita tidak dijalankan sesuai syariatnya. Syariat demokrasi itu vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan. Maksudnya, ketika kita berada di dalam TPS (tempat pemungutan suara), kita harus menempatkan diri sebagai waliyullah, wakil Tuhan. Maka, ketika memilih lurah, bupati, gubernur, presiden, atau anggota legislatif, harus yang juga memiliki sifat-sifat Tuhan. Rahman dan rahim. Ini sifat generik seorang pemimpin. Makanya, Gus Yahya lalu mengutip hadis innamal a'malu bin niyyah yang terkenal itu. Segala sesuatu dinilai dari niatnya dan Allah niscaya akan mengabulkan sesuai niatnya. Misalnya, kalau niat kita salat atau puasa agar lingkungan mengira kita saleh, insya Allah Tuhan akan mengabulkan. Kita bisa dikira orang saleh oleh masyarakat sekeliling. Kalau sudah begini, jangan lalu berharap dapat pahala karena niatnya toh bukan cari pahala. Gus Yahya ternyata juga bisa menghubungkan innamal a'malu.. dengan pemilu. Sebab, menurut survei spiritualnya, ketika berada di bilik TPS, rata-rata kita niatnya hanya memilih bupati, gubernur, atau presiden. Sebagian di antaranya nyoblos dengan niat dapat uang Rp 50 ribu-Rp 100 ribu, atau kaus dan berbagai jenis upeti politik lainnya. Nyaris tidak ada yang dari rumah berniat memilih pemimpinÂ…! Dan memang, Allah kemudian mengabulkan kita. Yang ke TPS niatnya nyari bupati, dikasih bupati, yang niatnya memilih gubernur, dapat gubernur, tapi yang ke TPS tergiur janji-janji, ya dapatnya juga janji. Yang memilih karena ingin yang ganteng, ya dapat yang ganteng. Nah, kalau sudah begini, kata Gus Yahya, menjadi tidak rasional kalau kemudian kita menuntut kesejahteraan. "Lha, wong niatnya dulu di TPS bukan memilih pemimpin, kok kemudian nuntut macam-macamÂ…," ujarnya. Jadi, katanya, kalau kita ke TPS berniat mencari pemimpin, insya Allah Tuhan akan mengirimi kita pemimpin. Bupati, gubernur, presiden, itu belum tentu pemimpin. Itu pangkat. Pekerjaannya bupati, gubernur, presiden, juga para menteri, sudah ditentukan. Ada aturan mainnya. Tapi kalau pemimpin, segala tindakan dan kebijakannya akan terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya (tasharruf al-imam ala al-ra'iyyah manuhunibi maslahah). Memang, pemimpin di kabupaten bisa saja bupati, atau gubernur di tingkat provinsi. Tapi, tidak bisa adagium itu dibalik. Sebab, bupati, gubernur, bahkan presiden, belum tentu pemimpin bagi rakyat di kawasan itu. Kecuali dia berbuat sekuat tenaga dan pikirannya sepenuhnya tercurah bagi kemaslahatan umat. Jadi, jangan salahkan pemilu bila kita tak kunjung sejahtera. Jangan sangsi kepada demokrasi bila penderitaan kita tak kunjung teratasi. Menjalani kehidupan demokrasi memang tidak gampang. Karena demokrasi juga ada syariatnya. Selain harus mengingat innamal a'malu bin niyyah, juga harus ada kebebasan individu dan akuntabilitas. Dua hal yang langka di negeri kita. Mudah-mudahan pada pemilu ke depan nanti, fatwa demokrasi KH Yahya Staquf ini bisa menjadi acuan kita bersama. Oleh Adhie M. Massardi Mantan Jubir Presiden Abdurrahman Wahid [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
