Salam,
Amran Nasution menulis tanggapan atas "posting" saya
yang menanggapi tulisan dia di majalah Hidayatullah
mengenai gejala sesat-menyesatkan di Indonesia. Saya
senang sekali, email saya itu akhirnya sampai juga ke
Sdr. Amran. Saya mendapatkan tanggapan balik dia
melalui email seorang teman.
Saya tak tahu apakah tanggapan saya atas tulisan Amran
yang mengandung banyak kerancuan di Hidayatullah itu
juga dimuat di majalah tersebut.
Pertama-tama, dia mengoreksi sejumlah salah ketik
dalam tanggapan saya. Sekedar informasi, tanggapan itu
saya tulis sebagai sebuah posting di milis JIL, KMNU
dan Forum Pambaca Kompas. Saya memang tak pernah
mengoreksi posting-posting yang saya tulis di milis.
Begitu selesai, langsung saya kirim, sebab toh saya
bukan menulis sebuah kolom atau artikel di majalah
atau koran. Kalau saya menulis kolom, tentu saya akan
"memplototi" tulisan saya sebelum saya kirim.
Anyway, terima kasih atas "kecermatan" Sdr. Amran
untuk meneliti titik-koma dalam surat tanggapan saya.
Saya juga menyampaikan terima kasih pada Sdr. Amran
yang mengoreksi data saya tentang Mitt Romney. Dia
benar, Romney menjadi guberner negara bagian
Massachusetts hanya satu periode, bukan dua periode
seperti saya sebutkan.
Selebihnya, tanggapan Amran masih mengandung kerancuan
yang amat mengherankan. Saya tak bisa menanggapi
satu-persatu seluruh hal yang dia kemukakan dalam
tanggapannya itu. Tetapi berikut ini adalah beberapa
catatan saya:
(1) Amran masih tak mampu menangkap "point" yang
hendak saya sampaikan. Saya sama sekali tak menolak
sejarah buruk agama Kristen dan perlakuan mereka atas
sekte-sekte dan agama-agama lain di Eropa, juga di
Amerika. Fakta-fakta mengenai hal ini ditulis dengan
cemerlang dan baik sekali oleh sarjana Barat sendiri,
sebelum umat Islam seperti Amran Nasution "nyinyir"
mengutipnya untuk menyerang Barat.
Kritik terhadap Barat seperti ditulis oleh para
penulis "populer" seperti Amran dan dimuat di
majalah-majalah "Islamis" seperti Hidayatullah,
Sabili, Media Dakwah, Al-Wa'i, dan lusinan lembaran
Jumat yang berseliweran setiap Jumat di masjid-masjid
Jakarta, sudah ditulis dengan lebih baik oleh sarjana
Barat sendiri, dan dengan obyektivitas yang jauh lebih
bisa dipercaya. Jadi, saya tak perlu membaca tulisan
Amran Nasution hanya untuk mengetahui sejarah kelam
kebebasan beragama di negeri-negeri Barat.
Sekali lagi, saya tak menolak adanya sejarah kelam
itu, dan saya sudah mengemukakannya dalam tanggapan
saya yang lalu. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa
Barat belajar dari sejarah kelam itu. Sistem
sekularisasi yang dipraktekkan di Barat saat ini
adalah buah dari pelajaran masa kelam di masa lampau
tersebut. Sistem inilah yang menjamin kebebasan agama
di Eropa Barat dan Amerika Serikat saat ini.
Sudah tentu, negeri-negeri Barat bukanlah "sorga" di
atas bumi. Masih banyak diskriminasi rasial di
Amerika, dan masalah-masalah lain menyangkut kebebasan
beragama, terutama setelah peristiwa 11/9. Tetapi,
secara keseluruhan, situasi kebebasan beragama yang
dinikmati umat Islam di Eropa Barat dan Amerika
Serikat jauh lebih baik ketimbang di dunia Islam
sendiri.
Salah satu cara sederhana untuk melihat masalah ini
adalah soal kebebasan menyebarkan dan melaksanakan
keyakinan. Seluruh mazhab dan aliran Islam yang ada di
dunia Islam bisa berkembang dengan bebas di
negeri-negeri Barat, termasuk aliran yang di dunia
Islam sendiri dilarang, digrebek, dan disatroni oleh,
meminjam istilah Buya Syafii Maarif (mantan Ketua PP
Muhammadiyah), "preman berjubah".
Jamaah Ahmadiyah selama bertahun-tahun bermarkas di
Inggris, sementara jamaah ini di-"kuyo-kuyo" di
seluruh dunia Islam. Gerakan Islam radikal yang sangat
"sengit" pada demokrasi sekuler, Hizbut Tahrir (HT),
juga bermarkas di Inggris selama bertahun-tahun,
sebelum akhirnya "diusir" karena dianggap terlibat
dalam pemboman di London, 7 Juli 2005. HT sendiri
mengalami sejumlah kesulitan dan dimusuhi di
negeri-negeri Islam. Jamaah Tabligh yang konservatif
itu juga berkembang luas dan bebas di Inggris. Bahkan
di Inggris pula bermarkas suatu lembaga yang
menyebarkan gagasan-gagasan "radikal" Abul A'la
Maududi, tokoh pendiri partai "fundamentalis",
Jamaat-i Islam-i dari Pakistan, yakni Islamic
Foundation.
Kebebasan beragama di Inggris diberikan secara relatif
penuh kepada umat Islam, dan itulah yang dipakai oleh
umat Islam untuk mengembangkan segala bentuk ide dan
ideologi Islam, dari yang liberal, moderat,
konservatif, mistik, radikal, dan fundamentalis.
Tentu, saya amat menyayangkan umat Islam di Inggris
karena memakai kebebasan ini untuk menyebarkan gagasan
Islam yang radikal, benci Barat, dan antidemokrasi,
pluralisme, dan kesetaraan gender. Mereka hidup dari
"roti" kebebasan agama dan demokrasi di Barat, seraya
memaki-maki ide kebebasan dan demokrasi itu sendiri
sebagai ide sekuler dan "kafir".
Secara umum, umat Islam menikmati kebebasan beragama
yang sangat baik di Eropa. Inilah yang menjelaskan
kenapa ribuan umat Islam hijrah ke Eropa. Jumlah
pemeluk Islam juga berkembang sangat cepat di Eropa
dan Amerika, begitu rupa sehingga mereka nyaris atau
malah sudah "menyalip" pemeluk agama Yahudi. Jika umat
Islam "ditindas" di dua benua itu, sudah tentu mereka
tak akan berbondong-bondong ke sana. Saya tentu tak
menolak bahwa motif mereka pertama untuk pindah adalah
untuk mencari "sesuap nasi". Tetapi, selain faktor
ekonomi, mereka juga mencari kebebasan yang jarang
mereka temukan di negeri Islam sendiri.
Sekarang ini, masalah pembangunan masjid di Eropa
menjadi isu besar. Kontroversi pembangunan masjid di
Cologne, Jerman, adalah salah satu contoh yang baik.
Inilah yang dijadikan sasaran kritik para penulis
seperti Amran dan orang-orang yang sepikiran yang
biasa menulis di Hidayatullah dan Sabili, bahwa Barat
tak konsisten menerapkan prinsip kebebasan beragama.
Saya sepakat atas kritik-kritik seperti dikemukakan
oleh Amran itu. Barat sendiri jelas masih menyimpan
"prejudice" yang mendalam terhadap Islam (Baca buku
Norman Daniel yang sudah klasik mengenai ini, "Islam
and the West: the Making of an Image"). Tetapi,
masalah pembangunan masjid di Eropa saat ini sangat
kompleks sekali. Salah satu masalah yang juga harus
menjadi perhatian kalangan Islam sendiri adalah apakah
masjid-masjid ini nanti akan menjadi sarang
konservatisme yang menyebarkan kebencian pada Barat.
Sebagaimana kita tahu, di mana-mana di dunia Islam,
masjid kerapkali menjadi sarang konservatisme dan
ajang untuk menyebarkan kebencian kepada
kelompok-kelompok yang berbeda pendapat. Ini terjadi
di Jakarta, di Arab, dan tak mustahil juga di Barat.
Yang hendak mengetahui dinamika gerakan Islam melalui
masjid ini, silahkan membaca otobiografi dua pengarang
dari Inggris: Ziauddin Sardar, "Desperately Seeking
Paradise" dan Ed Hussain, "The Islamist". Dua buku itu
memperlihatkan bagaimana sebagian, sekali lagi
sebagian, masjid di Inggris menjadi sarang
fundamentalisme. Masalah ini yang menjadi bahan debat
di Eropa saat ini, dan jarang disorot oleh kalangan
Islam sendiri, apalagi oleh majalah-majalah seperti
Hidayatullah dan Sabili.
(2) Sekarang soal Mormon dan keadaan di Amerika
sendiri. Di sini, Sdr. Amran memperlihatkan kerancuan
berpikir yang mengherankan. Sejarah sekte Mormon yang
berdiri sejak abad 19 itu memang sejarah yang
"berdarah-darah". Itu sudah menjadi pengetahuan umum
di Amerika. Sudah tentu kelompok ini masih dianggap
sesat oleh kalangan Kristen evangelis atau bahkan
"mainstream".
Kedudukan agama Mormon di Amerika persis seperti
Ahmadiyah dalam Islam. Kalangan Kristen fundamentalis
menganggap kelompok ini bukan lagi berada di dalam
Kristen. Bill Keller, seorang evangelis pengelola
situs Liveprayer.com, baru-baru ini melontarkan
komentar yang keras sekali mengenai Mitt Romney,
"Memilih Romney sama dengan memilih setan". Romney
akhir-akhir ini menjadi kontroversi hebat di Amerika
setelah dia menyampaikan pidato "Faith in America",
karena dalam pidato itu dia menyebut dengan tegas kata
"Mormon", agama yang dia anut, agama yang di mata
orang Kristen evangelis dianggap sesat.
Tetapi, dengan seluruh sejarah kelam ini, Amerika
memungkinkan seorang seperti Romney menjadi gubernur
negara bagian yang liberal, Massachusetts, dan
sekarang menjadi salah satu calon kuat Partai Republik
untuk kursi kepresidenan. Apakah mungkin di dunia
Islam, tarulah di Indonesia sekarang, seorang anggota
Ahmadiyah menjadi menteri agama atau menteri apapun,
misalnya?
Lagi-lagi, yang mempersoalkan keyakinan Romney ini
adalah kalangan agama konservatif dan fundamentalis.
Dengan kata lain, yang "ribut" soal keyakinan Romney
ini adalah kalangan konservatif yang dalam kasus Islam
contoh kongkretnya adalah ya majalah-majalah seperti
Hidayatullah, Sabili, al-Wa'i (milik HTI [Hizbut
Tahrir Indonesia]) itu.
Dan kalangan konservatif inilah yang sekarang menjadi
bahan debat di Amerika saat ini, karena mereka
dianggap membawa-bawa agama dalam politik. Saya senang
sekali Amran membaca buku seperti karangan Kevin
Phillips, "American Theocracy". Persis di sinilah
tantangan yang dihadapi oleh kalangan liberal di
mana-mana: agama merangsek kembali ke sektor politik
dan hendak memaksakan moralitas agama kepada publik.
Dalam konteks Indonesia, inilah yang menjadi sasaran
kritik teman-teman Jaringan Islam Liberal (JIL). Kami
di JIL sama sekali tak menghalangi peran agama dalam
ruang publi; peran agama di sana, menurut saya, sangat
penting sekali. Hanya saja, saat agama masuk ke sektor
publik, dia harus siap sedia dikritik, sebab apa yang
sering disebut sebagai "agama" sebenarnya adalah agama
sebagaimana ditafsirkan oleh kelompok-kelompok
tertentu. Penafsiran adalah produk manusia, dan keran
itu relatif, dan karena itu pula "susceptible to
inquiry".
(4) Amran menyebut kasus penyerangan oleh BATF (badan
pemerintah federal AS yang menangani kepemilikan
senajata api ilegal) atas sekte Ranting David yang
dipimpin oleh David Koresh pada 19 April 1993; dikenal
sebagai "tragedi Waco". Tragedi ini menjadi perdebatan
banyak kalangan di AS, termasuk di dunia akademik.
Yang menarik adalah bahwa Amran menyitir kasus ini.
Sudah tentu dia bukanlah simpatisan Ranting David.
Saya sendiri tak mendalami kasus ini.
Tapi, saat penyerangan atas kelompok ini, ada dugaan
dari pihak pemerintah federal bahwa mereka memiliki
senjata api dalam jumlah yang cukup menimbulkan
"concern" pada pihak keamanan. David Koresh juga
diduga melakukan sejumlah "child abuse", mempraktekkan
poligami yang berlawanan dengan hukum pemerintah AS.
Dengan kata lain, isunya adalah "crime", bukan masalah
kebebasan beragama.
Bedakan hal ini dengan kelompok Ahmadiyah yang
diserang berkali-kali oleh pihak "preman berjubah"
(sekali lagi, ini istilah Buya Syafii Maarif),
sementara pemerintah gagal memberikan perlindungan,
MUI diam saja, padahal kelompok Ahmadiyah tak memiliki
senjata dan bukan merupakan kelompok kekerasan atau
"geng kejahatan".
Anyway, peristiwa Waco ini dikenang di Amerika sebagai
tragedi. Salah satu usaha kalangan akademik untuk
menempatkan kasus ini dalam kerangka yang lebih luas
(bukan sekedar "hitam-putih" soal kepemilikan senjata
api, sebagaimana menjadi perhatian pemerintah federal)
adalah buku karangan James D. Tabor, "Why Waco?:
Cults and the Battle for Religious Freedom in
America".
Sekian, semoga komentar ini bermanfaat. Terima kasih
kepada Bung Amran Nasution yang telah mananggapi
tulisan saya.
Ulil
====
ps. Sekedar "bonus": Amran menyebut Thomas Jefferson
yang memiliki ratusan budak. Tentu ini adalah
"paradoks" yang sudah sering disebut para sarjana yang
menulis mengenai Jefferson. Saya ingin sekali
menanyakan kenapa dia lupa bahwa Nabi Muhammad SAW
juga memiliki sejumlah budak. Apakah Amran melihatnya
sebagai "paradoks" pula? (Saya sendiri sih tidak).
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping