Ini adalah tulisan Amran Nasution yang saya tanggapi
dalam surat terpisah.

========

Yang Sembrono dari Ulil Abshar

Rabu, 05 Desember 2007

Tulisan saya di hidayatullah. com ditanggapi Ulil
dengan judul "Amran dan Beberapa Kekeliruan". "Ayolah
Ulil, tunjukkan di mana kebebasan dan toleransi
Barat?"

Oleh: Amran Nasution *

Ketika masih wartawan, saya menulis sebuah laporan
utama sepulang melakukan liputan di Filipina Selatan.
Pak Amir Daud, Redaktur Pelaksana waktu itu, 1981,
memanggil saya ke mejanya. "Berapa usia Anda?",
katanya. Tentu saya kaget. Untuk apa usia ditanya
kalau masalahnya ada pada tulisan. Tapi saya jawab
melihat ia sangat serius.

"Kalau begitu Anda masih bisa berubah. Mulai sekarang,
berubahlah," ujarnya. Lalu ia menunjuk kesalahan itu.
Ternyata, saya sembarangan meletakkan titik dan koma.
Di mata Pak Amir, saya sembrono.

Ya, sembrono. Itulah yang saya lihat setelah membaca
tulisan Ulil Abshar-Abdalla dari Departmen of Near
Eastern Languages and Civilizations, Harvard
University, yang dimuat di Milist ICRP juga dimuat
dalam kolomnya di situs Jaringan Islam Liberal (JIL),
tanggal 30 November 2007. Ia menanggapi artikel saya,
Dari Moshaddeg Sampai Mount Carmel (www.hidayatullah.
com, 23 dan 24 November 2007).

Ia mengabaikan begitu saja pendapat bahwa sanksi
penistaan agama yang terjadi di Eropa dan Amerika jauh
lebih kejam dan lebih sektarian. Tapi kesemboronon
Ulil tak terbatas titik, koma. Ia malah berbuat
seenaknya dengan fakta, sesuatu yang di kalangan
wartawan ditempatkan pada posisi amat tinggi. Tentu
juga mestinya di kalangan intelektual semacam Ulil.
Bagaimana mungkin dia membuat analisa yang benar,
kalau faktanya salah. Garbage in, garbage out. Yang
masuk sampah, pasti keluarnya sampah.

Berikut saya tunjukkan sampah itu.

Dia menyebut semua sekte, aliran, mazhab, dan
keyakinan bisa berkembang bebas di negeri Barat.
Sebagai contoh ia tunjuk Mormon yang salah satu
pengikutnya, Mitt Romney, pernah menjadi gubernur dua
priode di negara bagian Massachusetts. Romney sekarang
menjadi bakal calon presiden dari Partai Republik.

Saya mulai dari garbage kecil ini. Adalah bohong kalau
dikatakan Romney (nama lengkapnya Willard Mitt Romney,
60 tahun) menjabat gubernur dalam dua priode. Ia cuma
satu priode Gubernur Massachusetts, 2002 – 2006. Pada
1994, eksekutif sukses ini pernah mencalonkan diri
menjadi anggota Senat mewakili Partai Republik, tapi
dikalahkan Edward M.Kennedy (Partai Demokrat).
Penyebab terpenting kekalahannya, ya soal agama
Mormonnya itu (lihat artikel Michael Paulson, the
Boston Globe, 9 November 2002).

Dalam pemilihan gubernur 2002 yang dimenangkannya,
Romney menghadapi Shannon O ' Brien, seorang Katolik.
Untuk diketahui Massachusetts cukup heterogen, banyak
etnik dan agama. Tapi mayoritas penduduknya Katolik
(44%), lalu Kristen 22%, sisanya Atheis, Yahudi,
Buddha, Hindu, Islam, dan Mormon.

Pada masa kampanye kali ini soal Mormonnya tak
ditembaki lawan. Masalahnya, lawan juga sedang grogi
bila agama dibawa-bawa. Isu penyelewengan seksual
oknum pastor dengan anak altar sedang menghangat waktu
itu. Kemudian nama Romney lagi berkibar sebagai
penyelanggara Olimpiade Musim Dingin di Salt Lake
City. Perhelatan akbar itu nyaris gagal karena panitia
dilanda berbagai skandal. Romney muncul sebagai
penyelamat.

Bagaimana peluangnya kini sebagai bakal calon Presiden
Partai Republik? Tipis sekali. Penyebabnya agamanya
itu. Itulah sekarang yang menjadi isu hangat di
sekitar pencalonan Romney. Survei the Wall Street
Journal/NBC, awal November lalu, menunjukkan mayoritas
responden tak bisa menerima seorang Mormon menjadi
Presiden Amerika Serikat. Yang menyatakan bisa hanya
38% (the Washington Post, 28 November 2007). Nah,
benar kan ? Kalau masukan salah analisa salah pula.

Sekarang mengancik ke soal sampah yang lebih serius.
Kata Ulil, Mormon bebas berkembang di Amerika. Dari
mana cerita itu didapatnya? Sejarah menunjukkan banyak
darah berceceran di sekitar eksistensi sekte yang
resminya disebut the Church of Jesus Christ of
Latter-Day Saints.

Pencetus dan pemimpin pertama Mormon adalah Joseph
Smith, lahir di Vermont pada 1805. Smith mengaku
bertemu langsung dengan Tuhan dan Malaikat lalu
mendapat petunjuk untuk menyebarkan ajarannya yang ia
peroleh dari tulisan di piring emas di pegunungan New
York. Tulisan ia terjemahkan selama berbulan-bulan dan
menjadi kitab suci orang Mormon, the Book of Mormon.
Jadi Mormon agama yang lahir di Amerika. Ajarannya
mirip Kristen tapi mengharamkan arak, menghalalkan
poligami.

Tentu Joseph Smith dan pengikutnya tak bisa diterima
masyarakat. Ia dianggap menyebarkan ajaran aneh yang
bid ' ah. Konflik sering terjadi. Mereka terlibat
beberapa perkelahian dengan penduduk Missouri.
Akhirnya, pada 27 Oktober 1838, Gubernur Missouri,
Lilburn Boggs, mengeluarkan perintah memburu kaum
Mormon yang disebut extermination order (perintah
pembasmian). Sekitar 2500 tentara menyerbu
perkampungan Mormon. Sejumlah pengikut Smith terbunuh,
banyak wanita diperkosa. Smith dan beberapa pendetanya
ditangkap. Untuk diketahui, extermination order itu
berlaku 100 tahun lebih sampai dicabut oleh Gubernur
Missouri Christopher Bond di tahun 1976.

Sekian lama ditahan, akhirnya Smith dan kawan-kawan
dibebaskan. Mereka membangun perkampungan di tepi
Sungai Missouri. Lama kelamaan banyak orang baru
bergabung sehingga jumlah jemaah bertambah besar.
Mereka kembali bentrok dengan masyarakat. Joseph
Smith, adiknya Hyrum Smith, dan dua pembantunya
ditangkap. Pada pagi 27 Juni 1844, sekitar 200 massa
mengepung penjara. Mereka bunuh Smith, adik, dan
pembantunya (lihat artikel Jay Lindsay di Associated
Press, 28 Januari 2006).

Sejak itu pengikut Smith kocar-kacir sampai belakangan
datang pemimpin baru, Brigham Young, yang
mengkonsolidasikan mereka. Dan itu tak gampang. Hanya
berkat kegigihan dan keuletan saja mereka bisa
bertahan. Di Massachusetts, misalnya, seperti ditulis
Jay Lindsay, baru di tahun 1960-an, Mormon bisa datang
kembali.

Dengan kisah berdarah-darah ini --sudah ditulis di
banyak buku-- bagaimana Ulil berani mengatakan semua
sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa berkembang
bebas di negara Barat?

Apalagi, dengan gagah berani ia menulis: "Saat ini, di
seluruh negeri Eropa dan Amerika (juga Kanada dan
Australia ) nyaris "mustahil", sekali lagi nyaris
mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte diberangus
atau dirusak propertinya karena membawa ajaran yang
menyimpang."

Rupanya, peristiwa 19 April 1993, ketika FBI
meledakkan dan membakar habis perkampungan Sekte
Cabang David, mengakibatkan kematian David Koresh dan
80-an pengikutnya di Mount Carmel, Waco, Texas, tak
dilihat Ulil sebagai perusakan properti sebuah sekte,
aliran, atau ajaran.

Ilmu sihir apa yang telah menutup mata Ulil sehingga
tak mampu melihat fakta itu? Guna melengkapinya di
sini saya cuplikkan beberapa peristiwa yang relevan,
yang sempat saya kumpulkan:

The New York Times, 7 Maret 2004, menulis, pada hari
Jumat, dua masjid dibakar di Annecy dan Seynod
(Francis). Tak ada korban jiwa. Tapi peristiwa itu
membuat marah kalangan Islam setempat karena tak ada
respons dari pemerintah. Itu sangat kontras dengan
pembakaran sebuah sekolah Yahudi, November sebelumnya.
Ketika itu, hanya beberapa jam kemudian, Menteri Dalam
Negeri Nicolas Sarkozy, langsung meninjau ke lapangan
dan mengomentari peristiwa itu sebagai tindakan rasis.

Esoknya, baru Kantor Presiden mengeluarkan siaran pers
menanggapi pembakaran masjid, mengatakan bahwa
Presiden Chirac sangat terkejut atas serangan dan
dengan keras mengecam aksi yang menjijikkan itu. The
New York Times, 24 Desember 2004, memuat berita sebuah
masjid yang baru selesai dibangun di kota kecil
Usingen, di barat laut Frankfurt (Jerman), telah
terbakar. Menurut polisi, pembakaran dilakukan
seseorang dengan sengaja. Pada bulan lalu, setelah
terjadi pembakaran masjid di Belanda, sebuah botol
berisi minyak tanah dilemparkan seseorang ke sebuah
masjid di dekat Kota Sinsheim, Jerman.

Fakta di atas, sekali lagi, terbatas yang sempat saya
kumpulkan. Saya tak tahu persis sudah berapa banyak
Sinagog – belakangan Masjid – yang dirusak selama ini
di Eropa atau Amerika.

Di dalam buku A Brief History of Blaspemy (The Orwel
Press, 1990), Richard Webster menulis, kebencian orang
Eropa kepada Yahudi yang dikenal sebagai anti-semit,
sesungguhnya punya akar yang dalam. Sekadar contoh,
tulis Webster, di dalam risalahnya, Of the Jews and
Their Lies, pelopor reformasi gereja Martin Luther
menyatakan seluruh orang Yahudi sebagai tamak dan
rakus.

Tapi terutama setelah pembunuhan orang Yahudi oleh
Nazi Jerman selama Perang Dunia II, perlahan-lahan
prasangka dan kebencian terhadap orang Yahudi
berpindah kepada orang Arab dan Islam. Jadi tak usah
heran kalau aksi perusakan Sinagog di Eropa kini
pindah ke Masjid.

Karena itu pula orang Islam di Jerman, Inggris,
Francis, Belanda, dan sejumlah negara Eropa lainnya,
bukan main sulit membangun masjid. Saya punya segepok
kliping koran yang menulis berita itu. Banyak rencana
membangun masjid sampai bertahun-tahun tak bisa
terlaksana. The New York Times, 6 Juli 2007, sampai
menuliskannya di dalam editorial soal sulitnya
pembangunan masjid di Cologne, Jerman, dengan judul,
"Celebrating, Not Hiding".

Di Amerika juga sama. Kelompok Ahmadiyah berencana
membangun masjid dan pusat kebudayaan di atas tanah
seluas 90 ha di kawasan terpencil di Walkersville,
Maryland, sampai sekarang tak kunjung berhasil.
Masyarakat setempat keberatan (The Washington Post, 23
Oktober 2007). Ayolah Ulil, tunjukkan di mana
kebebasan dan toleransi Barat yang Anda cekokkan
kepada teman-teman Anda selama ini? Mereka itu rasis
Ulil. Terlalu banyak fakta sejarah yang tak bisa
dihapus: mulai pemusnahan Indian, perbudakan orang
hitam, pembunuhan dan pengusiran orang China, sampai
sekarang giliran orang Arab dan Islam.

Seolah terlihat hijau

Akhirnya, saya khawatir Ulil melihat Barat seperti
melihat hutan dari jauh: semua terlihat hijau
royo-royo. Padahal bila didekati kelihatan pohon yang
sudah gundul terbakar, tebing yang longsor,
pohon-pohon tumbang ditebang penduduk untuk kayu
bakar, atau sungai yang dicemari bungkus plastik
supermie dan puntung rokok.

Tapi yang paling mengagetkan saya pernyataan Ulil
berikut. Katanya, "Eropa belajar dari sejarah kelam
itu hingga sekarang. Hasilnya tentu bukan main:
lahirnya negara sekuler yang melindungi kebebasan
beragama. Atau tepatnya melindungi agama dari
intervensi negara (versi Roger William), dan
melindungi negara dari intervensi agama (versi Thomas
Jefferson). Kedua intervensi itu sangat buruk
akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri."

Padahal sudah beberapa tahun ini, setidaknya sejak
peristiwa serangan teroris terhadap menara kembar WTC
di New York, 2001, tak sedikit buku yang terbit, tak
terhitung artikel ditulis, yang menyoroti bagaimana
Amerika Serikat tak lagi membatasi hubungan agama
dengan negara seperti yang digembar-gemborkan Ulil
itu.

Saya tak ingin memperdebatkan baik-buruk,
manfaat-mudharat, dari terbaurnya hubungan itu.
Seperti saya juga tak mau memperdebatkan di sini
konsistensi sikap Thomas Jefferson, nama yang dikutip
Ulil. Ia merancang Declaration of Independence yang
begitu muluk bicara tentang kebebasan, sementara ia
sendiri memiliki ratusan budak. Malah sampai meninggal
dunia ia meninggalkan budak-budak yang diburu dari
Afrika sebagai harta warisan.

Jefferson rupanya gambaran dari negara yang
diwariskannya: mengekspor demokrasi ke mana-mana
sembari membunuhi jutaan rakyat tak berdosa di
mana-mana. Mulai Vietnam, Laos, Korea, Iraq, Lebanon,
Nikaragua, Guatemala, Panama, dan banyak lagi. Inilah
satu-satunya negara di dunia yang tega membunuh lebih
200 ribu rakyat tak berdosa dengan bom atom uranium di
Nagasaki dan Hirosima. Picing mata pada pembangunan
arsenal nuklir Israel di Dimona, tapi mencak-mencak
kepada nuklir Iran.

Amerika kini merupakan satu-satunya negara besar di
dunia yang menolak meratifikasi Protokol Kyoto, karena
para tokoh Kristen Evangelical yang sangat berpengaruh
di Partai Republik dan Gedung Putih menganggap bukan
karbon dioksida yang menyebabkan perubahan iklim.
Semua ditentukan oleh Yang Mahakuasa (Almighty).

Iraq diserang, Saddam Hussein ditumbangkan, karena ia
dianggap pengganti Nebuchadnezzar, Raja Babylonia yang
memerangi Israel dan merusak Jerusalem pada tahun 586
sebelum Masehi. Jadi senjata pemusnah massal atau
upaya demokratisasi hanyalah dalih.

Selanjutnya setahun setelah Baghdad dikuasai, koran
the Los Angeles Times melakukan survei dan menemukan
30 misionaris Evangelical di kota itu yang menempel
(embeded) pada tentara pendudukan Amerika. Kyle Fisk,
Kepala Administrasi the National Association of
Evangelicals, mengatakan kepada wartawan koran itu,
"Iraq akan menjadi pusat penyebaran ajaran Jesus
Kristus ke Iran, Libya, dan ke seluruh Timur Tengah."
(the Los Angeles Times, 18 Maret 2004).

Pemberantasan penyakit Aids dengan cara pantang
berhubungan seks sembarang (abstinence) , abortus
diharamkan, begitu pula riset sel tunas (stem-cell
research), dan banyak lagi nilai-nilai Gereja lainnya.
Meski akhir tahun lalu, Partai Republik kalah dalam
Pemilu sela dan kehilangan suara mayoritas di Senat
dan DPR, ternyata Oktober lalu, DPR tetap menyetujui
menaikkan anggaran program abtinence dari 28 juta
menjadi 200 juta dollar setahun. Kenapa? Karena para
tokoh Partai Demokrat pun keder pada kelompok
Evangelical yang diduga punya pengaruh atas sekitar
30% pemilih.

Pantaslah Bill Moyers, bekas wartawan televisi yang
kini menjadi aktivis Gereja Evangelical, ketika
berbicara di Harvard Medical School, 4 Desember 2004,
berkata, "Untuk pertama kali dalam sejarah kita,
ideologi dan theologi memonopoli kekuasaan di
Washington."

Dimulai sejak zaman Presiden Reagan, tapi terutama
pada dua priode kepemimpinan Bush, pelan-pelan Amerika
sudah mendekati negara theokrasi dan Partai Republik
merupakan partai Kristen pertama dalam sejarah
Amerika. Bacalah American Theocracy (Viking Penguin,
2006) ditulis Kevin Phillips, penasehat politik utama
Partai Republik di zaman Nixon.

Fenomena itu cukup jelas diterangkan Profesor Samuel
P.Huntington di dalam Who Are We? America ' s Great
Debate (The Free Press, 2005). Saya tak ingin
mengulangi lagi cerita itu. Sudah saya tulis di
www.hdayatullah. com: An-Naim dan "Perang" Presiden
Bush, 15 Agustus 2007, dan Hizbut Tahrir, Sekularisme
dan Fenomena Global, 27 Agustus 2007. Cerita ini saja
sudah terlalu panjang. [www.hidayatullah. com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO.
Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy
Studies) Jakarta

 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke