Rekan Lutfi Thomafi beberapa waktu lalu dalam satu keperluan sowan ke 
ndalem Kiai Sahal sangat terkejut dan mengeluh kepada saya via ym 
katanya Kiai Sahal sekarang jadi berubah dan pendiam jauh berubah. Dan 
ternyata itu memang strategi politis Kiai Sahal yang sedang dijalankan, 
tapi apa iya strategi itu dipake juga buat seorang Lutfi Thomafi yang 
bukan politisi?

Salam,
Mukhlisin


Diam adalah Strategi Politik

PATI- Mengemban dan melaksanakan amanat bukan sesuatu yang mudah. Butuh 
kehati-hatian dalam menentukan setiap langkah. Tampaknya itulah yang 
selama ini selalu dijaga oleh Ketua Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh.

Menduduki jabatan dalam ormas terbesar di negeri ini bukan menjadikannya 
selalu mengumbar suara, baik di media massa maupun khalayak umum. Justru 
kedudukan itu menjadikannya cenderung tertutup dan diam.

Sikap demikian, bukan berarti acuh terhadap persoalan bangsa yang 
berkembang. Namun, lebih pada menjaga diri agar tidak terjebak dalam 
pergulatan politik praktis. Karena sejauh ini pendekatan persoalan 
bangsa belum bisa dilepaskan dengan politik. Sejak dahulu, kata Sahal 
Mahfudh, Nahdlatul Ulama (NU) selalu bersinggungan dan berkiprah dalam 
politik.

Untuk politik praktisnya adalah menduduki lembaga-lembaga politik 
seperti DPR, MPR, dan DPD. Adapula yang berada dalam jajaran eksekutif 
maupun yudikatif. "Di samping itu, perilaku, sikap, dan budaya NU selalu 
menggunakan taktik dan kebijakan tepat, termasuk perilaku politik saya 
yang tidak mau diwawancarai," tandasnya, saat memberikan tausiyah dalam 
forum Majma' al Buhuts al Nahdliyah di Ponpes Raudlah Al Thahiriyah Desa 
Kajen, Margoyoso, Pati, Sabtu (15/12).

Sikap demikian, lanjut pengasuh Ponpes Maslakul Huda Desa Kajen, 
Margoyoso, Pati ini adalah sebagai bagian dari stategi politik untuk 
meminimalkan wacana. Tujuannya tak lain agar persoalan bangsa yang 
mengemuka tidak hanya diselesaikan dengan ungkapan di media massa, namun 
bisa dicarikan solusi di rumah sendiri (NU).

Sementara itu, dalam rangka memperingati 70 tahun usia Kiai Sahal, pagi 
ini di halaman pondoknya diselenggarakan acara bedah buku Fiqh Sosial 
karya KHMA Sahal Mahfudh.

''Buku ini berisi pikiran-pikiran saya tentang pengembangan fiqh. 
Maksudnya agar fiqh dipahami masyarakat tidak sekadar formal sebagai 
lembaga halal-haram tetapi menjadi sebuah etika kehidupan,'' katanya. 
(fen,B13-46)

Kirim email ke