Di pesantren memang ada semboyan "as-sukutu nisful ilmi" (dalam diam ada ilmunya) tapi ada juga yang lain "as-sukutu tadullu 'ala na'am" (dalam diam orang sedang berbicara). Dalam konteks PBNU dan MUI, menurut saya, Kiai Sahal dipastikan berada dalam semboyan yang kedua, karena beliau adalah komandannya secara legal-formal (dan bukankah berbicara PBNU dan MUI saat ini adalah soal legal-formal itu). Publik media tidak akan peduli apakah Mbah Sahal setuju dengan "tren pendirian Alfamaret di pesantren NU" atau "perburuan aliran sesat". Publik, menurut saya, hanya tahu bahwa beliau adalah Rais Am PBNU dan Ketua Umum MUI.
Jadi, selamat ultah ke-70, 17 Desember 2007, Mbah Kiai Sahal..! Salam semuanya, Anam On 12/17/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan Lutfi Thomafi beberapa waktu lalu dalam satu keperluan sowan ke > ndalem Kiai Sahal sangat terkejut dan mengeluh kepada saya via ym > katanya Kiai Sahal sekarang jadi berubah dan pendiam jauh berubah. Dan > ternyata itu memang strategi politis Kiai Sahal yang sedang dijalankan, > tapi apa iya strategi itu dipake juga buat seorang Lutfi Thomafi yang > bukan politisi? > > Salam, > Mukhlisin > > Diam adalah Strategi Politik > > PATI- Mengemban dan melaksanakan amanat bukan sesuatu yang mudah. Butuh > kehati-hatian dalam menentukan setiap langkah. Tampaknya itulah yang > selama ini selalu dijaga oleh Ketua Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. > > Menduduki jabatan dalam ormas terbesar di negeri ini bukan menjadikannya > selalu mengumbar suara, baik di media massa maupun khalayak umum. Justru > kedudukan itu menjadikannya cenderung tertutup dan diam. > > Sikap demikian, bukan berarti acuh terhadap persoalan bangsa yang > berkembang. Namun, lebih pada menjaga diri agar tidak terjebak dalam > pergulatan politik praktis. Karena sejauh ini pendekatan persoalan > bangsa belum bisa dilepaskan dengan politik. Sejak dahulu, kata Sahal > Mahfudh, Nahdlatul Ulama (NU) selalu bersinggungan dan berkiprah dalam > politik. > > Untuk politik praktisnya adalah menduduki lembaga-lembaga politik > seperti DPR, MPR, dan DPD. Adapula yang berada dalam jajaran eksekutif > maupun yudikatif. "Di samping itu, perilaku, sikap, dan budaya NU selalu > menggunakan taktik dan kebijakan tepat, termasuk perilaku politik saya > yang tidak mau diwawancarai," tandasnya, saat memberikan tausiyah dalam > forum Majma' al Buhuts al Nahdliyah di Ponpes Raudlah Al Thahiriyah Desa > Kajen, Margoyoso, Pati, Sabtu (15/12). > > Sikap demikian, lanjut pengasuh Ponpes Maslakul Huda Desa Kajen, > Margoyoso, Pati ini adalah sebagai bagian dari stategi politik untuk > meminimalkan wacana. Tujuannya tak lain agar persoalan bangsa yang > mengemuka tidak hanya diselesaikan dengan ungkapan di media massa, namun > bisa dicarikan solusi di rumah sendiri (NU). > > Sementara itu, dalam rangka memperingati 70 tahun usia Kiai Sahal, pagi > ini di halaman pondoknya diselenggarakan acara bedah buku Fiqh Sosial > karya KHMA Sahal Mahfudh. > > ''Buku ini berisi pikiran-pikiran saya tentang pengembangan fiqh. > Maksudnya agar fiqh dipahami masyarakat tidak sekadar formal sebagai > lembaga halal-haram tetapi menjadi sebuah etika kehidupan,'' katanya. > (fen,B13-46) > > > [Non-text portions of this message have been removed]
