*In Memoriam Benazir Bhutto*

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid**



Berita ini sangat mengejutkan. Mantan Perdana Menteri Pakistan dan Ketua
Partai PPP (People Power Party) Benazir Bhutto telah meninggal dunia. Ia
terkena tembakan di dada dan meninggal dunia pada saat dilarikan ke rumah
sakit. Ia meninggal dunia dalam usia yang relatif masih muda: di bawah 60
tahun.



Penembaknya adalah seorang fanatik yang meledakkan bom bunuh diri segera
setelah melakukan pembunuhan itu. Ia mati bersama lebih dari 20 orang
lainnya, di tempat di mana ia melakukan kejahatan menembak Bhutto hingga
meninggal itu.



Orang mengira bahwa ia (pembunuhnya, *red.*) berasal dari golongan ekstrim
yang dijadikan alat pembunuh intel militer. Namun semuanya itu akan
diselidiki oleh aparat hukum di negeri Jiran tersebut. Kita tidak bisa
menunjuk dengan pasti bagaimana kelanjutan keadaan di Pakistan. Di samping
pihak militer masih memperlakukan keadaan bahaya, kita juga tidak tahu
bagimana reaksi rakyat Pakistan sendiri terhadap "pembunuhan politik" itu
sendiri.



Satu hal yang patut dicatat bahwa, Benazir Bhutto ketika terbunuh adalah
orang terkuat untuk memimpin negeri itu, setelah pemilu bulan Januari yang
akan datang. Ia telah belajar banyak dari terbuangnya di Inggris. Di
antaranya adalah bahwa ia menjadi cinta demokrasi dan memperjuangkannya
dengan sungguh-sungguh. Bahkan, kesungguhannya begitu besar dalam hal ini
hingga ia merumuskan tujuan partainya dalam mengikuti pemilu, sebagai bagian
dari upaya menegakkan demokrasi. Untuk itu, ia mengorbankan segala-galanya
bagi tujuan tersebut termasuk nyawanya sendiri.



Keluarga Bhutto adalah keluarga pejuang yang mengorbankan dirinya sendiri
bagi kepentingan negara dan bangsa. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto meninggal
di tiang gantungan oleh diktaktor militer Muhammad Zia Ul-Haq. Kedua
kakaknya mati ditembak ketika melanjutkan perjuangan sang ayah. Kini Benazir
menjalani hal yang sama. Karena itu patut dikatakan bahwa ia mewarisi
tradisi mulia bahkan mengorbankan segala-galanya bagi kepentingan menegakkan
demokrasi. Di sinilah terletak keberaniannya. Mengapa sekarang justru para
pemimpin kita tidak memiliki keberanian seperti itu?



Jakarta , 28 Desember 2007

*Abdurrahman Wahid*

Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke