Bismillahirrahmanirrahiim... Menjawab judul tulisan tersebut saya yakin 99% dari jumlah populasi manusia diplanet bumi ini akan mengatakan secara serempak 'ADA' . Gelombang laut itu 'ADA' dan dapat disaksikan disemua laut dipenjuru dunia.
Namun bagaimanakah sejatinya permasalahan seperti ini? Apakah gelombang air laut itu ada? Apakah kehidupan itu ada? Apakah lingkaran itu ada? Apakah manusia itu ada? Kalau kita ditanya, Apakah gelombang air laut itu ada? Apakah kehidupan itu ada? Apakah lingkaran itu ada? Apakah manusia itu ada? Kita akan mendapatkan jawaban secara aklamasi 'ADA' dan keberadaannya dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi kalau kita ditanya, Apakah kehidupan itu? Apakah gelombang air laut itu? Apakah Manusia itu? Apakah lingkaran itu? Kita akan mendapat jawaban yang berbeda-beda, tidak semudah menjawab pertanyakan 'Apakah ADA?' . Disini kita bisa melihat bahwa ada 2 hal yang sangat sentral dalam pembicaraan ini, pertama manakah yang terpenting dari satu subjek yang dipertanyakan? Apakah Keberadaannya (eksistensi) ataukah dzat/intinya (esensi) ? Banyak benda memiliki eksistensi yang jelas dan terang benderang, yakni benda yang betul-betul kita ketahui keberadaannya, bisa dilihat, diraba, dicium, didengar, dirasakan tetapi kita masih 'buta' (tidak tahu) apakah hakikat dari benda-benda tersebut. Misalnya kita mengetahui gelombang air laut itu ada, api itu ada, kehidupan itu ada, listrik itu ada tapi kita tidak mengetahui apa hakikat gelombang air laut itu, apakah hakikat dari api itu, apa hakikat hidup itu, apa hakikat listrik itu? Kita pernah melihat gelombang air laut, bahkan kita tahu persis definisi tentang gelombang air laut. Tapi apakah gelombang air laut itu betul-betul 'ada' ? Kalau dia 'ada' siapa yang sanggup menangkap gelombang air laut itu ? Apakah ada yang mampu membawanya dengan mobil tangki ke laboratorium? Apakah ada perbedaan air laut yang bergelombang dan yang tidak bergelombang? Apakah yang tidak bergelombang bisa bergelombang? Apakah yang bergelombang bisa tidak bergelombang? Dari serenteten pertanyaan ini, jelas sekali ada keterpisahan antara 'keberadaan' (eksistensi) dan ' hakikat' (esensi) dalam kesejatiannya. Pasti hanya satu yang sejati, keberadaannya atau hakikatnya. Salam, Alexander Soebroto www.parapemikir.com [Non-text portions of this message have been removed]
