Bismillahirrahmanirrahiim...

Berbicara tentang alam objektif memang mengasyikkan, orang-orang pintar jaman 
sekarang lebih menyukai apa-apa yang bisa dilihat dan didengar dengan mata 
kepala sendiri sebagai bukti nyata tentang keberadaan dan kebenaran suatu 
perkara daripada membicarakan yang 'ndak jelas' seperti alam ide, alam rasio, 
dan alam ketuhanan. 

Ini sih masih bagus, ada diantara kita bahkan tidak peduli dengan dunia 
sekitarnya, ada yang tidak peduli karena memang tidak tahu tapi ada juga yang 
tahu tapi tetap tidak peduli.

 

Lha, apakah kita memang harus peduli dengan alam sekitar dan semua 
permasalahannya? Apakah kita perlu tahu tentang jarak antara satu planet dengan 
planet yang lainnya? Apakah kita harus peduli berapa kedalaman samudra dimana 
kita tidak pernah 'berurusan'  dengannya? Apakah kita harus 'ikut campur' 
dengan permasalahan perang ditimur tengah  dan lain-lain ?

 

Mempertanyakan hal-hal yang tidak 'relevan' dengan kehidupan kita sehari-hari 
yang disibukkan dengan urusan kantor, urusan cari makan, urusan sholat, urusan 
gereja, urusan pasantren, urusan sekolah anak-anak dan lain-lain AKAN kelihatan 
konyol dan 'aneh' bagi kebanyakan orang. Tapi apakah pertanyaan seperti diatas 
itu sebenarnya konyol bin aneh dalam hubungannya dengan kehidupan kita 
sehari-hari?

 

Dalam kitab suci Al-quran yang saya yakini akan kebenarannya, jelas secara 
terang benderang disampaikan "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang 
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? 
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,"   
(Ar'Rad : 19) 

 

Sungguh pertanyaan-pertanyaan seperti diatas bukanlah pertanyaan konyol dan 
aneh untuk kita semua, tidak peduli apapun latar belakang kita, seharusnya kita 
mau duduk bersimpuh sebentar untuk memperhatikan alam sekitar kita, merenung 
dan bersyukur akan anugrah akal yang telah diberikanNya kepada kita. 

Percumalah hidup ini bagi seorang pedagang kalau dia berdagang tanpa 
menggunakan ilmu, Tanpa ilmu yang mumpuni (lengkap) percuma juga orang-orang 
sholat, kegereja, ke klenteng, membela agama dan lain-lain karena akan tetap 
gemar menipu, memaki, korupsi dan lain-lain. 

 

Sekarang saya anggap saja semuanya sudah setuju dengan pentingnya kita 
mengetahui alam sekitar dengan ilmu yang mumpuni . (Karena saya juga tidak 
menawarkan opsi yang lain hehehe. ) 

 

Setelah setuju dengan pentingnya untuk memperhatikan alam sekitar, sekarang yuk 
kita lihat dulu sedikit tentang apa yang menjadi model dan acuan keilmuan bagi 
orang-orang jaman sekarang, yaitu alam objektif (alam materi).  Sebenarnya 
apakah alam materi itu 'ADA' dan BENAR ? 

 

Kita lihat sebentar isi dari alam objektif itu., apa sajakah isinya?

Kita semua bisa dengan mudah menyaksikan disekitar kita ada gunung, ada laut, 
ada gedung-gedung, ada rumah, ada mobil. Pertanyaannya adalah apakah benda itu 
ada dan benar adanya? 

Jawabnya tentu ada dan benar adanya. Benda-benda itu ada dan bisa ditemukan 
dengan mudah disekitar kita. Benda-benda yang bisa dilihat dengan mata kepala 
ini disebut dengan 'ada eksternal' , yaitu 'adanya' diluar diri kita (terpisah 
dengan kita). 

 

Dari jaman kuda gigit besi sampai dengan jaman secanggih sekarang ini kita 
telah menyaksikan betapa 'ada eksternal' (Eksistensi eksternal)  ini telah 
merubah peradaban anak manusia, dan faktanya memang sebagian besar dari 'ada 
eksternal' ini memang betul-betul BENAR dan NYATA.

 

Kita perhatikan.Bahwa dengan bantuan pancaindra dan alat perasa kita mampu 
membedakan panas dan dingin, api dan es, siang dan malam, panjang dan pendek, 
tinggi dan rendah, jauh dan dekat, besar dan kecil, bohong dan jujur, koruptor 
dan orang jujur, sapi dan dendeng. Sungguh fakta itu adalah kebenaran dan sama 
sekali tidak keliru. Maka sangat aneh kalau orang seperti Berkeley (filsup yang 
sekaligus uskup terkenal)  mengatakan tidak ada realitas eksternal? 

 

Itu sekilas tentang eksistensi eksternal, sekarang kita ke 'benda' yang 
berikutnya, kita bisa 'membayangkan' ada monas dijakarta, ada kota london di 
inggris, ada rendang diwarung padang, ada  laut di di Timur tengah , ada pulau 
ditengah laut, ada cewek cantik dikampus. Pertanyaan yang sama, apakah betul 
yang kita bayangkan tadi 'barangnya' betul-betul ada didunia nyata? 

Jawabnya, bisa ya bisa juga tidak, bisa ada bisa juga tidak. Membayangkan 
tentang adanya sesuatu ini disebut dengan 'ada mental', yaitu 'adanya' didalam 
pikiran kita ('dikepala' kita)

 

Kenapa 'ada mental'  (eksistensi mental) ini mendapat jawaban tidap pasti? Bisa 
iya bisa tidak, bisa ada bisa tidak? Ini menarik., yuk kita lihat ilustrasinya.

 

Misal, saya membayangkan ada monas dijakarta., apakah 'bayangan' saya itu 
betul-betul 'benar' (kebenaran) atau salah (kekeliruan)? Setelah saya lihat 
dengan mata kepala saya sendiri memang betul 'ada' monas dijakarta, maka apa 
yang saya 'bayangkan' tadi adalah suatu kebenaran (Fakta monas betul-betul ada).

Fakta yang saya temukan dilapangan ini adalah merupakan 'pengetahuan dan sumber 
pengetahuan' bagi mental saya. 

 

Dan bagaimana kalau sebaliknya? misalnya monas yang saya 'bayangkan' tadi sudah 
hanyut dan hilang dibawa Tsunami? Tentu saja 'bayangan' saya tentang 'ada' 
monas dijakarta tadi menjadi suatu kekeliruan (Fakta monas sudah tidak ada). 

Fakta 'lain' yang saya temukan dilapangan ini juga merupakan 'pengetahuan dan 
sumber pengetahuan' bagi mental saya. Dalam dua skenario diatas, kita sekarang 
bisa memahami kenapa eksistensi mental tidak langsung otomatis bisa menjawab 
ada atau tidak ada.

 

Sekarang kita telah mengetahui perbedaan tentang keberadaan alam objektif, 
yaitu  alam materi yang bisa disaksikan secara gamblang dan alam mental yang 
harus dengan sedikit mikir J

 

Kemarin disuatu milist yahoogroups ada yang tanya kepada saya, kenapa yang ada 
dipikiran disebut sebagai eksistensi mental (ada mental)?  Apakah setiap 
perkara 'ada' (esksistensi) dinamai sesuai dengan keberadaan-nya? Misalnya, ada 
lukisan gambar Nyi Loro Kidul, Lukisan Kuda Terbang, Lukisan Bidadari, Lukisan 
gambar Yesus. Apakah 'ada' seperti itu disebut dengan 'Eksistensi Lukisan 'atau 
'Eksistensi Dinding' (karena digantung didinding,red).

 

Tentu saja perkara seperti itu tidak bisa dinamai dengan 'eksistensi lukisan' 
ataupun 'eksistensi dinding' . Ada substansi yang sangat penting yang 
ketinggalan disitu, Bagi dinding lukisan gambar yang dilukis atau digantungkan 
disana tidaklah menjadi bagian dari dinding itu, bagi dinding lukisan itu 
bukanlah PENGETAHUAN DAN SUMBER PENGETAHUAN dinding tentang eksistensi gambar 
(keberadaan gambar itu dalam alam nyata). Sedangkan lukisan yang ada dialam 
mental  merupakan pengetahuan dan sumber pengetahuan bagi orang yang 
membayangkannya.



Salam,

Alexander Soebroto
www.parapemikir.com





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke