Kalau begitu Esensi itu apa mas?

salam


--- In [email protected], "Alexander Soebroto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bismillahirrahmanirrahiim...
> 
> Berbicara tentang alam objektif memang mengasyikkan, orang-orang 
pintar jaman sekarang lebih menyukai apa-apa yang bisa dilihat dan 
didengar dengan mata kepala sendiri sebagai bukti nyata tentang 
keberadaan dan kebenaran suatu perkara daripada membicarakan 
yang 'ndak jelas' seperti alam ide, alam rasio, dan alam ketuhanan. 
> 
> Ini sih masih bagus, ada diantara kita bahkan tidak peduli dengan 
dunia sekitarnya, ada yang tidak peduli karena memang tidak tahu tapi 
ada juga yang tahu tapi tetap tidak peduli.
> 
>  
> 
> Lha, apakah kita memang harus peduli dengan alam sekitar dan semua 
permasalahannya? Apakah kita perlu tahu tentang jarak antara satu 
planet dengan planet yang lainnya? Apakah kita harus peduli berapa 
kedalaman samudra dimana kita tidak pernah 'berurusan'  dengannya? 
Apakah kita harus 'ikut campur' dengan permasalahan perang ditimur 
tengah  dan lain-lain ?
> 
>  
> 
> Mempertanyakan hal-hal yang tidak 'relevan' dengan kehidupan kita 
sehari-hari yang disibukkan dengan urusan kantor, urusan cari makan, 
urusan sholat, urusan gereja, urusan pasantren, urusan sekolah anak-
anak dan lain-lain AKAN kelihatan konyol dan 'aneh' bagi kebanyakan 
orang. Tapi apakah pertanyaan seperti diatas itu sebenarnya konyol 
bin aneh dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari?
> 
>  
> 
> Dalam kitab suci Al-quran yang saya yakini akan kebenarannya, jelas 
secara terang benderang disampaikan "Adakah orang yang mengetahui 
bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama 
dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang 
dapat mengambil pelajaran,"   (Ar'Rad : 19) 
> 
>  
> 
> Sungguh pertanyaan-pertanyaan seperti diatas bukanlah pertanyaan 
konyol dan aneh untuk kita semua, tidak peduli apapun latar belakang 
kita, seharusnya kita mau duduk bersimpuh sebentar untuk 
memperhatikan alam sekitar kita, merenung dan bersyukur akan anugrah 
akal yang telah diberikanNya kepada kita. 
> 
> Percumalah hidup ini bagi seorang pedagang kalau dia berdagang 
tanpa menggunakan ilmu, Tanpa ilmu yang mumpuni (lengkap) percuma 
juga orang-orang sholat, kegereja, ke klenteng, membela agama dan 
lain-lain karena akan tetap gemar menipu, memaki, korupsi dan lain-
lain. 
> 
>  
> 
> Sekarang saya anggap saja semuanya sudah setuju dengan pentingnya 
kita mengetahui alam sekitar dengan ilmu yang mumpuni . (Karena saya 
juga tidak menawarkan opsi yang lain hehehe. ) 
> 
>  
> 
> Setelah setuju dengan pentingnya untuk memperhatikan alam sekitar, 
sekarang yuk kita lihat dulu sedikit tentang apa yang menjadi model 
dan acuan keilmuan bagi orang-orang jaman sekarang, yaitu alam 
objektif (alam materi).  Sebenarnya apakah alam materi itu 'ADA' dan 
BENAR ? 
> 
>  
> 
> Kita lihat sebentar isi dari alam objektif itu., apa sajakah isinya?
> 
> Kita semua bisa dengan mudah menyaksikan disekitar kita ada gunung, 
ada laut, ada gedung-gedung, ada rumah, ada mobil. Pertanyaannya 
adalah apakah benda itu ada dan benar adanya? 
> 
> Jawabnya tentu ada dan benar adanya. Benda-benda itu ada dan bisa 
ditemukan dengan mudah disekitar kita. Benda-benda yang bisa dilihat 
dengan mata kepala ini disebut dengan 'ada eksternal' , 
yaitu 'adanya' diluar diri kita (terpisah dengan kita). 
> 
>  
> 
> Dari jaman kuda gigit besi sampai dengan jaman secanggih sekarang 
ini kita telah menyaksikan betapa 'ada eksternal' (Eksistensi 
eksternal)  ini telah merubah peradaban anak manusia, dan faktanya 
memang sebagian besar dari 'ada eksternal' ini memang betul-betul 
BENAR dan NYATA.
> 
>  
> 
> Kita perhatikan.Bahwa dengan bantuan pancaindra dan alat perasa 
kita mampu membedakan panas dan dingin, api dan es, siang dan malam, 
panjang dan pendek, tinggi dan rendah, jauh dan dekat, besar dan 
kecil, bohong dan jujur, koruptor dan orang jujur, sapi dan dendeng. 
Sungguh fakta itu adalah kebenaran dan sama sekali tidak keliru. Maka 
sangat aneh kalau orang seperti Berkeley (filsup yang sekaligus uskup 
terkenal)  mengatakan tidak ada realitas eksternal? 
> 
>  
> 
> Itu sekilas tentang eksistensi eksternal, sekarang kita ke 'benda' 
yang berikutnya, kita bisa 'membayangkan' ada monas dijakarta, ada 
kota london di inggris, ada rendang diwarung padang, ada  laut di di 
Timur tengah , ada pulau ditengah laut, ada cewek cantik dikampus. 
Pertanyaan yang sama, apakah betul yang kita bayangkan 
tadi 'barangnya' betul-betul ada didunia nyata? 
> 
> Jawabnya, bisa ya bisa juga tidak, bisa ada bisa juga tidak. 
Membayangkan tentang adanya sesuatu ini disebut dengan 'ada mental', 
yaitu 'adanya' didalam pikiran kita ('dikepala' kita)
> 
>  
> 
> Kenapa 'ada mental'  (eksistensi mental) ini mendapat jawaban tidap 
pasti? Bisa iya bisa tidak, bisa ada bisa tidak? Ini menarik., yuk 
kita lihat ilustrasinya.
> 
>  
> 
> Misal, saya membayangkan ada monas dijakarta., apakah 'bayangan' 
saya itu betul-betul 'benar' (kebenaran) atau salah (kekeliruan)? 
Setelah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri memang betul 'ada' 
monas dijakarta, maka apa yang saya 'bayangkan' tadi adalah suatu 
kebenaran (Fakta monas betul-betul ada).
> 
> Fakta yang saya temukan dilapangan ini adalah 
merupakan 'pengetahuan dan sumber pengetahuan' bagi mental saya. 
> 
>  
> 
> Dan bagaimana kalau sebaliknya? misalnya monas yang 
saya 'bayangkan' tadi sudah hanyut dan hilang dibawa Tsunami? Tentu 
saja 'bayangan' saya tentang 'ada' monas dijakarta tadi menjadi suatu 
kekeliruan (Fakta monas sudah tidak ada). 
> 
> Fakta 'lain' yang saya temukan dilapangan ini juga 
merupakan 'pengetahuan dan sumber pengetahuan' bagi mental saya. 
Dalam dua skenario diatas, kita sekarang bisa memahami kenapa 
eksistensi mental tidak langsung otomatis bisa menjawab ada atau 
tidak ada.
> 
>  
> 
> Sekarang kita telah mengetahui perbedaan tentang keberadaan alam 
objektif, yaitu  alam materi yang bisa disaksikan secara gamblang dan 
alam mental yang harus dengan sedikit mikir J
> 
>  
> 
> Kemarin disuatu milist yahoogroups ada yang tanya kepada saya, 
kenapa yang ada dipikiran disebut sebagai eksistensi mental (ada 
mental)?  Apakah setiap perkara 'ada' (esksistensi) dinamai sesuai 
dengan keberadaan-nya? Misalnya, ada lukisan gambar Nyi Loro Kidul, 
Lukisan Kuda Terbang, Lukisan Bidadari, Lukisan gambar Yesus. 
Apakah 'ada' seperti itu disebut dengan 'Eksistensi 
Lukisan 'atau 'Eksistensi Dinding' (karena digantung didinding,red).
> 
>  
> 
> Tentu saja perkara seperti itu tidak bisa dinamai 
dengan 'eksistensi lukisan' ataupun 'eksistensi dinding' . Ada 
substansi yang sangat penting yang ketinggalan disitu, Bagi dinding 
lukisan gambar yang dilukis atau digantungkan disana tidaklah menjadi 
bagian dari dinding itu, bagi dinding lukisan itu bukanlah 
PENGETAHUAN DAN SUMBER PENGETAHUAN dinding tentang eksistensi gambar 
(keberadaan gambar itu dalam alam nyata). Sedangkan lukisan yang ada 
dialam mental  merupakan pengetahuan dan sumber pengetahuan bagi 
orang yang membayangkannya.
> 
> 
> 
> Salam,
> 
> Alexander Soebroto
> www.parapemikir.com
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke