Deat Anam yang sebentar lagi mau rabi.. Nam. Dari dulu kamu kok ngributin Ulil, JIL Freedom terus. Emang gak ada permasalahan dan perbincangan yang lebih menarik dari itu pa?. Ulil, hanyalah seorang anggota JIL. Dia sekarang sedang belajar di USA itu saja. JIL hanyalah sebuah lembaga, yang kurang lebih terdiri dari 10 orang. terlalu besar lah bagi seorang anam untuk mikirin Ulil, dan JIL. Bisa gak, tema yang bukan Ulil atau JIL. Membosankan...
saya membayangkan NU dikaji bukan dalam tema-tema yang "besar", namun tema-tema kecil yang bisa dirunut menjadi kajian serius. saya teringat bukunya Vicker, sejarahawan Australia yang menulis buku ttg indonesia dengan hal-hal kecil dari foto-foto. Buku Mrazek, Henk Schoult Nordholt juga bagus, dia bercerita tentang pakaian. Nah, NU punya segunung khazanah kebudayaan, gaya pakian yang berganti-ganti, makanan, cara belajar, corak pendidikan dan seterunya. Ong Hok kam menulis buku tentang sejarah makanan, tapi saya nggak tahu apa makanan-makanan dalam pesantren seperti Sambel Terong, nasi liwet, dan seterusnya pernah di kulas. Bahasan-bahasan kecil yang bagi saya secara peribadi sangat menarik, jauh lebih menarik dari pada membahas NU dalam "hal-hal besar". Dulu saya pernah ajukan riset tentang "spirit of Pluralism in Tradisional Muslim Song"..Riset itu rencananya mau mengupas tentang sejarah goup musik "Nasidaria" (Group musik asal semarang). Bayangkan, group yang dipimpin oleh Muthoharoh itu, semuanya adalah perempuan dari pesantren dan berkerudung. Mereka perempuan yang berani tampil di Publik tahun 1970-an dan 1980-an. Bernayanyi ria di kampung-kampung bahkan menjadi pengiring sebuah pengajian--setiap pengajian saya selalu mendapat bagian "mbunteli" teh dan "ngluntungi kloso"--. dan pada waktu yang bersamaan, masih banyak sekali kyai-kyai yang mengharamkan musik, apalagi tampilnya perempuan di panggung. Tapi, Nasidaria tetap diterima, kuat dan bahkan melegenda. Baru-baru ini Gigi mempopulerkan ulang lagu-lagu mereka. Dan lagi lagu-lagu Nasidaria bukanlah lagu nasyid punya Islam perkotaan itu. lagu-lagu nasidaria tidak pernah menebarkan kebencian, atau permusuhan. lihat saja " Wahai umat Yahudi kembalilah pada kitab suci taurat, Wahai Umat Nasrani kemballah pada kitab suci Inzil, Wahai Umat Islam kembalilah pada kitab suci Qur;an" dan seterusnya. Simaklah bait-bait "dunia dalam berita" " perdamaian-perdamaian" atau "tahun 2000" semanya mencerminkan kerukunan dan pengendalian diri mansia agar berbuat baik. bahkan lagu tahun 2000 sudah meramalkan akan global warming, lihat saja berbagai teks dala lirik lagu itu. ini jauh sebelum Vandana Siva atau SBY dengan 1000 pohonya. Jadi sudah lah, jangan terlalu membincangkan ulia terus. Ulil hanya kader NU dari Pati itu saja (nyuwun sewu mas), jadi itulah pilihan hidup dia. membincangkan NU yang lain jauh lebih menarik, seperti membincangkan Nasidaria tadi hehehe. Menurut saya, gubahan lagu nasidaria perlu juga, dibikin versi jazz, biar bisa dinikmati di kafe-kafe. heheheh Cheers Amex ---------------------------------------------------------------------------------------- "Asah Pengetahuanmu dengan mengikuti Makasar Cyber Netkuis di http://netkuis.telkom.net/" (khusus pelanggan TelkomnetInstan dan Speedy Makasar [kode area 0410, 0411, 0418, 0413, 0481, 0482, 0414, 0417 dan 0419]). Menangkan Laptop, Desktop, Kunjungan ke ITB, HP Flexi dan voucher perdana IVAS di akhir periode (10 November 2007 - 10 Januari 2008). -----------------------------------------------------------------------------------------
