Mas Kampret (mungkin ini bahasa Indonesianya Kupretist, hehe), Saya pribadi setuju Budi Utomo menjadi tonggak kebangkitan nasional. Hanya sebagai tonggak. Beberapa hal dalam Budi Utomo yang tidak perlu dipraktikkan sekarang, karena pasti banyak yang tidak aktual. Namun saya kira sah-sah saja misalnya Budi Utomo waktu itu memakai bahasa Belanda atau koopratif terhadap pemerintah Belanda dan anti Arabisasi. Itu terkait strategi pergerakannya. Sah-sah asja Budi Utomo, pertama-tama, merangkul kalangan Jawa Priyayi, atau pergerakannya sebatas Jawa-Madura. Sama seperti kalangan SI pertama-tama merangkul para pemuka dan priyayi Islam dan keturunan Arab.
Saya tidak berkenan satu hal, yakni penolakan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan Nasional hanya karena tidak berasas Islam atau tidak ada kalimat berbahasa Arab dalam anggaran dasarnya. Saya kadang tidak habis pikir (dan memang harusnya ga usah dipikir), banyak orang Islam yang selalu merasa menderita hanya gara-gara negara ini tidak bernama Islam, tapi Indonesia. "Sejak penjajahan, masa kemerdekaan, orde baru sampai reformasi di Indonesia, umat Islam selalu didzalimi," kata Ba'asyir dan mungkin bisa merepresentasikan maksud hati Mas Kampret. Salam, Anam On 1/7/08, Kupretist <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya > amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan > Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali > tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, > dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda > (Vritmejselareen). Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan > Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan > merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh > para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir > terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang > jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan > mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan > nasional. > Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung > penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah > mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai > tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata. > Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. > Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz > selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional > 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu > tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah > mewajibkan umatnya untuk bersikap: "Ilmu qabla amal" (Ilmu sebelum > mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu > hal secara benar sebelum mengerjakannya. > Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya "Tafsir Baru Atas Realitas" (1996) > menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup > adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang > ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita "Fa Innahu Minhum" (kita menjadi > golongan mereka) terhadap kejahiliyahan. > Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu > yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya > kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu. > Pendukung Penjajahan Belanda > Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di > atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis > Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat > itu, tersembul sebuah buku berjudul "Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: > Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa" karya si pengirim. Di halaman pertama, > KH. Firdaus AN menulis: "Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki > Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!" Di bawah tanda tangan beliau > tercantum tanggal 20. 2. 2003. > KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun > pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan > antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin > terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang > berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik > diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi > Oetomo. > "BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena > mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan > penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut > serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah > bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana > hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi > saja tidak boleh menjadi anggotanya, " tegas KH. Firdaus AN. > BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa > kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh > para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah > kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati > Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian > dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta > yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya. > Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran > dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. > "Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan > bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki > taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, > memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang > dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, " papar KH. Firdaus > AN. > Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis "Tujuan organisasi untuk > menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara > harmonis. " Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali > bukan kebangsaan. > Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang > Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: > "Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal > agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang > kesulitan. " > Sebuah artikel di "Suara Umum", sebuah media massa milik BO di bawah > asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam > Majalah "Al-Lisan" terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, "Digul lebih > utama daripada Makkah", "Buanglah Ka'bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya > Kiblat!" (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938. > Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak > ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah > perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan > chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah > mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto > Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO. > Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. > Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, > ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak > tahun 1895. > Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan > cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam > buku "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia > 1764-1962" (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya > diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia. > Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di > Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan > perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai > bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada > tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908 > > Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung > penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya > ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri > yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya > hengkang dari BO. Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan > kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, > SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. "Ini merupakan organisasi Islam > yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air > Indonesia, " tulis KH. Firdaus AN. > Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan > Madurajuga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para > pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madurasifat SI > lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang > mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari > berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal > dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, > dan AM. Sangaji dari Maluku. > Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebutSI dan > BOmaka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya: > Tujuan: > - SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, > - BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran > Dasar BO Pasal 2). > Sifat: > - SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia, > - BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura, > Bahasa: > - SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa > Indonesia, > - BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda > Sikap Terhadap Belanda: > - SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, > > - BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian > besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial > Belanda, > Sikap Terhadap Agama: > - SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya, > - BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid > Algadrie dan Dr. Radjiman) > Perjuangan Kemerdekaan: > - SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini > melewati pintu gerbang kemerdekaan, > - BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah > membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini > melewati pintu gerbang kemerdekaan, > Korban Perjuangan: > - Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, > dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat, > - Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan > dibuang ke Digul, > Kerakyatan: > - SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan, > - BO bersifat feodal dan keningratan, > Melawan Arus: > - SI berjuang melawan arus penjajahan, > - BO menurutkan kemauan arus penjajahan, > Kelahiran: > - SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905, > - BO baru lahir pada 20 Mei 1908, > Seharusnya 16 Oktober > Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap > tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan > tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan > Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 > Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal > ini. > Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka > saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga > khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat > bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis. > Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, > maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini > juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan > melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan > "Hari Kebangkitan Nasional". > > --------------------------------- > Sent from Yahoo! - a smarter inbox. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
