Mas kutu kupret, tulisan sampeyan koq persis artikel dibawah ini ya...

 

Salam kufreet,

syaikhul

 

Kutipan:

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan 
anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan 
bahasa Indonesia. "Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang 
kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya 
membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan 
Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib 
golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya 
sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, " papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis "Tujuan organisasi untuk 
menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura 
secara harmonis. " Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, 
sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang 
Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging 
berkata: "Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... 
Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam 
dalam gelombang kesulitan. "

Sebuah artikel di "Suara Umum", sebuah media massa milik BO di bawah 
asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam 
Majalah "Al-Lisan" terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, "Digul 
lebih utama daripada Makkah", "Buanglah Ka'bah dan jadikanlah Demak 
itu Kamu Punya Kiblat!" (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka 
tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh 
Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas 
kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa 
dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni 
Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang 
dari BO.

-----------

http://www.eramuslim.com/berita/tha/7519100602-20-mei-bukan-hari-
<http://www.eramuslim.com/berita/tha/7519100602-20-mei-bukan-hari-> 
kebangkitan-nasional-bag.1.htm

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1)

Sabtu, 19 Mei 07 10:08 WIB

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 
sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai 
Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan 
Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, 
a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan 
anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, 
sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan 
merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang 
dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat 
Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni 
pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang 
penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak 
dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung 
penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-
citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai 
tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.

Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam 
kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para 
Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari 
Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya 
telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang 
dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk 
bersikap: "Ilmu qabla amal" (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti 
umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar 
sebelum mengerjakannya.

Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya "Tafsir Baru Atas Realitas" 
(1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa 
pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, 
walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai 
kita "Fa Innahu Minhum" (kita menjadi golongan mereka) terhadap 
kejahiliyahan.

Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, 
sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, 
ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.

Pendukung Penjajahan Belanda 

Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak 
di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua 
Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam 
amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul "Syarikat Islam 
Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa" karya si 
pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: "Hadiah kenang-
kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga 
Bermanfaat!" Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 
2003.

KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun 
pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan 
ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah 
baru kemarin terjadinya. Selain topik pengkhianatan the founding-
fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata 
dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern 
beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

"BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, 
karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk 
mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan 
BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang 
kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi 
sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit 
yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi 
anggotanya, " tegas KH. Firdaus AN.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para 
mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini 
dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia 
terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh 
Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang 
memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo 
Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh 
Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan 
anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan 
bahasa Indonesia. "Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang 
kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya 
membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan 
Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib 
golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya 
sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, " papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis "Tujuan organisasi untuk 
menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura 
secara harmonis. " Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, 
sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang 
Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging 
berkata: "Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... 
Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam 
dalam gelombang kesulitan. "

Sebuah artikel di "Suara Umum", sebuah media massa milik BO di bawah 
asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam 
Majalah "Al-Lisan" terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, "Digul 
lebih utama daripada Makkah", "Buanglah Ka'bah dan jadikanlah Demak 
itu Kamu Punya Kiblat!" (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka 
tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh 
Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas 
kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa 
dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni 
Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang 
dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. 
Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, 
ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge 
Mataram sejak tahun 1895.

Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan 
cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini 
dikemukakan dalam buku "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia 
Belanda dan Indonesia 1764-1962" (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang 
dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan 
pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun 
sebelum BO, dan perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal 
yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya 
mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali 
bukan 20 Mei 1908. 

(Bersambung/Rizki Ridyasmara)

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Kupretist
Sent: Tuesday, January 08, 2008 1:28 PM
To: [email protected]
Subject: [kmnu2000] Tanggapan 20 mei bukan hari kebangkitan nasional
>>khusus buat mas Anam

 


Nama saya memang Kupret, lengkapnya Kupret el Kazhiem, mas Anam. Jadi
gak perlu sok pake eufimisme dalam menyindir saya. Dan sorry saya paling
males dengar nama serta nyebut nama pake Gas - Gus2, bagi saya itu
adalah ciri antek feodal yang nyebut orang lain feodal. Tapi itu
pendapat saya pribadi lho mas.

Soal postingan kemarin itu, Inget temanya mas, intinya itu
ketidaksetujuan akan hari kebangkitan nasional tanggal 20 mei, dan
persoalan alasan saya yang mengemukakan ketidaksetujuan saya itu ya
terserah asumsi saya yang jelas berbeda (mungkin) dengan opini anda. Dan
di email ini saya tidak menuduh pendapat anda yang tidak setuju dengan
saya itu suatu kesalahan, saya hanya mengemukakan kenapa dan kenapa nya
saya tidak setuju, itu tok.

Malah Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati
setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan
dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari
Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16
Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan
logis untuk menolak hal ini. 

Tapi inget sekali lagi, INI PENDAPAT SAYA PRIBADI, mau setuju ya
silahkan, mau tidak, juga silahkan, lagipula di tahun segitu itu
(1905-1908) kebanyakan para pejuang bangsa kita adalah orang Islam,
orang-orang yang memiliki wacana kebangkitan rakyat dan bangsa ini
adalah orang Islam, sedangkan penjajah belanda itu orang non Islam (mboh
ya kristen ato atheis bodo amat). Inget lo mas saya menyebutkan soal
pejuang bangsa itu pake kata KEBANYAKAN, bukan SEMUANYA. Jadi wajar-lah
jika saya berpendapat bahwa kebangkitan nasional seharusnya lahir dari
orang-orang yang berlandaskan ideolosi Islam, bukan justru dari
orang-orang yang merasa Islam sebagai batu sandungan.

Tapi inget sekali lagi, INI PENDAPAT SAYA PRIBADI, Sebagaimana pendapat
ketidaksukaan saya tentang gas-gus2 itu, mau setuju ya silahkan, mau
tidak, juga sumonggo. Itu juga sah-sah saja kan. 

---------------------------------
Sent from Yahoo! &#45; a smarter inbox.

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke