Detik hari-hari ini dipenuhi berita Pak Soeharto. Melihat fotonya saat
berbaring tak berdaya dipajang terus menerus, rasanya iba sekali.

Sebetulnya permasalah sederhana, jika ingin dibuat demikian. Suharto
sudah tidak punya keinginan apa-apa. Mungkin ia sudah melihat raut
muka malaikan Izrail. 

Tinggal para putra-putranya bersedia mengembalikan uang negara. Saya
kira, para keluarganya memang benar-benar tidak manusiawi.

ghofur 



http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/13/time/141506/idnews/878311/idkanal/10

Pak Harto 'Terminal'


Den Haag - Jangan siksa Pak Harto lebih lama lagi. Tindakan yang
diambil sebenarnya cuma menunda ajal, hanya menyiksa beliau.
Putera-puteri beliau dan orang-orang sekelilingnya harus menempatkan
diri pada posisi beliau. Ikhlaskan. Biarkan beliau pergi dengan tenang...

Dari data-data yang beredar di media a.l dari tim dokter kepresidenan,
boleh diduga Pak Harto mungkin sudah terminal. Untuk apa dan untuk
siapa semua tindakan itu? Perhatikan sinyal sakit yang beliau rasakan
dan betapa sengsaranya beliau meraih sekedar satu tarikan nafas di
kerongkongan (cheyne-stokes). Berat beban menghadapi maut dan
ketakutannya sungguh dahsyat. Tidakkah orang-orang di sekitar beliau
memperhatikan?

Jika kondisi beliau memang sudah terminal, justru tidak etis
mengupayakan harapan semu. Apalagi jika jelas ada simtom refractaire
seperti sesak nafas dan kesakitan yang tidak bisa diatasi lagi dengan
pemberian morfin. Perlu cepat diambil sikap dari sisi kepentingan
beliau, misalnya beralih ke kebijakan terminal sedation, lalu
doakanlah. Bantu beliau menyongsong ajal senyaman mungkin.

Bakti terbaik lainnya dari putera-puteri beliau sekarang adalah dengan
secara personal memintakan maaf dan menuntaskan semua utang beliau,
jika ada. Jangan sampai beliau tertahan ruhnya karena hutangnya.
Kasihan. Adapun negara tetap harus meneruskan proses perkara hukumnya.

Bagi kita semua, sungguh pada peristiwa ini terdapat ayat-ayat nyata
tentang law of reciprocity atau hukum berbalas (Al-Zalzalah: 7–8). Dan
ketika kematian datang, harta benda dan advokatmu yang setia tiada
lagi berguna. Maka berbuat baiklah. 

Keterangan Penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan
pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat
institusi penulis bekerja. ( es / es ) 



Kirim email ke