Keluarga Koruptor Sejahtera

Oleh: Ki Slametg


KEGELISAHAN menyeruak di kawasan ibu kota Hastina. Terdengar langkah cepat
berdebam, pintu ditutup kasar, kursi mewah-ketabrak patah. Kulit pisang yang
dibuang sembarangan membuat Togog jatuh terjerembab. Lecet-lecet dengkul dan
sikunya. Cepat bangun, dia berlari lagi seperti dikejar suster ngesot.


Sampai di pusat istana, Togog cepat kumpulkan penjaga, atur ini-itu. "Lung,
cepat tutup pintu gerbang istana. Siapkan pasukan tembak jitu," seru Togog
kepada Mbilung. Komandonya megap-megap, sembari telunjuk menuding,
katakatanya kadang tak terucap. Padahal, seluruh pintu istana Hastina yang
menggunakan keamanan komputer high system telah berfungsi. Istana pun
layaknya besi baja bundar yang sulit ditembus.


Togog gugup, masih belum tenang. Cepat dia raih teropong. Jauh di belakang,
di jalan raya Hastina, mobil dirusak. Bangunan pemerintah habis disambar
para punakawan. Bagong, Petruk, Gareng, mengamuk di bawah pimpinan Gatutkaca
yang sangat marah.


"Duryudana perusak negara!! Hukum yang adil," seru mereka sembari mencari
mantan presiden Duryudana yang dianggap ciptakan sistem koruptor. Korupsi
bahkan jadi budaya yang dianggap lumrah.


Tangan Mbilung'ndorong tubuh Togog menjauh dari lensa teropong. Cepat, dia
rebut teropong. Wajah Mbilung malah jadi tersenyum. "Tenang, Kang. Walau
ngamuk, juragan kita pasti bebas. Lha wong sakit saja, si bos dicintai orang
banyak hehe," ujarnya.


Togog kembali tak jenak duduk. Dia berjalan hilir mudik, Ya.. orang hargai
bos Duryudana karena dia punya uang segudang. Otak Togog bekerja keras
coba-coba menghitung kemungkinan. Mbilung lalu mengulurkan segelas Bir Cap
Kayu Cendana dingin. Uluran itu ditepis Togog. Mereka lantas terpaku dalam
keheningan.


Selama mengabdi kepada Duryudana, Togog belum pernah tahu bahwa Duryudana
dan keluarganya koruptor. Mereka baik kok sama wong cilik. "Lung, aku ingin
melacak apa benar kita ikut keluarga koruptor," suara Togog pasti. "Wis,
koen ora usah reka-reka, Kang," Mbilung cuek bicaranya.


Togog tetap teguh tekadnya. Dia mengubah diri menjadi Hyang Maya-Maya dan
mengambil cermin waktu di Kahyangan. Dia ajak Mbilung memasuki masa lalu.


Wessss..Terlihat seorang perempuan yang cantik. Putri Duryudana, Dewi
Lesmanawati, tengah shopping di pertokoan mewah di sepanjang Paris, Prancis.
Dia belanja pakaian dengan perancang busana yang selangit harganya. Segera
Togog minta cermin waktu bercerita tentang Lesmanawati.


Cermin bergerak-gerak,...tek tak tik cek cek,..wess..terlihat tulisan:
Lesmanawati, anak kedua Duryudana, tumbuh menjadi ratu lebah dari bisnis
Duryudana. Basis kerajaannya adalah Grup Godong Koro Gung. Bisnis besar
pertamanya adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol. Pembiayaannya
berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan semen milik pemerintah,
dan yayasan milik Duryudana. Jalan tol yang dipunyainya menjelma menjadi
bisnis paling menguntungkan di Hastina. Kerajaan bisnis Lesmanawati meliputi
juga telekomunikasi, perbankan, perkebunan, penggilingan tepung terigu,
konstruksi, kehutanan, serta penyulingan.


"Edan!! Ini bukan bisnis lagi, tapi angkara murka," teriak Togog. Secepat
kilat, Mbilung menutup mulut Togog dengan'tissue. Togog glagepan. "Huss kok
nuduh koen, Kang. Cermin waktumu udah rusak kali," ujar Mbilung.


Setelah bisa bernapas, Togog mendelik ke Mbilung. "Kamu ini, Lung. Cermin
ini pelacakan yang sangat canggih. Lihat ini lagi!!"


Dilayar cermin keluar tulisan lagi tentang Don Yuan Lesmana, anak pertama
Duryudana, bersama dua teman bekas anggota kelompok band rock-nya. Mereka
dibimbing masuk ke bisnis oleh Om Sengkuni. Bisnis di Bulog (Badan Urusan
Logistik), mengimpor dan mendistribusikan bahan-bahan pokok. Misalnya
terigu, gula, kacang, beras, puhung, klepon, bongkrek, tahu petis, dan pete
godog.


"Stop!!" seru Mbilung. "Tuh kan, Lesmana hanya bisnis kecil, loh," Mbilung
masih berusaha membela.


"Bisnis kecil gundulmu," sela Togog." Wong itu impor beras dan bongkrek saja
untungnya bisa miliaran. Apalagi klepon. Duitnya bisa sak langit."


Mbilung tetap membela. Togog ngotot. Mereka bersitegang sampai mulut
berbusa. Mendadak, terdengar ringkik kuda di layar cermin. Terlihat seperti
film. Sengkuni dan Durmagati naik kuda menggiring sapi-sapi gemuk. Mereka
menginjak-injak ladang yang sudah hancur. Seluruh petani dari lima desa di
Hastina Barat hanya bisa menangis.


Seorang petani yang mencoba melawan langsung dihajar cambuk Durmagati sampai
babak belur. "Hayo, siapa yang berani menentang pembebasan tanah ini. Tanah
ini mau dipakai bos Duryudana untuk peternakan sapi, ngerti?".


Para petani akhirnya pergi jadi tukang becak di kota-kota Hastina. Remuk
hati Togog melihat gambar di cermin. Mbilung cuma diam. Tanpa diminta,
mereka berdua tinggalkan istana Duryudana. Lebih baik hidup apa adanya
daripada sejahtera tapi koruptor. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke