Pelestarian Kenyataan Sejarah
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


ORANG bertanya kepada penulis, mengapa penulis memaparkan bahwa Darul Islam
dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dibentuk oleh pimpinan TNI dan Bung
Karno pada 1947?



Bukankah lebih baik kalau hal itu tetap tidak diketahui orang banyak?
Jawabnya mudah saja untuk dicari, yaitu karena sekarang—belum lagi seratus
tahun— sudah memakan korban.Yaitu mereka yang diperlakukan tidak adil akibat
adanya DI/TII itu sendiri. Untuk membuat perlakuan yang adil bagi semua
warga negara, haruslah "dibuka" masalah seperti ini agar memungkinkan kita
melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan kita. Kita lalu dapat
memproyeksikan hal-hal yang harus kita perbuat, untuk memungkinkan adanya
koreksi terhadap apa saja dan memungkinkan kita membuat langkah-langkah
koreksi itu sendiri.



Dengan demikian,kita akan tetap mampu melaksanakan perbaikan-perbaikan atas
segala tindakan kita di masa lampau. Contoh terbaik dalam hal ini adalah
bangsa Amerika Serikat. Ketika Presiden ke-3,Thomas Jefferson berbicara
dengan memusatkan perhatian pada penyelenggaraan hak-hak individu, maka dia
segera dilawan oleh Alexander Hamilton, Menteri Keuangan di masa
pemerintahan Jefferson. Hamilton mempersoalkan kecilnya hakhak negara
bagian.



Walaupun kemudian Hamilton terbunuh dalam sebuah duel pistol melawan Aaron
Burr, tetapi perhatiannya kepada hak-hak (kalau di negeri kita hak-hak
provinsi) tetap berjalan sampai hari ini. Dengan demikian, tercipta "garis
batas" pembahasan mengenai konstitusi AS dan segala macam perkembangan
politik di negeri Paman Sam itu terbatas kepada dua hal itu saja. Maka,
negeri itu tetap menjadi utuh dan kuat karena pembahasan di dalamnya tidak
pernah menjadi terlalu lebar ataupun terlalu sempit.



Memang banyak lagi isu-isu yang berkembang di luar kedua macam hak
tersebut,tetapi semuanya tidak menjadikan AS terpecah belah alias tetap
utuh. Sebuah prinsip tetap dipertahankan dari zaman Jefferson dan
Hamilton,yaitu bahwa setiap warga negara dapat saja mempersoalkan
perkembangan hak-hak individu dan hak-hak negara bagian. Itu semua tentu
berkembang karena adanya sikap saling mempercayai antara para pembela
hak-hak individu maupun hak-hak negara bagian. Kepercayaan tersebut dalam
kasus bangsa kita harus diciptakan sehingga kita mempercayai satu sama lain.




Sikap-sikap lain, seperti kesediaan secara tuntas untuk menghargai
kedaulatan hukum, rumusan-rumusan tentang orientasi pembangunan nasional,
tentu harus dilakukan karena adanya sikap saling mempercayai itu. Karenanya,
sikap untuk mau berbicara dan berdialog tentang hal-hal mendasar itu
merupakan warisan sangat berharga yang dapat kita tinggalkan untuk anak cucu
kita di kemudian hari.Tentu saja hal itu tidak perlu kita gembar-
gemborkan.Dengan demikian jelaslah,kita memerlukan kemantapan hati untuk
memelihara "garis pembatas" dalam hal ini.



Nah, membicarakan pembentukan DI/TII adalah bagian dari penciptaan kesadaran
di atas, yaitu kesadaran akan perlunya garis batas dalam
pembahasan-pembahasan atas jalannya sejarah negara kita sendiri,bahwa kita
mengerti betul alasan-alasan Panglima Besar Jenderal Sudirman memungkinkan
para asistennya (A Wahid Hasjim sebagai asisten politik, Sekarmadji Maridjan
Kartosuwiryo sebagai asisten militer, dan Bung Karno sebagai pimpinan negara
waktu itu) mengambil sikap terhadap ketentuan yang dicapai Syahrir sebagai
Perdana Menteri, yang menyetujui Persetujuan Renville, yang mewajibkan
Tentara Nasional Indonesia ditarik ke wilayah Republik Indonesia.



Ini berarti penarikan mundur TNI ke wilayah RI, yang dibatasi oleh
perjanjian tersebut kepada Jawa Tengah saja (dengan Daerah Istimewa
Yogyakarta masih menjadi bagian dari Jawa Tengah).Hanya di belakang hari
saja daerah tersebut "dilepaskan" dari Provinsi Jawa Tengah. Dalam keputusan
mereka berempat untuk mengirimkan DI/TII yang baru dibentuk ke Jawa Barat,
motifnya jelas bukanlah politik, melainkan keutuhan negara. Keputusan
menerima/membuat persetujuan Renville itulah yang sebenarnya tindakan
politik.



Keputusan mereka untuk membentuk DI/TII digerakkan oleh gairah untuk
mempertahankan RI,sedangkan belakangan keputusan Kartosuwiryo untuk
melakukan pemberontakan senjata, apa pun alasannya, adalah tindakan politik.
Mungkinkah sebagai bangsa dapat berbicara dengan santai dan terbuka mengenai
masalah di atas? Jika mungkin, berarti kita mencapai kedewasaan yang
diperlukan untuk memasuki era pembuatan "garis batas" dalam sejarah kita.
Karena itulah, penulis dengan sadar mengemukakan soal pembentukan DI/TII
itu.



Sama saja pentingnya untuk menyebutkan bahwa akibat dari Perjanjian Renville
itu ada yang berbentuk lain. Di Jawa Timur, Gubernur Belanda van der Plass
mengemukakan gagasan untuk mencegah penggunaan pondok pesantren sebagai
markas tentara gerilya. Konsep "Heilige-Stad" (kota suci) itu dimaksudkan
untuk memisahkan kaum pesantren dari perjuangan bersenjata melawan Belanda.
Maka oleh A Wahid Hasjim dan Sudiro (Residen militer Basuki, yang belakangan
menjadi wali kota pertama Jakarta Raya dan anggota DPP Partai Nasional
Indonesia), seorang kiai dengan pengaruh besar di kawasan "tapal kuda"
(kawasan berbahasa Madura di pulau Jawa) yang ternyata menerima konsep itu
dan melaksanakannya.



Mereka berdua memutuskan hukuman mati in absentia atas diri orang itu,
tetapi hukuman itu tidak jadi dilaksanakan karena segera terjadi penyerahan
kedaulatan, dan Sudiro ditarik ke Jakarta, demikian pula A Wahid Hasjim
(yang menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta). Sedangkan sikap mengampuni
diambil secara nasional. Jelaslah, bahwa pertumbuhan bangsa kita memerlukan
"kearifan historis" sebagaimana bangsa-bangsa lain juga.Kenyataan seperti
itu adalah bagian dari pertumbuhan sebuah bangsa, bukan? (*)



Jakarta, 15 Juni 2007

Penulis adalah Ketua Dewan Syura DPP PKB


[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke