Semalam saya iseng nongkrong di depan warung kopi dengan kawan saya,
kebiasaan nongkrong ya apalagi selain ngobrol ngalor ngidul, namun malam itu
sepertinya topik pembicaraan agak berbeda seperti hari sebelumnya, kali ini
pembicaraan kami lebih menjurus dan berkutat di seputar berita yang lagi hot,
apalagi kalau bukan soal kritisnya mantan presiden pak Harto tersebut.
Ternyata imbas parahnya kondisi beliau tidak hanya menyelimuti cendana dan
sekitarnya, tapi juga sampai di teras warung kopi tempat kongkow kami,
pembicaraan dibuka dengan celoteh kawan saya, "Wah cuma satu orang yang kembang
kempis, mosok yang repot satu negara." Lalu kubalas, "Ya iyalah, mantan
presiden, emangnya kamu." ucapan selanjutnya masih mengenai kebingungan dia
soal para pejabat maupun mantan pejabat yang berbondong-bondong datang
menjenguk seperti orang-orang ngalap berkah, bahkan mereka-mereka yang lama
nggak nongol sampai yang keseringan nongol di televisi, semuanya tumplek
nengokin mbah kakung ini. Yang kawan saya herankan adalah sebesar apa
pengaruhnya pak Harto itu, ia membayangkan kalau Indonesia ini sebenarnya
berada dalam satu genggaman erat yaitu di tangah seorang mantan presiden
bernama Soeharto itu.
Tetapi malah kebalikan dengan saya, kalau kawan saya itu keheranan, atau
mungkin tidak pantas dikatakan keheranan, lebih tepat kalau saya bilang takjub,
ya dia takjub dengan kharisma pak Harto yang sampai mau game over (istilah dia
lho)-nya pun tetap dihormati oleh sekian banyak orang, buktinya lihat saja
orang-orang penting yang datang menjenguk beliau. Namun lain lagi dengan saya,
saya malah asyik memikirkan bagaimana reaksi orang-orang semacam Iwan Fals,
Fadjroel Rachman, Amien Rais, Budiman Sudjatmiko, bahkan mungkin sampai Widji
Tukul -jika dia masih hidup, ketika mendengar kabar semakin memburuknya kondisi
kesehatan pak Harto, apa mereka bersorak riang, gembira atau kebingungan, dalam
arti bingung siapa lagi yang harus diadili sebagai biang korupsi atau bingung
karena tak ada figur yang dijadikan seolah lawan politik terhebat di kancah
kurusetra, ibarat ketika Ariel Sharon "kebingungan" sewaktu Yasser Arafat
meninggalkannya duluan, alias "siapa lagi nih yang gua
musuhin".
Lantas saya segera menghentikan lamunan saya itu sebelum saya benar-benar
asik dengan pikiran aneh dan mengacuhkan kawan saya yang masih asik ngoceh.
Kemudian terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, "Apa sebenarnya pak Harto itu
benar-benar pahlawan bangsa?" Pertanyaan ini terus terang menggelitik otakku
lagi untuk membagi induk dari pikiran menjadi berbagai macam sub-sub pikiran.
Benar juga, siapa tahu memang Soeharto-lah pahlawan bangsa ini. Mengapa?
Jawabannya adalah rakyat. Ya, banyak sekali kawan-kawan tongkrongan saya yang
bernasib sebagai buruh rendahan dan usianya lebih tua dari saya yang
menceritakan enaknya dulu ketika pada masa pemerintahan pak Harto, pembangunan
dan lahan pekerjaan dimana-mana, contoh saja para kuli kayu, kuli batu dan kuli
bangunan yang rata-rata mengalami penurunan pendapatan sangat drastis ketika di
era reformasi ini, dahulu seorang buruh kayu yang bekerja membuat pintu, kusen
atau furniture bisa mendapat penghasilan tiga, lima bahkan tujuh juta perbulan,
sedangkan sekarang hanya 1-2 juta saja. Demikian pula dengan rakyat kecil
lainnya yang semakin jatuh terpuruk dalam lembah pengangguran ditambah jerat
biaya hidup yang kian mahal.
Singkatnya kalau ditanya-tanya hidup rakyat kecil bisa dibilang cukup dan
tidak berada di bawah standar kemiskinan. Namun mengapa tiba-tiba reformasi
bergulir sehingga kehidupan rakyat langsung terjerambab begitu saja, apalagi
memang kemiskinan masih menjadi kehidupan mayoritas dari bangsa ini. Dan hal
itu kian parah setelah 10 tahun reformasi ini berjalan dan dielu-elukan sebagai
"jalan keselamatan dan kebangkitan."
Saya jadi berpikir, apakah reformasi itu hanya rekayasa dari kaum
cendekiawan, agamawan dan intelektual negeri ini saja? Lihat saja siapa yang
mendompleng aksi brutal rakyat Indonesia pada peristiwa mei '98 kalau bukan
propaganda-propaganda dari reformasi itu sendiri yang mana sering dikoar-kan
dari kalangan akademisi di Indonesia. Tapi ada kontoversi lain bahwa
sesungguhnya peristiwa tersebut adalah hasil dari ikut campurnya pihak asing
yang "membisiki" kalangan akademisi dimana di sini mahasiswa sebagai frontier
dalam melakukan pergerakan. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya kisah
atau mungkin selentingan para mantan saksi sejarah dan aktivis mahasiswa yang
terlibat pada peristiwa 98 lalu yang mengatakan atau bahkan mengakui bahwa
sebelum peristiwa 98 itu terjadi, di dalam kampus-kampus mereka sering
didatangi bule-bule yang ngakunya sebagai trainer-lah, duta PBB-lah, dan
semacamnya yang mengajak dan bergaul dalam seminar, forum diskusi, dan senat
atau BEM di
kampus-kampus mereka. Padahal di sana-lah aksi "pembisikkan" dari para
ekspatriat ini berlangsung.
Semua teori itu sah-sah saja, kalau mau diganti pelaku atau dalangnya
reformasi itu adalah para elite politik negeri juga tidak mengapa, yang jelas
namanya kontroversi pastinya tidak berasal dari satu isi kepala, melainkan
banyak pemikiran dan pendapat lainnya. Dan akankah semua kenangan tentang
tragedi Mei 98 itu terus hanyut hilang begitu sang pelaku utama menghembuskan
nafas terakhirnya? Saya sendiri tak tahu apakah beliau memerankan tokoh
antagonis atau protagonis dalam alur sejarah negeri ini.
Tetapi semua perasaan saya malam itu akhirnya kembali pada perkataan kawan
saya di awal, cuma satu orang yang kembang kempis kok yang repot masyarakat
satu negara, meninggal ya sudah meninggal, toh nanti juga pada nyusul. Gitu aja
kok repot..
---------------------------------
Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good
[Non-text portions of this message have been removed]