itulah masalahnya kini. subyektifitas ke-Madura-an tidak akan dianggap sebagai obyektif karena "bukan berasal dari Eropa atau Amerika". sehingga anak-anak Madura tidak percaya diri lagi, lalu menimba ilmu dari Eropa untuk membaca diri mereka sendiri dan masyarakatnya. semetara yang obyektif, meski sangat subyektif sekali mewkaili pengetahuna rezim tertentu di Eropa atau di Amerika, justru dianggap obyektif dan ilmiah. Edward Said menulis orientalism dianggap subyektif; Mudimbe menulis ttg Invention of Africa dianggap tulisan Afrika dan subyektif. para sarjana Subaltern Studies dianggap sebagai karya India, bukan "karya universal". sementara penulis dari Amerika atau Eropa, sebodoh apapun, tetap dianggap obyektif, dan universal. tidak heran, soal subyektif-obyektif ini dibongkar oleh Foucault ketika menulis ttg subyektifitas ke-Eropa-an Era Pencerahaan yang menulis sejarah mereka sendiri sebagai SEJARAH UNIVERSAL. lalu, datang Frantz Fanon nulis bahwa obyektifitas itu adalah senjata kaum kolonialis untuk mengangkangi penduduk pribumi supaya mereka tidka kreatif, dan tidak lagi bangga dengan khazanah pengetahuan mereka sendiri. dari sinilah kemudian lahir Studi Poskolonial. menurut studi ini, menjadi obyektif identik dengan menjadi pentaqlid, muqallid. (tapi, sayangnya, lagi-lagi, istilah pentaqlid buta itu hanya berlaku untuk warga NU yang fiqih minded, bukan orang seperti F. Rahman yang taqlid buta kepada modernitas Barat "yang Agung" itu!!)
----- Original Message ---- From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, February 18, 2008 3:19:10 PM Subject: RE: [kmnu2000] Respon saya Mas baso, Kalau begitu persoalannya Cuma cara pandang (view side). Tapi hal ini menjadikan segala sesuatunya menjadi subyektif dan tidak obyektif lagi begitu. Contoh tambahan sederhana: soeharto di mata orang2 golkar adalah jenderal besar dan layak menjadi pahlawan negeri ini sementara, di mata pak umar said cs.dan teman2 mahasiswa dianggap sebagai pembunuh besar dan pengkhianat bangsa ini. Dalam kerangka obyektifitas, bagaimana ukurannnya sehingga hal itu benar adanya dengan sebuah kejujuran. Who knows? syaikhul ____________ _________ _________ __ From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf Of ahmad baso Sent: Monday, February 18, 2008 2:39 PM To: [EMAIL PROTECTED] s.com Subject: [kmnu2000] Respon saya saya kira menarik respon sdr Abd A'la (ini tidak ada kaitannya dengan sst yang personal. kantor saya tetangga dengan kantornya, sama-sama di menteng!). betul, ada kiai yang demikian, dan ada kiai yang begitu, atau ada kiai yang koalisi dengan blater, atau yang lebih ekstrim lagi. tapi, persoalannya, sebuah kasus bisa menjadi model pencitraan -- atau "representasi" dalam bahasa Edward Said atau mikhyal jamai dalam bahasa Jabiri -- untuk yang lainnya, sehingga ditarik menjadi sebuah ESENSI ttg arti kai, atau menjadi kiai. bahasa sehari-hari, sebuah kasus menjadi pola untuk sebuah character assassination untuk keseluruhan. saya tidak sedang meminta membaca buku-buku Said yang njelimet itu. tapi cukup lihat sendiri misalnya, dalam khazanah NU sendiri. dalam tradisi fiqih, ada perbedaan antara logika istidlali dan logika istiqrai. yang pertama lebih deduktif, sedang yang kedua bersifat induktif. yang deduktif model FPI yang lain main konklusi tanpa tahu konteks, sedang yang istiqrai lebih konteks oriented, tidak main pukul rata. model fiqih yang dinamik dalah justru yang istiqrai ini, dan Imam Syafii sudha jago dalam soal itu. sementara yang erkembang dalam logika kaum orientalis adalah deduktif, asal pukul rata: seperti konstruk ttg "tradisdionalis" , "konservatif" , "khurafat", "jumud", dst, yang sellau dilektakna kepada kelompok islam-nasionalis tertentu. nah, ketika saya menulis NU STUDIES, saya mau justru membalik logika orientalisitk" itu, BAGAIMANA SEANDAINYA SEROANG KIAI YANG DIANGGAP KARBITAN MENULIS-BALIK TTG FAZLUR RAHMAN YANG BERKOLABORASI DENGAN REZIM MILITER AYUB KHAN DI PAKISTAN UNTUK MELANCARKAN IDE-IDE PEMBARUAN DAN MODERNISASINYA? MAKA, IA AKAN MENGATAKAN BAHWA RAHMAN ADALAH SEORANG MODERNIS OTORITER-MILITERIST IK! (ttg rahman, baca buku saya NU STUDIES bab ttg modernisme Islam) tapi, sayangnya, meski Rahman seperti itu, tidak ada yang menyebut Rahman seorang karbitan, modernis penegcut, modernis otoriter, militeristik, dan seetrusnya. tapi, sebaliknya, ektika ada kiai yang dekat-dekat dengan blater, dengan mudah langsung dicap macam-macam, sampai karbitan, penjual agama, jumud, bodoh, ....dst. malah Rahman yang "out of context" dibaca untuk konteks seorang kiai madura, untuk kemudian diuniversalisasi. ... bahwa yang namanya kiai itu seperti itu, bahwa yang namanya madura ya sepetti itu, dan yang namanya blater ya seprtrti itu ..... dst jadi, itulah yang saya maksud dengan relasi kuasa-pengetahuan. ingat cerita Iskandar Agung yang menangkap seorang perompak di laut? ia disebut perompak, sementara iskandar disebut Agung meski merampok dan menjarah dan membunuh penduduk lokal ............ ... kiai adalah "perompak" itu sementara Rahman dan murid2nya adalah "yang Agung" itu ............ ......... .... salam ab ----- Original Message ---- From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com <mailto:Syaikhul% 40capcx.com> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com <mailto:kmnu2000% 40yahoogroups. com> Sent: Monday, February 18, 2008 9:23:00 AM Subject: [kmnu2000] FW: Kiai Organik v Kiai Karbitan Salam all, Jawaban dari pak abdul a'la. Silakan dibincangkan. ____________ _________ _________ __ From: Abd A`la [mailto:abdalabs@ yahoo. com] Sent: Friday, February 15, 2008 4:37 PM To: Syaikhul Amin - MTD Subject: Re: Kiai Organik v Kiai Karbitan Assalamu'alaikum untuk semua sahabat di KMNU dan mailing list di KMNU Terima kasih respon cepatnya. Berikut tambahan catatan saya. Mohon diforward ke KMNU. Terkait dengan komentar seputar tulisan saya mengenai kyai di Jawa Pos, kita perlu kembali kepada realitas atau fenomena yang berkembang di tanah air. Jika saya menyebut kyai organik dan karbitan, bukan berarti tidak ada tipologi lain selain dua tipologi tersebut. Namun tampaknya sebagian sahabat terperangkap kepada pandangan dikotomis, dan hal ini justru yang saya hindari. Sebagai misal, ketika kita memotret keberagamaan neomodernisme versus neofundamentalisme, bukan berarti tidak ada keberagamaan lainnya. Masih ada keberagamaan modernisme klasik dan sebagainya. Hanya selain dua hal itu tidak menjadi fokus kajian. Lalu apakah itu akademik atau tidak? Bagi saya tidak ada persoalan. Orang lain berhak untuk menilai karena kebenaran ilmiah itu positif yang harus direvisi dari saat ke saat. Namun saya tetap yakin, tulisan saya masih ada dalam tataran akademik karena berangkat dari fenomena yang ada, dan menganalisisnya sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. Justru saya melihat tanggapan teman-teman yang agak emosional, ada nuansa prejudis, prakonsepsi dan sejenisnya. Tanggapan mas Baso, misalnya, yang langsung menuduh pandangan saya orientalistik, dan orientalisme pasti kurang pas dst... Jika saya menggunakan Islam normatif-historis Fazlur Rahman karena saya menganggap bahwa kerangka ini sampai derajat tertentu masih bisa untuk memotret fenomena. Kendati demikian, bukan berarti saya taqlid pada Fazlur Rahman. Dalam menyikapi pandangan saya tidak cepat-cepat menolak atau menerima, sebagaimana juga tidak bisa menerima atau menolak seutuhnya. Saya berusaha untuk bersikap apresiatif-kritis terhadap segala apa yang ada di hadapan saya. Kerangka itu saya gunakan untuk membedakan antara ajaran dan penafsiran. (di Madura orang yang disebut kiyai ada yang benar-benar berkolaborasi dengan blater. Tidak percaya, silahkan datang sendiri) Kembali ke persoalan, saya menulis berdasarkan pengamatan saya karena fenomena yang berkembang seperti itu, maka saya berusaha untuk mengungkapnya sesuai dengan kemampuan saya. Artinya ada kyai model ini, dan ada model seperti itu, bahkan ada yang model kyai simbolis (kyai yang nyaris tidak memiliki nilai kekiyaian, tapi kartu namanya pakai kyai, dan untuk mengukuhkan diri mendirikan pesantren. Namun saya pada tulisan itu tidak membahasnya) . Akhirnya, kita sebagai warga NU seharusnya tidak menutup mata atas fenomena-fenomena yang akan membiaskan NU dari jati dirinya. Oh ya mengenai kunjungan saya ke Palestina dan Israel, saya tidak pernah mengatasnamakan NU. Saya berangkat sebagai pribadi. Hanya kebetulan saja saya NU. Sayangnya banyak orang yang percaya begitu saja terhadap pemberitaan media, padahal pada umumnya tidak konfirmasi kepada saya atau delegasi. Mungkin itu dulu jawaban saya. Mohon maaf jika yang ada yang kurang berkenan. Atas segala komentarnya saya menyampaikan terima kasih. JazakumAllah ahsana al-jaza'. Wassalamu'alaikum wr. wb. al-dlaif abd a'la Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. <http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http:/tools. search.yahoo. com/newsearc h/category.php? category= shopping> [Non-text portions of this message have been removed] ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ <http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ> [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs [Non-text portions of this message have been removed]
