Baso menyangka menjadi maf`ul itu jelek dan menjadi fa`il itu selalu baik. 
Sehingga NU harus selalu menjadi fa`il dan jangan lagi menjadi maf`ul. Saya 
kira tidak bisa hitam putih seperti itu. Ada saatnya orang menjadi fa`il, dan 
di kala yang lain perlu menjadi maf`ul. Tak melulu fa`il dan tak senantiasa 
maf`ul pula.
Dalam kasus-kasus tertentu, menjadi maf`ul itu lebih tepat ketimbang menjadi 
fa`il. Itu sebabnya, dalam ilmu nahwu, maf`ul bihi kadang lebih didahulukan 
dari fa`il. Coba perhatikan: iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in. Tuhan pun rela 
menjadi maf`ul walau kerap menjadi fa`il. Sebagaimana Tuhan, kita pun mestinya 
fa`il wa maf`ul atau fa`il wa munfa`il. Kata Ibnu Arabi: Allah itu aqlun 
aaqilun wa ma`qulun, abdun `abidun wa ma'budun. Dan para sufi menganjurkan kita 
untuk meniru akhlaq Tuhan.
Saya tahunya begitu dalam kitab kuning yang diajarkan para ustadz di pesantren. 
Jangan paksa saya dengan pikiran Rahman dan Jabiri yang terlampau canggih itu. 


Sith
 
.





----- Original Message ----
From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, February 18, 2008 4:03:01 PM
Subject: [kmnu2000] Respon saya buat sdr. Syaikhul Amin (2)


Sekali lagi ttg subyektif-obyektif ini, dan kritik Poskolonial.
Seperti yang dikatakan Fanon, bahwa kritik Poskolonial bukan hanya ebrarti 
kritik kita terhadap asumsi-asumsi kolonial para sarjana Barat, berkulit putih, 
tapi juga bagaimana mereka mengubah dirinya sehingga bisa membantu proses 
dekolonisasi. 
Seperti pula yang dilakukan Gandhi, yang melakukan kritik terhadap masyarakat 
sipil, kritik terhadap peradaban Barat, tapi bukan sebuah narsisme, bukan pula 
orientalisme- terbalik. Gandhi tidak melakukan kritik terhadap kebudayaan Barat 
atau agama mereka, bukan pula mengukuhkan klaim-klaim superioritas agama Hindu 
yang dianutnya. Penilaian moral terhadap Barat bukan karena anggapan bahwa 
agama mereka inferior, akan tetapi karena dengan sepenuh hati memeluk 
kebajikan-kebajikan yang tidak pasti dari peradaban modern, mereka lantas 
mengabaikan ajaran-ajaran sejati dari Kekristenan.
Jadi, kritik Poskolonial yang mendukung proses dekolonisasi adalah juga dimulai 
ketika orang-orang Barat mulai memikirkan kembali ajaran Kekristenan mereka 
dengan sepenuhnya, dan bukan mengabaiakn atau mencampakkannya. Kritik 
Poskolonial serupa juga dilakukan oleh Cornel West dari sisi pandangan kaum 
berkulit hitam di Amerika Serikat. Melawan imperialisme Amerika menurutnya 
haruslah juga dimulai dari dalam negeri Amerika sendiri, dari dalam masyarakat 
Amerika sendiri, yakni dengan menggali kembali latar belakang dan akar-akar 
kultural dan religius mereka yang berpotensi melawan dan mengoreksi kezaliman 
kolonialisme dan imperialisme modern Amerika itu.
Pertanyaan kita, kalau kritik Poskolonial dilakukan oleh orang-orang yang 
selama ini eprnah dijajah bahkan amsih dijaha oleh negara-negara Barat, adalah 
sesuatu yang wajar dilakukan, tapi mengapa kritik Poskolonial juga perlu 
dimulai dan bersama-sama dari kalangan orang-orang Barat sendiri? 
Pasalnya dalam pandangan Fanon, kekerasan kolonialisme terhadap penduduk 
pribumi bermula dari kekerasan terhadap penduduk domestik, terhadap warga 
mereka sendiri di kampung halamnnya, di negerinya sendiri. Psikologi Bush 
yunior bisa menunjukkan hal itu. Perang terhadap terorisme dan pembenaran 
penaklukan terhadap Afghanistan dan Irak adalah kelanjutan dari perang terhadap 
warga domestik sendiri yang mendukung aborsi, yang mendukung pernikahan gay dan 
lesbian, terhadap para pendatang haram dan imigran gelap, dan terhadap 
orang-orang Hispanik dan berkulit hitam. Kekerasan kelompok-kelompok 
neo-konservatisme Bush yunior (neocons) dalam kampanye perang melawan terorisme 
adalah refleksi dari kekerasan mereka terhadap para perusak moralitas 
ke-Amerika-an yang sakral. Maka kritik Poskolonial terhadap imeprialisme Bush 
itu harus bermula dan bersama-sama bukan hanya dari para korban imeprialisme 
itu di dunia Ketiga, tapi juga dari para warga Amerika itu sendiri.
Kritik pihak yang terakhir ini terhadap kekerasan demostik kelompok 
neo-konservatif terhadap sebagian warga Amerika akan membawa mereka juga 
melakukan kritik serupa terhadap imperialisme Amerika di negara-negara Dunai 
Ketiga.

----- Original Message ----
From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Monday, February 18, 2008 3:19:10 PM
Subject: RE: [kmnu2000] Respon saya

Mas baso,

Kalau begitu persoalannya Cuma cara pandang (view side). Tapi hal ini
menjadikan segala sesuatunya menjadi subyektif dan tidak obyektif lagi
begitu.

Contoh tambahan sederhana: soeharto di mata orang2 golkar adalah
jenderal besar dan layak menjadi pahlawan negeri ini sementara, di mata
pak umar said cs.dan teman2 mahasiswa dianggap sebagai pembunuh besar
dan pengkhianat bangsa ini.

Dalam kerangka obyektifitas, bagaimana ukurannnya sehingga hal itu benar
adanya dengan sebuah kejujuran.

Who knows?

syaikhul

____________ _________ _________ __

From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:kmnu2000@ yahoogroup s.com] On
Behalf Of ahmad baso
Sent: Monday, February 18, 2008 2:39 PM
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [kmnu2000] Respon saya

saya kira menarik respon sdr Abd A'la (ini tidak ada kaitannya dengan
sst yang personal. kantor saya tetangga dengan kantornya, sama-sama di
menteng!).
betul, ada kiai yang demikian, dan ada kiai yang begitu, atau ada kiai
yang koalisi dengan blater, atau yang lebih ekstrim lagi.
tapi, persoalannya, sebuah kasus bisa menjadi model pencitraan -- atau
"representasi" dalam bahasa Edward Said atau mikhyal jamai dalam bahasa
Jabiri -- untuk yang lainnya, sehingga ditarik menjadi sebuah ESENSI ttg
arti kai, atau menjadi kiai. bahasa sehari-hari, sebuah kasus menjadi
pola untuk sebuah character assassination untuk keseluruhan. saya tidak
sedang meminta membaca buku-buku Said yang njelimet itu. 
tapi cukup lihat sendiri misalnya, dalam khazanah NU sendiri. dalam
tradisi fiqih, ada perbedaan antara logika istidlali dan logika
istiqrai. yang pertama lebih deduktif, sedang yang kedua bersifat
induktif. yang deduktif model FPI yang lain main konklusi tanpa tahu
konteks, sedang yang istiqrai lebih konteks oriented, tidak main pukul
rata. model fiqih yang dinamik dalah justru yang istiqrai ini, dan Imam
Syafii sudha jago dalam soal itu. sementara yang erkembang dalam logika
kaum orientalis adalah deduktif, asal pukul rata: seperti konstruk ttg
"tradisdionalis" , "konservatif" , "khurafat", "jumud", dst, yang sellau
dilektakna kepada kelompok islam-nasionalis tertentu.

nah, ketika saya menulis NU STUDIES, saya mau justru membalik logika
orientalisitk" itu, BAGAIMANA SEANDAINYA SEROANG KIAI YANG DIANGGAP
KARBITAN MENULIS-BALIK TTG FAZLUR RAHMAN YANG BERKOLABORASI DENGAN REZIM
MILITER AYUB KHAN DI PAKISTAN UNTUK MELANCARKAN IDE-IDE PEMBARUAN DAN
MODERNISASINYA? MAKA, IA AKAN MENGATAKAN BAHWA RAHMAN ADALAH SEORANG
MODERNIS OTORITER-MILITERIST IK! (ttg rahman, baca buku saya NU STUDIES
bab ttg modernisme Islam)
tapi, sayangnya, meski Rahman seperti itu, tidak ada yang menyebut
Rahman seorang karbitan, modernis penegcut, modernis otoriter,
militeristik, dan seetrusnya. tapi, sebaliknya, ektika ada kiai yang
dekat-dekat dengan blater, dengan mudah langsung dicap macam-macam,
sampai karbitan, penjual agama, jumud, bodoh, ....dst. 
malah Rahman yang "out of context" dibaca untuk konteks seorang kiai
madura, untuk kemudian diuniversalisasi. ... bahwa yang namanya kiai itu
seperti itu, bahwa yang namanya madura ya sepetti itu, dan yang namanya
blater ya seprtrti itu ..... dst
jadi, itulah yang saya maksud dengan relasi kuasa-pengetahuan.
ingat cerita Iskandar Agung yang menangkap seorang perompak di laut? ia
disebut perompak, sementara iskandar disebut Agung meski merampok dan
menjarah dan membunuh penduduk lokal ............ ... kiai adalah
"perompak" itu sementara Rahman dan murid2nya adalah "yang Agung" itu
............ ......... ....

salam
ab

----- Original Message ----
From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com
<mailto:Syaikhul% 40capcx.com> >
To: [EMAIL PROTECTED] s.com <mailto:kmnu2000% 40yahoogroups. com> 
Sent: Monday, February 18, 2008 9:23:00 AM
Subject: [kmnu2000] FW: Kiai Organik v Kiai Karbitan

Salam all,

Jawaban dari pak abdul a'la. Silakan dibincangkan.

____________ _________ _________ __

From: Abd A`la [mailto:abdalabs@ yahoo. com] 
Sent: Friday, February 15, 2008 4:37 PM
To: Syaikhul Amin - MTD
Subject: Re: Kiai Organik v Kiai Karbitan

Assalamu'alaikum untuk semua sahabat di KMNU dan mailing list di KMNU

Terima kasih respon cepatnya. Berikut tambahan catatan saya. Mohon
diforward ke KMNU.

Terkait dengan komentar seputar tulisan saya mengenai kyai di Jawa Pos,
kita perlu kembali kepada realitas atau fenomena yang berkembang di
tanah air. Jika saya menyebut kyai organik dan karbitan, bukan berarti
tidak ada tipologi lain selain dua tipologi tersebut. Namun tampaknya
sebagian sahabat terperangkap kepada pandangan dikotomis, dan hal ini
justru yang saya hindari. Sebagai misal, ketika kita memotret
keberagamaan neomodernisme versus neofundamentalisme, bukan berarti
tidak ada keberagamaan lainnya. Masih ada keberagamaan modernisme klasik
dan sebagainya. Hanya selain dua hal itu tidak menjadi fokus kajian.

Lalu apakah itu akademik atau tidak? Bagi saya tidak ada persoalan.
Orang lain berhak untuk menilai karena kebenaran ilmiah itu positif yang
harus direvisi dari saat ke saat. Namun saya tetap yakin, tulisan saya
masih ada dalam tataran akademik karena berangkat dari fenomena yang
ada, dan menganalisisnya sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. 

Justru saya melihat tanggapan teman-teman yang agak emosional, ada
nuansa prejudis, prakonsepsi dan sejenisnya. Tanggapan mas Baso,
misalnya, yang langsung menuduh pandangan saya orientalistik, dan
orientalisme pasti kurang pas dst... 

Jika saya menggunakan Islam normatif-historis Fazlur Rahman karena saya
menganggap bahwa kerangka ini sampai derajat tertentu masih bisa untuk
memotret fenomena. Kendati demikian, bukan berarti saya taqlid pada
Fazlur Rahman. Dalam menyikapi pandangan saya tidak cepat-cepat menolak
atau menerima, sebagaimana juga tidak bisa menerima atau menolak
seutuhnya. Saya berusaha untuk bersikap apresiatif-kritis terhadap
segala apa yang ada di hadapan saya. Kerangka itu saya gunakan untuk
membedakan antara ajaran dan penafsiran. (di Madura orang yang disebut
kiyai ada yang benar-benar berkolaborasi dengan blater. Tidak percaya,
silahkan datang sendiri)

Kembali ke persoalan, saya menulis berdasarkan pengamatan saya karena
fenomena yang berkembang seperti itu, maka saya berusaha untuk
mengungkapnya sesuai dengan kemampuan saya. Artinya ada kyai model ini,
dan ada model seperti itu, bahkan ada yang model kyai simbolis (kyai
yang nyaris tidak memiliki nilai kekiyaian, tapi kartu namanya pakai
kyai, dan untuk mengukuhkan diri mendirikan pesantren. Namun saya pada
tulisan itu tidak membahasnya) . 

Akhirnya, kita sebagai warga NU seharusnya tidak menutup mata atas
fenomena-fenomena yang akan membiaskan NU dari jati dirinya. Oh ya
mengenai kunjungan saya ke Palestina dan Israel, saya tidak pernah
mengatasnamakan NU. Saya berangkat sebagai pribadi. Hanya kebetulan saja
saya NU. Sayangnya banyak orang yang percaya begitu saja terhadap
pemberitaan media, padahal pada umumnya tidak konfirmasi kepada saya
atau delegasi. 

Mungkin itu dulu jawaban saya. Mohon maaf jika yang ada yang kurang
berkenan. Atas segala komentarnya saya menyampaikan terima kasih.
JazakumAllah ahsana al-jaza'.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

al-dlaif

abd a'la

Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
Search.
<http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http:/tools. search.yahoo.
com/newsearc
h/category.php? category= shopping> 

[Non-text portions of this message have been removed]

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ
<http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ> 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Looking for last minute shopping deals? 
Find them fast with Yahoo! Search. http://tools. search.yahoo. com/newsearch/ 
category. php?category= shopping

[Non-text portions of this message have been removed]





      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke