Kang moqsith dan daeng baso,
Bukannya menjadi maf'ul dan fail hanya berlaku dalam kalimat yg lengkap? Soal baik dan buruk adalah lain soal. Kira2 yg diinginkan daeng baso apa ya? Rasanya saya belum mudeng, karena terlampau bias jadinya... Ah itu mungkin hanya pikiran saya sahaja yg masih cetek? syaikhul ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Abd. Moqsith Ghazali Sent: Monday, February 18, 2008 5:54 PM To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Respon saya buat sdr. Syaikhul Amin (2) Baso menyangka menjadi maf`ul itu jelek dan menjadi fa`il itu selalu baik. Sehingga NU harus selalu menjadi fa`il dan jangan lagi menjadi maf`ul. Saya kira tidak bisa hitam putih seperti itu. Ada saatnya orang menjadi fa`il, dan di kala yang lain perlu menjadi maf`ul. Tak melulu fa`il dan tak senantiasa maf`ul pula. Dalam kasus-kasus tertentu, menjadi maf`ul itu lebih tepat ketimbang menjadi fa`il. Itu sebabnya, dalam ilmu nahwu, maf`ul bihi kadang lebih didahulukan dari fa`il. Coba perhatikan: iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in. Tuhan pun rela menjadi maf`ul walau kerap menjadi fa`il. Sebagaimana Tuhan, kita pun mestinya fa`il wa maf`ul atau fa`il wa munfa`il. Kata Ibnu Arabi: Allah itu aqlun aaqilun wa ma`qulun, abdun `abidun wa ma'budun. Dan para sufi menganjurkan kita untuk meniru akhlaq Tuhan. Saya tahunya begitu dalam kitab kuning yang diajarkan para ustadz di pesantren. Jangan paksa saya dengan pikiran Rahman dan Jabiri yang terlampau canggih itu. Sith . ----- Original Message ---- From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED] <mailto:ahmadbaso%40yahoo.com> > To: [email protected] <mailto:kmnu2000%40yahoogroups.com> Sent: Monday, February 18, 2008 4:03:01 PM Subject: [kmnu2000] Respon saya buat sdr. Syaikhul Amin (2) Sekali lagi ttg subyektif-obyektif ini, dan kritik Poskolonial. Seperti yang dikatakan Fanon, bahwa kritik Poskolonial bukan hanya ebrarti kritik kita terhadap asumsi-asumsi kolonial para sarjana Barat, berkulit putih, tapi juga bagaimana mereka mengubah dirinya sehingga bisa membantu proses dekolonisasi. Seperti pula yang dilakukan Gandhi, yang melakukan kritik terhadap masyarakat sipil, kritik terhadap peradaban Barat, tapi bukan sebuah narsisme, bukan pula orientalisme- terbalik. Gandhi tidak melakukan kritik terhadap kebudayaan Barat atau agama mereka, bukan pula mengukuhkan klaim-klaim superioritas agama Hindu yang dianutnya. Penilaian moral terhadap Barat bukan karena anggapan bahwa agama mereka inferior, akan tetapi karena dengan sepenuh hati memeluk kebajikan-kebajikan yang tidak pasti dari peradaban modern, mereka lantas mengabaikan ajaran-ajaran sejati dari Kekristenan. Jadi, kritik Poskolonial yang mendukung proses dekolonisasi adalah juga dimulai ketika orang-orang Barat mulai memikirkan kembali ajaran Kekristenan mereka dengan sepenuhnya, dan bukan mengabaiakn atau mencampakkannya. Kritik Poskolonial serupa juga dilakukan oleh Cornel West dari sisi pandangan kaum berkulit hitam di Amerika Serikat. Melawan imperialisme Amerika menurutnya haruslah juga dimulai dari dalam negeri Amerika sendiri, dari dalam masyarakat Amerika sendiri, yakni dengan menggali kembali latar belakang dan akar-akar kultural dan religius mereka yang berpotensi melawan dan mengoreksi kezaliman kolonialisme dan imperialisme modern Amerika itu. Pertanyaan kita, kalau kritik Poskolonial dilakukan oleh orang-orang yang selama ini eprnah dijajah bahkan amsih dijaha oleh negara-negara Barat, adalah sesuatu yang wajar dilakukan, tapi mengapa kritik Poskolonial juga perlu dimulai dan bersama-sama dari kalangan orang-orang Barat sendiri? Pasalnya dalam pandangan Fanon, kekerasan kolonialisme terhadap penduduk pribumi bermula dari kekerasan terhadap penduduk domestik, terhadap warga mereka sendiri di kampung halamnnya, di negerinya sendiri. Psikologi Bush yunior bisa menunjukkan hal itu. Perang terhadap terorisme dan pembenaran penaklukan terhadap Afghanistan dan Irak adalah kelanjutan dari perang terhadap warga domestik sendiri yang mendukung aborsi, yang mendukung pernikahan gay dan lesbian, terhadap para pendatang haram dan imigran gelap, dan terhadap orang-orang Hispanik dan berkulit hitam. Kekerasan kelompok-kelompok neo-konservatisme Bush yunior (neocons) dalam kampanye perang melawan terorisme adalah refleksi dari kekerasan mereka terhadap para perusak moralitas ke-Amerika-an yang sakral. Maka kritik Poskolonial terhadap imeprialisme Bush itu harus bermula dan bersama-sama bukan hanya dari para korban imeprialisme itu di dunia Ketiga, tapi juga dari para warga Amerika itu sendiri. Kritik pihak yang terakhir ini terhadap kekerasan demostik kelompok neo-konservatif terhadap sebagian warga Amerika akan membawa mereka juga melakukan kritik serupa terhadap imperialisme Amerika di negara-negara Dunai Ketiga. ----- Original Message ---- From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] s.com Sent: Monday, February 18, 2008 3:19:10 PM Subject: RE: [kmnu2000] Respon saya Mas baso, Kalau begitu persoalannya Cuma cara pandang (view side). Tapi hal ini menjadikan segala sesuatunya menjadi subyektif dan tidak obyektif lagi begitu. Contoh tambahan sederhana: soeharto di mata orang2 golkar adalah jenderal besar dan layak menjadi pahlawan negeri ini sementara, di mata pak umar said cs.dan teman2 mahasiswa dianggap sebagai pembunuh besar dan pengkhianat bangsa ini. Dalam kerangka obyektifitas, bagaimana ukurannnya sehingga hal itu benar adanya dengan sebuah kejujuran. Who knows? syaikhul ____________ _________ _________ __ From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:kmnu2000@ yahoogroup s.com] On Behalf Of ahmad baso Sent: Monday, February 18, 2008 2:39 PM To: [EMAIL PROTECTED] s.com Subject: [kmnu2000] Respon saya saya kira menarik respon sdr Abd A'la (ini tidak ada kaitannya dengan sst yang personal. kantor saya tetangga dengan kantornya, sama-sama di menteng!). betul, ada kiai yang demikian, dan ada kiai yang begitu, atau ada kiai yang koalisi dengan blater, atau yang lebih ekstrim lagi. tapi, persoalannya, sebuah kasus bisa menjadi model pencitraan -- atau "representasi" dalam bahasa Edward Said atau mikhyal jamai dalam bahasa Jabiri -- untuk yang lainnya, sehingga ditarik menjadi sebuah ESENSI ttg arti kai, atau menjadi kiai. bahasa sehari-hari, sebuah kasus menjadi pola untuk sebuah character assassination untuk keseluruhan. saya tidak sedang meminta membaca buku-buku Said yang njelimet itu. tapi cukup lihat sendiri misalnya, dalam khazanah NU sendiri. dalam tradisi fiqih, ada perbedaan antara logika istidlali dan logika istiqrai. yang pertama lebih deduktif, sedang yang kedua bersifat induktif. yang deduktif model FPI yang lain main konklusi tanpa tahu konteks, sedang yang istiqrai lebih konteks oriented, tidak main pukul rata. model fiqih yang dinamik dalah justru yang istiqrai ini, dan Imam Syafii sudha jago dalam soal itu. sementara yang erkembang dalam logika kaum orientalis adalah deduktif, asal pukul rata: seperti konstruk ttg "tradisdionalis" , "konservatif" , "khurafat", "jumud", dst, yang sellau dilektakna kepada kelompok islam-nasionalis tertentu. nah, ketika saya menulis NU STUDIES, saya mau justru membalik logika orientalisitk" itu, BAGAIMANA SEANDAINYA SEROANG KIAI YANG DIANGGAP KARBITAN MENULIS-BALIK TTG FAZLUR RAHMAN YANG BERKOLABORASI DENGAN REZIM MILITER AYUB KHAN DI PAKISTAN UNTUK MELANCARKAN IDE-IDE PEMBARUAN DAN MODERNISASINYA? MAKA, IA AKAN MENGATAKAN BAHWA RAHMAN ADALAH SEORANG MODERNIS OTORITER-MILITERIST IK! (ttg rahman, baca buku saya NU STUDIES bab ttg modernisme Islam) tapi, sayangnya, meski Rahman seperti itu, tidak ada yang menyebut Rahman seorang karbitan, modernis penegcut, modernis otoriter, militeristik, dan seetrusnya. tapi, sebaliknya, ektika ada kiai yang dekat-dekat dengan blater, dengan mudah langsung dicap macam-macam, sampai karbitan, penjual agama, jumud, bodoh, ....dst. malah Rahman yang "out of context" dibaca untuk konteks seorang kiai madura, untuk kemudian diuniversalisasi. ... bahwa yang namanya kiai itu seperti itu, bahwa yang namanya madura ya sepetti itu, dan yang namanya blater ya seprtrti itu ..... dst jadi, itulah yang saya maksud dengan relasi kuasa-pengetahuan. ingat cerita Iskandar Agung yang menangkap seorang perompak di laut? ia disebut perompak, sementara iskandar disebut Agung meski merampok dan menjarah dan membunuh penduduk lokal ............ ... kiai adalah "perompak" itu sementara Rahman dan murid2nya adalah "yang Agung" itu ............ ......... .... salam ab ----- Original Message ---- From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com <mailto:Syaikhul% 40capcx.com> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com <mailto:kmnu2000% 40yahoogroups. com> Sent: Monday, February 18, 2008 9:23:00 AM Subject: [kmnu2000] FW: Kiai Organik v Kiai Karbitan Salam all, Jawaban dari pak abdul a'la. Silakan dibincangkan. ____________ _________ _________ __ From: Abd A`la [mailto:abdalabs@ yahoo. com] Sent: Friday, February 15, 2008 4:37 PM To: Syaikhul Amin - MTD Subject: Re: Kiai Organik v Kiai Karbitan Assalamu'alaikum untuk semua sahabat di KMNU dan mailing list di KMNU Terima kasih respon cepatnya. Berikut tambahan catatan saya. Mohon diforward ke KMNU. Terkait dengan komentar seputar tulisan saya mengenai kyai di Jawa Pos, kita perlu kembali kepada realitas atau fenomena yang berkembang di tanah air. Jika saya menyebut kyai organik dan karbitan, bukan berarti tidak ada tipologi lain selain dua tipologi tersebut. Namun tampaknya sebagian sahabat terperangkap kepada pandangan dikotomis, dan hal ini justru yang saya hindari. Sebagai misal, ketika kita memotret keberagamaan neomodernisme versus neofundamentalisme, bukan berarti tidak ada keberagamaan lainnya. Masih ada keberagamaan modernisme klasik dan sebagainya. Hanya selain dua hal itu tidak menjadi fokus kajian. Lalu apakah itu akademik atau tidak? Bagi saya tidak ada persoalan. Orang lain berhak untuk menilai karena kebenaran ilmiah itu positif yang harus direvisi dari saat ke saat. Namun saya tetap yakin, tulisan saya masih ada dalam tataran akademik karena berangkat dari fenomena yang ada, dan menganalisisnya sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. Justru saya melihat tanggapan teman-teman yang agak emosional, ada nuansa prejudis, prakonsepsi dan sejenisnya. Tanggapan mas Baso, misalnya, yang langsung menuduh pandangan saya orientalistik, dan orientalisme pasti kurang pas dst... Jika saya menggunakan Islam normatif-historis Fazlur Rahman karena saya menganggap bahwa kerangka ini sampai derajat tertentu masih bisa untuk memotret fenomena. Kendati demikian, bukan berarti saya taqlid pada Fazlur Rahman. Dalam menyikapi pandangan saya tidak cepat-cepat menolak atau menerima, sebagaimana juga tidak bisa menerima atau menolak seutuhnya. Saya berusaha untuk bersikap apresiatif-kritis terhadap segala apa yang ada di hadapan saya. Kerangka itu saya gunakan untuk membedakan antara ajaran dan penafsiran. (di Madura orang yang disebut kiyai ada yang benar-benar berkolaborasi dengan blater. Tidak percaya, silahkan datang sendiri) Kembali ke persoalan, saya menulis berdasarkan pengamatan saya karena fenomena yang berkembang seperti itu, maka saya berusaha untuk mengungkapnya sesuai dengan kemampuan saya. Artinya ada kyai model ini, dan ada model seperti itu, bahkan ada yang model kyai simbolis (kyai yang nyaris tidak memiliki nilai kekiyaian, tapi kartu namanya pakai kyai, dan untuk mengukuhkan diri mendirikan pesantren. Namun saya pada tulisan itu tidak membahasnya) . Akhirnya, kita sebagai warga NU seharusnya tidak menutup mata atas fenomena-fenomena yang akan membiaskan NU dari jati dirinya. Oh ya mengenai kunjungan saya ke Palestina dan Israel, saya tidak pernah mengatasnamakan NU. Saya berangkat sebagai pribadi. Hanya kebetulan saja saya NU. Sayangnya banyak orang yang percaya begitu saja terhadap pemberitaan media, padahal pada umumnya tidak konfirmasi kepada saya atau delegasi. Mungkin itu dulu jawaban saya. Mohon maaf jika yang ada yang kurang berkenan. Atas segala komentarnya saya menyampaikan terima kasih. JazakumAllah ahsana al-jaza'. Wassalamu'alaikum wr. wb. al-dlaif abd a'la Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. <http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http:/tools. search.yahoo. com/newsearc h/category.php? category= shopping> [Non-text portions of this message have been removed] ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ <http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ> [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools. search.yahoo. com/newsearch/ category. php?category= shopping [Non-text portions of this message have been removed] __________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping <http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
