Saya Memahami apa yang menjadi keresahan Bapak Ahmad Baso. Perkenalkan, saya Slamet Thohari, Saya difabel. Sejak Kecil saya kenal Polio.. saat kuliah entah berapa orang yang mewancarai saya untuk penelitiannya, aku juga tidak pernah mengerti penelitian itu hasilnya bagaimana. yang jelas, saya sering dianalisis, diobjekkan diutak-utek sampai capek. Pernah ada anak yang mmenyoting saya, dia bilang mau bantu 2 gerakan difabel. Dia bikin film, saya diwawancarai, doshotting dll. Film itu diputar, namanya harum. dia juga ke amrika membawa film tersebut. sekarang aku gak tahukabarnya anak yang bikin film tersebut.. saya dengar sudah dia bikin film lagi juga tentang minoritas.. saya pun jadi berpikir "wah.. saya yang minoritas kok dia yang terkenal".
Begitulah kaum minoritas, selalu diobjekkan. bayangkan..bagi saya dunia itu goyang-goyang, karena jalan saya pakai Kruk.. tapi di film tersebut saya agak baik.. begitulah tampilan saya. begitu pula dengan tuna netra teman saya, dunia itu gelap, tapi dalam film dunia tuna netra diobjekka, bukan dengan cara memandang tuna netra yang gelap.. tapi jelas dan terang bahkan sang tuna netra yang tampil.. Demikianlah kuasa mayoritas. Suatu hari. saya ingin membaca "orang-orang" normal dengan cara pandang saya...dunia yang bergoyang..hehehehehe Demikian dengan NU.. selalu dianalisis, diobjekkan? tidak dengan cara pandang NU, tapi dengan cara pandang orang lain? yang entah itu dari mana? Tugas aktor anak-anak muda sebenarnya adalah menjadi "panitia" agar cara pandang NU itu hadir dalam kontestasi wacana, biar sejajar.. bukan menyuarakan NU. Spivak bilang begini "This critical work can be practiced, not to give the subaltern voice, but to clear the space to allow it to speak". jadi ya "panitia".. nah biarkan subaltern itu bicara..whataver he/she wants to say..hehehe Amex, Seorang difabel. menekuni studi dan advokasi difabel. -MGR- <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam Ketika saya diminta membedah buku Bung Baso di UIN Jakarta dan IPB saya menolak kategori Bung Baso, bahwa NU itu "maf'ul", apalagi cuma karena NU yang "ditulis" oleh pengamat atau akademisi Barat. Sejak Indonesia ini belum ada, terus merdeka, hingga saat ini, NU tetap menjadi "fa'il", NU adalah kekuatan terbesar kelompok muslim tradisional di negeri ini, bagaimana mungkin jadi "maf'ul"? Tokoh NU dari Hadlratus Syeikh KH M Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Gus Dur, Pak Hasyim semua adalah "fa'ilun" Saya tidak paham kapan NU menjadi "maf'ul"? Kalau hanya karena NU "ditulis" oleh orang Barat, ini hal biasa-biasa saja, NU menarik untuk diteliti dan dijadikan objek studi, namun bukan berarti NU telah menjadi objek. Malah untuk soal ini NU bisa dikatakan ketinggalan dibanding dengan organisasi-organisasi Islam modernis yang mampu menarik perhatian sarjana Barat. Dalam pengantar buku Nakamura, Gus Dur mengulas hal ini. Dan bukan berarti juga penelitian dan tulisan orang Barat itu menjadi satu-satunya otoritas yang bisa mendefiniskan NU--hal yang sangat dikhawatirkan oleh Bung Baso-masyarakat ya tetap percaya kiai toh, bukan orang-orang "londo" itu. Bung Baso dalam bukunya juga tidak membeberkan, sudah berapa banyak orang Indonesia, baik dari Nahdliyin atau tidak yang telah menulis NU (chairul Anam, tulisan2 Gus Dur sendiri, tentang kiai2 NU, pesantren, dan masih banyak lagi tidak disebut oleh Bung Baso dalam ranah ini. Maka buku Bung Baso itu seakan-akan--tanpa menuruk pada buku2 itu--melawan sarjana dan intelektual Barat yang menulis NU sehingga menjadikan NU sebagai "maf'ul". Hal ini hanya ada dalam fikiran Bung Baso, bukan kenyataan di lapangan. Singkatnya bagi hemat saya, NU tidak pernah jadi "maf'ul" terus jadi "fa'il" dalam sejarah Indonesia, persoalannya terletak, apakah "fa'il" itu sadar atau tidak, atau apakah "fai'l" itu memiliki efektivitas, memiliki energi, kalau ini, sudah jelas solusinya adalah "taf'ilul fa'il". Namun saja setuju dengan gagasan besar dari Bung Baso, mari kita "tulis" NU! Guntur --- In [email protected], "robet_gasede" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Anam, > > Kekhawatiran ente terlalu berlebihan. Ya benar, memang sebagian > intelektual Indonesia terpengaruh oleh pola pandang, persepsi, bahkan > ideologi Barat. Tapi saya pikir tidak selamanya keterpengaruhan itu > negatif. Bahkan bagi saya, pemikiran Barat justru memperluas cakrawala > kita untuk memandang dunia ini. > > Saya tidak mendewakan pemikiran Barat. Bahkan menurut saya pemikiran > Barat bukanlah sesuatu yang final. Dan bisa terus dikritisi dan > dikembangkan. Sama saja kita bisa mengembangkan pemikiran Islam, > Indonesia, pesantren, dll. > > Jadi, penelitian terhadap kondisi sosial Indonesia, bagi saya > merupakan pengayaan keilmuan kita. Tidak murni karena tangan-tangan > Barat yang ingin menghancurkan kita. Kalau ada kekhawatiran berlebihan > seperti itu namanya West-phobia. Bagi saya jangan terlalu keras lah. > Melihat sisi negatif Indonesia -bagi saya- merupakan sebuah sikap > kritis untuk memperbaiki Indonesia sendiri. Seperti yang dilakukan > oleh Mas Abd A'la, dll. > > Masalah kita menjadi maf'ul atau menjadi fail bagi saya itu tidak bisa > dilihat secara sepintas. Sehingga yang fail hanya akan selamanya > menjadi fail, yang maful menjadi maful. Dalam kajian Prancis > kontemporer, tidak ada manusia yang beraktifitas tunggal, bahkan > ditegaskan semua individu itu mempunyai sikap dan sifat yang plural. > Ia bisa menjadi fail dan bisa menjadi maful di tempat lain. Ia menjadi > guru, tapi di tempat lain ia menjadi murid. Di pesantren, ada ustad > yang galak di kelas saat mengajar, tapi kalau ketemu kyainya ia akan > menunduk, tidak akan berani menengadahkan kepalanya, bahkan tidak > berani bicara sepatah kata pun. Pluralitas sikap, sifat, ini perlu > dikaji lebih dalam. Sehingga kita tidak semena-mena mencap keabadian > fail dan maful karena di jam sekian si zaid memukul Amr. Bisa jadi di > jam berikutnya si Amr yang memukul Zaid. > > Manusia pluralis merupakan tema yang sedang marak dikaji oleh para > sosiolog Prancis sejak tahun 1990. Mengatasi problem Indonesia tidak > cukup hanya dengan kebencian yang berlebihan kepada Barat, dan > kedongkolan kita karena kita menjadi maful saja. Justru ketika kita > terlalu fokus terhadap kemafulan kita, ini yang lebih repot. Kita > tidak percaya diri. Padahal Indonesia telah berabad-abad memiliki > peran di dalam pembangunan bangsanya, bahkan di dalam memerdekakan > dunia ketiga, khususnya di jaman Bung Karno. Kita telah lama menjadi > fail, tapi kita tidak menyadarinya. Justru itu yang problem. > > Bangsa Indonesia telah lama menjadi fail, tapi kita tidak sadar. > Penemuan-penemuan bangsa Indonesia seperti konsep pancasila, konsep > demokrasi pancasila, pembuatan pesawat gatotkaca, swasembada beras di > jaman pak harto, konsep bhineka tunggal ika, sampai pada hacker2 > handal, dan teknologi para penjiplak Vcd2, dll merupakan aset bangsa > yang harus kita hargai. Janganlah terlalu benci pada Barat sehingga > melupakan diri kita sendiri. Karena meski kita menjadi maful, tapi di > saat yang bersamaan kita bisa menjadi fail. > > Orang Barat pun seperti itu. Barat tidak risau saat menjiplak Ibn > Rushd, Ibn Sina, di abad pertengahan, dan mempelajari budaya timur dan > Islam di abad kontemporer. Sebab mereka belajar pada Timur bukan untuk > selamanya belajar, tapi untuk mengajar dan mengembangkan yang ada di > dunia ini. Sebab Ilmu itu bukan milik satu bangsa saja, tapi milik > seluruh umat manusia. Maka benarlah ucapan Ai Haibara pada Mitsuhiko > Tsuburaya di dalam sebuah novel: Ilmu bukanlah darimana kamu belajar, > tapi di mana kamu menerapkannya dan mengembangkannya. > > Ya karena kita bisa menjadi maful, sekaligus menjadi fail. Sebab > terkadang kita mempunyai dua posisi dan dua peran sekaligus. Saya > pikir ini sudah dibahas dalam Bab Istighal al-Mahal (posisi yang > ambigu/ganda). > > Salam Hangat Dari Jember > Robith Qoshidi > > > > > > > --- In [email protected], "Kh Anam" <gus.anam@> wrote: > > > > Mas Muqsith, > > Kalau sudah sampai pada bab na'ibul fail itu justru malah berbahaya, > tetep > > maf'ul tapi dibikin gembira dengan harakat rofa'; menjadi maf'ul > tapi gak > > jelas siapa fai'nya; menjadi anjing yang dipukul tapi tidak jelas > siapa yang > > mukul. (Hehe Baso kadang2 berlebihan, kalau dalam jurumiyah kan yang > dipukul > > sama said kan umar, bukan kalban). > > > > Nah fasal tentang nai'bul fail itu kalau boleh meminjam Edward > Sa'id-nya Mas > > Baso itu sudah sampai pada bab "Orientalisme Tangan Kedua", yakni > pada saat > > para orientalis sudah bisa bersuara melalui mulut orang-orang pribumi. > > Modusnya adalah dengan cara menyekolahkan orang-orang pribumi ke negeri > > barat, dicuci otaknya, lalu dikasih minum susu (hehe, seperti saat > mi'raj) > > lalu disuruh berbicara tentang timur dengan model berfikir barat > tapi atas > > nama orang timur sendiri. Lihat semua skrepsi, tesis, desertasi, selalu > > berkisah tentang timur: Misal tentang Islam madura, dll. Tidak > pernah ada > > penelitian tentang rasisme di negeri barat, dan tema-tema sejenis. > > > > Jadi begitu, > > salam semuanya > > Anam > > > > 2008/2/19 Abd. Moqsith Ghazali <moqsith@>: > > > > > Pak A`la, > > > > > > mestinya kita tak perlu khawatir ketika NU menjadi maf`ul. Sebab, > suatu > > > waktu maf`ul bisa menjadi na`ibul fa`il. Maf`ul bihi bisa mengganti > > > kedudukan fa`il, sehingga ia tak lagi dibaca nashab. Sebagaimana > fa`il, > > > na`ibul fa`il pun dibaca rafa`. Begitu kan dalam kitab asymawi > yang dahulu > > > diajarkan ustad di pesantren. > > > Dalam al-Qur'an disebut: wa khuliqa al-insanu dha`ifan. Kalau > > > dieksplisitkan, kata guru saya di kampung, ayat itu akan berbunyi: wa > > > khalaqa Allah al-insana dha`ifan. Tapi, apa boleh buat, lafadz > Allah sebagai > > > fa`il harus rela dibuang untuk digantikan lafdz al-insan sebagai > na`ibul > > > fa`il. > > > > > > NU boleh (jawaz) menjadi fa`il, naibul fa`il dan maf`ul, he..... > > > > > > Sith > > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > > From: Abd A`la <alabasyir@ <alabasyir%40telkom.net>> > > > To: KMNU NU Cabang Mesir > <[email protected]<kmnu2000%40yahoogroups.com> > > > > > > > Sent: Tuesday, February 19, 2008 1:57:04 PM > > > Subject: [kmnu2000] Fa'il-Maf'ul > > > > > > Tulisan mas Muqsith tantang fa'il dan maf'ul cukup > > > > > > menarik. Hidup adalah dinamika. > > > > > > Saya setuju bahwa kehidupan ini merupakan proses, ada > > > > > > dinamika dan geliat. Kita memang tidak akan pernah > > > > > > sempurna. Orang Jawa tidak mungkin menjadi Jawa asli. > > > > > > Demikian yang lain. Kita tidak mungkin mengisolasi dari > > > > > > realitas gerak kehidupan yang ada dis ekitar kita. > > > > > > Pengaruh luar -mau tidak mau, disadari atau tidak -pasti > > > > > > akan menjadi bagian dari identitas dan kehidupan kita. Mas > > > > > > Maqsith, misalnya, nampak sekali penguasaannnya terhadap > > > > > > ilmu nahwu. Tapi kita tidak bisa mengingkari, dia > > > > > > melakukan pemaknaan baru. Dari mana pemaknaan ini? Nah > > > > > > hasil dialog mas Maqsit6h dengan dunia luar. Karena itu, > > > > > > yang dituntut bagi kita bukan mengisolasi diri, tapi > > > > > > bagaimana melakukan dialog kritis dengan dunia sekitar > > > > > > kita > > > > > > Selamat dan terima kasih untuk semua > > > > > > abd a'la > > > > > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > > > > > > Bagi anda Pelanggan TELKOM di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. > Nikmati > > > Hari SABTU & MINGGU Anda untuk Internetan dengan tarif murah TelkomNet > > > Instant, CUMA Rp.100/menit ALL IN (termasuk pulsa telepon). > > > > > > Nomor Akses : 080989999 > > > > > > User name: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Password : telkom > > > > > > Ayo buruan, promo ini cuma berlaku sampai 31 Desember 2007 > > > > > > <!-- > > > > > > #ygrp-mkp{ > > > border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px > > > 14px;} > > > #ygrp-mkp hr{ > > > border:1px solid #d8d8d8;} > > > #ygrp-mkp #hd{ > > > > color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px > > > 0px;} > > > #ygrp-mkp #ads{ > > > margin-bottom:10px;} > > > #ygrp-mkp .ad{ > > > padding:0 0;} > > > #ygrp-mkp .ad a{ > > > color:#0000ff;text-decoration:none;} > > > --> > > > > > > <!-- > > > > > > #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ > > > font-family:Arial;} > > > #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ > > > margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} > > > #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ > > > margin-bottom:10px;padding:0 0;} > > > --> > > > > > > <!-- > > > > > > #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, > > > sans-serif;} > > > #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} > > > #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, > > > sans-serif;} > > > #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} > > > #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} > > > #ygrp-text{ > > > font-family:Georgia; > > > } > > > #ygrp-text p{ > > > margin:0 0 1em 0;} > > > #ygrp-tpmsgs{ > > > font-family:Arial; > > > clear:both;} > > > #ygrp-vitnav{ > > > padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} > > > #ygrp-vitnav a{ > > > padding:0 1px;} > > > #ygrp-actbar{ > > > clear:both;margin:25px > 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} > > > #ygrp-actbar .left{ > > > float:left;white-space:nowrap;} > > > .bld{font-weight:bold;} > > > #ygrp-grft{ > > > font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} > > > #ygrp-ft{ > > > font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; > > > padding:5px 0; > > > } > > > #ygrp-mlmsg #logo{ > > > padding-bottom:10px;} > > > > > > #ygrp-vital{ > > > background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} > > > #ygrp-vital #vithd{ > > > > > > > font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} > > > #ygrp-vital ul{ > > > padding:0;margin:2px 0;} > > > #ygrp-vital ul li{ > > > list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; > > > } > > > #ygrp-vital ul li .ct{ > > > > > > > font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} > > > #ygrp-vital ul li .cat{ > > > font-weight:bold;} > > > #ygrp-vital a{ > > > text-decoration:none;} > > > > > > #ygrp-vital a:hover{ > > > text-decoration:underline;} > > > > > > #ygrp-sponsor #hd{ > > > color:#999;font-size:77%;} > > > #ygrp-sponsor #ov{ > > > padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} > > > #ygrp-sponsor #ov ul{ > > > padding:0 0 0 8px;margin:0;} > > > #ygrp-sponsor #ov li{ > > > list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} > > > #ygrp-sponsor #ov li a{ > > > text-decoration:none;font-size:130%;} > > > #ygrp-sponsor #nc{ > > > background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} > > > #ygrp-sponsor .ad{ > > > padding:8px 0;} > > > #ygrp-sponsor .ad #hd1{ > > > > > > > font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} > > > #ygrp-sponsor .ad a{ > > > text-decoration:none;} > > > #ygrp-sponsor .ad a:hover{ > > > text-decoration:underline;} > > > #ygrp-sponsor .ad p{ > > > margin:0;} > > > o{font-size:0;} > > > .MsoNormal{ > > > margin:0 0 0 0;} > > > #ygrp-text tt{ > > > font-size:120%;} > > > blockquote{margin:0 0 0 4px;} > > > .replbq{margin:4;} > > > --> > > > > > > __________________________________________________________ > > > Looking for last minute shopping deals? > > > Find them fast with Yahoo! Search. > > > http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > Slamet Thohari (Amex) Yogyakarta --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. [Non-text portions of this message have been removed]
