Bagaimana itu semua bisa kita peroleh? Ya kita harus membacanya between the
lines, atau secular reading ala Edward Said, dari satu buku ke buku lainnya,
dari satu konteks pergumulan ke konteks pergumulan lainnya. Kerap kali alJabiri
menyebut bahwa pergumulannya dalam soal tradisi digerakkan oleh pergumulanany
dengan situasi ekkiniannya, dalam konteks kebangsaannya, dalam konteks
ke-Maghribi-annya. Atau sebaliknya, eprgumulannya dengan konteks kekinian
digerakkan oleh konteks pergumulan tradisi pemikiran Maghribi di masa lalu.
Untuk konteks seperti ini, kritik Tharabisyi kurnag relevan karena hanya
melihat alJabiri sebagai man of the past, bukan man of present, man of nation.
Apa yang dikatakan Tharabisyi tentang Khithab Arabi Muashir atau Maghrib
Muashir-nya Jabiri?
Dalam soal Ibn Rusyd ini, misalnya. Memang tidak sederhana masalahnya menyebut
alJabiri membela Aristo dan Ibn Rushd. Ia membaca Ibn Rusyd karena pergumulan
kekiniannya, jadi al fashl. Tapi, kemudian ia melihat, pergumulan Ibn Rusyd
dengan kekuatan-kkuatan hegemonik di masanya adalah kelanjutan dari pergumulan
alJabiri sendiri dengan masa kini, dengan kolonialisme, modernitas, gerakan
nasionalis, dan rezim militer-feodal. Jadi, al-washl. Seperti dalam soal akar
kemaghribian itu. Dalam rangka eprgumulan itu, ia misalnya kecewa ketika Ibn
Khaldun meninggalkan akar kemaghribian itu, mengembara ke Mesir, dan dari situ
ia menemukan ilmu sihir sebagai sebuah ilmu!
Jadi, al washl dan al fashl adalah sesuatu yang wajar, dalam permainan antara
yang dikatakan subyektif dengan yang dikatakan obyektif. Tidak perlu alJbiri
diajarin bagaimana menjadi obyektif yang baik kalau ia sedang melihat
kemandirian intelektualisme Maghribi dari yang masyrigi, ini dalam rangka
mengukuhkan akar kebangsaan dari sebuah produk pengetahuan. (seperti halnya
bangsa kita yang senantiasa independen dan mandiri dengan dari serbuan arus
luar, seperti Hinduisasi, Islamisasi, Kristenisasi, kolonialisme, dst. Jawa
misalnya tetap eksis sebagai sebuah Jawa dengan beragam cara dan pola strategi
identitasnya). Itu sebabnya, kalau Anda mengamati polemik Jabiri dengan Hasan
hanafi, akan tampak apa yang saya maksud tidak berkarakternya pemikiran Hassan
hanafi dibandingkan alJabiri. Kenapa berkaraketr karena ia subyektif, karena
nasionalismenya itu. (sama halnya para ulama dulu, yang memakai nama
alMakssari, al Bantani, alFalimbani, al Banajri,
alJawi, dst, makin berkarakter Jawi, maka makin produktif dan abqari).
Jadi, alJabiri menjadikan maghribi sebagai sebuah kesatuan epistemik, yang
dengannya alJabiri merasa bangga. Berbeda dengan anak Madura atau anak Jawa
yang tidak bangga dengan keMaduraan atau keJawaannya karena diajarkan oleh
para guru imperialis untuk ogah dan tidak bangga dengan yang subyektifitas
keMaduraan atau keJawaannya, sehingga mereka tidak bisa mandiri dalam berpikir.
Demikian pula, alJabiri tidak perlu disuruh untuk menjadi obyektif ketika ia
menulis proyek tetralogi kritik nalar Arab itu. Tidak ada satu pun penulis Arab
yang berani menulis ulang tradisi pemikiran Arab sejak abad 7 H smp di abad
kontemporer ini, selain Jabiri ini. selain itu, menjadi obyektif bagi Jabiri
adalah menempatkan segenap pemikiran Eropa (dan Amerika) dalam konteks
historisnya. Dari situ kemudian melakukan semacam menulis-balik terhadap
segenap produk pengetahuan Barat. Bukunya atTurats walHadatsah adalah Cara-cara
alJabiri membaca Eropa secara obyektif dan brilian dalam konteks historisitas
dan etnosentrisitasnya.
Kalau Anda menyebut Ibn Rusyd atau mazhab Syafii sudah tidak berlaku, dan
menganggap yang berlaku kini adalah John Stuart Mill, pemikiran De saussure,
pemikiran Foucault, dan pemikiran Habermas, saya kira Anda miss the point.
Soalnya, bukan perkara mengatakan mana yang relevan mana yang bukan. Tapi itu
bagian dari tradisi, yang diterima dan yang didinamisasi. Bagaimana misalnya
menjelaskan penerimaan masyarakat Nusantara yang dominan Syafii terhadap
tradisi Syiah seperti tabut, perayaan suro, 10 Muharram, basafah, bubur suro,
dst? Bagaimana misalnya menjelaskan komunitas Nusantara yang menjadikan
Fathimah dan Ali sebagai idola bacaan dalam ritual pemberkatan pernikahan?
Padahal mereka sama-sama bermazhab Syafii, tapi terbuka dengan ragam kultur
dari Syiah. Tapi tentu jangan Anda bayangkan Syiah itu seperti di Iran yang
sudah dipuritanisasi. Tidak ehran ulama Syiah sana menganggap syiah-nya
orang-orang Indonesia (seperti habib-habib dan ritual tabut dan hoya itu)
sebagai tidak asli. Jelas, tidak akan mungkin mempertemukan syiah puritan itu
dengan kultur Syafii kita.
Kecuali kalau kultur itu sudah menjinakkan tradisi Syiah itu sebagai kultur,
dan bukan sebagai proyek puritanisasi Islam, seperti Wahabi itu.
jd, tradisi pembaruan, taqrib bainal mazahib, seperti saya tunjukkan dalam buku
saya, Dirasah Nahdliyah Buku 2, sebetulnya sdha terjadi di dalam traidis itu
sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan dari laur. dan itu berlangsung dahulu
secara amali, baru kemudian diteorisasikan poda tingkat manhaji. seepti
penerimaan manthiq dalam tradisi ushul fiqih ....
AB
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/