Awliya Electric Shock, Jangan Sakiti Siapapun 
Mawlana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani (qs)
Zawiyah Oakland, Suhbat Tanggal 17 Februari 2008 
   
  
Audzu billah himinas syaithonirRojim, Bismillah hirRohmaanirRohim. Allahumma 
shalli `ala Sayyidina Muhammad hatta yarda Sayyidina Muhammad sallallahu alayhi 
wasalam.
   
  Kami terpukau dengan apa yang Grandsyaikh Abdullah Faiz qs ( almarhum) dan 
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs pernah katakan bahwa satu kata atau 
satu halaman yang mereka katakana, maka kalian dapat menuliskan sebanyak ribuan 
buku dan ribuan halaman dari apa yang mereka katakan, meskipun mereka hanya 
membuka satu halaman.
   
  Allah tidak menciptakan suatu makhluk dengan tujuan untuk menyakiti manusia. 
Allah swt tidak menyukai manusia yang menyakiti makhluk lain. Apa yang 
dibukakan kepada Awliyaullah ( Wali & Saints ) adalah samudera dari satu kata 
atau satu kalimat Burdah ( Puisi Cinta kepada Nabi Muhammad Salallahu alayhi 
wasalam). Maka ketika  kau bukakan cahaya-cahaya dari burdah itu maka pusi itu 
memukau pikiran jutaan manusia.
   
  Spiritualititas adalah dengan mencicipi. Demikian pula kecintaan kepada sang 
Nabi Muhammad saw adalah lewat mencicipi. Seperti aliran listrik pada 
lampu-lampu dan kau dapat melihatnya, namun saat kau menyentuh listrik yang 
mengalirinya, maka  kau dapat merasakan seberapa besar energi yang ada sehingga 
akan mengagetkanmu. Loncatan energi itu akan membuatmu koma selama beberapa 
saat atau bahkan dapat membunuhmu. 
  Awliyaullah melalui kesungguhan dan keshalehan mereka, maka mereka dapat 
mencicipi spiritualitas Nabi Muhammad saw. 
   
  Saat ini kita bicara mengenai kesungguhan dan keshalehan, tetapi apakah kita 
benar-benar bersungguh-sungguh atau shaleh? Tidak!!. Kesungguhan dan keshalehan 
Awliya ( Para Wali Allah ) bukanlah dengan lidah, tetapi kesungguhan atau 
keshalehan mereka adalah dengan emosi yang dengannya seluruh tubuhmu akan 
berguncang, seperti ketika engkau meminta cinta kepada seorang yang dicintai. 
   
  Seperti seseorang yang mencintai seseorang, maka dia selalu memikirkan 
tentang kekasihnya. Nabi Muhammad salallahu alayhi wasalam selalu berada dalam 
situasi Mi'raj, senantiasa mengalami kenaikan menuju sang Kekasih. Menuju Allah 
Azza wa Jalla. Cinta beliau tidak pernah berhenti. Sebagai contoh: ketika 
manusia mencintai seseorang dan mereka tidak bisa menggapai orang tersebut, 
atau saat mereka terpisah jauh atau cintanya terhalangi, maka mereka mempunyai 
emosi dari Cinta itu. Dengan emosi Cinta itu, maka mereka selalu, selalu dan 
selalu memikirkan orang yang dicintai namun saat mereka bertemu maka emosi 
itupun mereda.
   
  Namun dalam spiritualitas, emosi Cinta  itu senantiasa meningkat. Ketika 
mereka bersama, ketika mereka mendekat, seperti semakin mendekatnya Awliyaullah 
ke hadirat sang Nabi (saw),  maka cinta mereka semakin meningkat. Saat sang 
Nabi saw melakukan Mi'raj , ketika beliau semakin  mendekat dengan sang 
Kekasih, maka cinta beliau semakin naik tidak pernah berkurang. Banyak orang 
bicara tentang cinta dengan gampangnya, cinta dalam makna spiritualitas 
bukanlah begitu mudah untuk dipahami, seperti ketika kalian mengunyah permen 
atau gula- gula, atau sesuatu yang sederhana. Dalam kenyataan spiritual 
tidaklah semudah itu. Kalian harus terus memakan gula-gula spiritual, jangan 
pernah berhenti.
   
  Ketika kau makan sesendok madu, apa yang terjadi? Kau menyukainya. Kau ambil 
lagi karena rasanya enak, kemudian kau ambil  lagi dan lagi. Lalu apa yang 
terjadi? Akhirnya kau kenyang dan bosan. Tetapi  Spiritualitas bukanlah seperti 
itu. Dalam Spiritualitas, meskipun  kau tetap memakan madu, maka  mereka 
mengangkatmu ke tingkat yang lebih tinggi dimana disana ada madu jenis lain 
yang tidak serupa dengan jenis pertama, dan memiliki rasa yang jauh lebih enak 
dari madu yang pertama.
   
  Kemudian kalian naik lagi untuk menemukan madu yang lebih enak dari kedua 
jenis pertama, dengan jenis yang lain dan lain dan kau pun naik semakin tinggi 
dan tinggi untuk semakin mencicipi kemanisan spiritual. Oleh sebab itu,  Cinta 
kepada sang Nabi Muhammad salallahu alayhi wasalam adalah jenis  spiritualitas 
yang selalu naik  dan semakin naik (Mi'raj),  hal  ini seperti energi listrik 
yang kalian dapat merasakan getarannya . 
   
  Ketika kalian mencari cahaya Nabi saw,  maka kalian bukan hanya mencicipi 
manisnya cinta itu, namun kalian akan merasakan cinta itu dan energi itu datang 
dari Sayyidina Muhammad Salallahu alayhi wasalam. Saat kalian naik dalam 
tingkatan-tingkatan "mencicipi kemanisan spiritual”, maka kau akan merasakan 
semakin meningkatnya cinta yang kalian rasakan, cinta kepada sang Nabi (saw). 
Awliyaullah  selalu berada dalam kenaikan itu. Itu yang mereka rasakan. 
   
  Mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka. Itulah mengapa mereka kadang  
tidak duduk bersama orang-orang karena mereka tidak bisa, karena hati mereka 
bersama Allah dan bersama Nabi Muhammad saw.  Keberadaan orang-orang akan 
mengalihkan keberadaannya bersama Allah sehingga mereka akan kehilangan situasi 
dimana mereka berada brersama Allah dan Nabi saw.
   
  Hanya mukamaliin atau mukamaluun, al-Kummal, atau hanya bagi mereka yang 
sudah mencapai “tingkatan kesempurnaan” maka mereka mewarisinya dari Nabi 
Muhammad saw dimana didalam hadits disebutkan “ lii sa`atun ma al-khaliq was 
lii sa`atun ma al-khalq - Aku memiliki satu wajah, satu sisi bersama Tuhan-ku 
dan satu sisi lainnya bersama manusia. Awliya Allah memiliki dua sisi wajah, 
satu di Hadirat Ilahiah, satunya bicara dengan manusia, dari sinilah mereka 
mewarisinya dari Nabi Muhammad saw.
   
  Lihatlah saat ini, bagaimanakah mereka mengajari anak-anak menghafal Qur'an 
sejak masa kanak-kanak? Masihkah kalian mengajari? Dan kini di Amerika, mereka 
berkata kepadamu "Bawalah anak-anakmu dan kami akan mengajari mereka menghafal 
Qur'an." Dimasa lalu, sebelum mereka diajarkan menghafal Qur'an, maka mereka 
terlebih dahulu diajarkan menghafal Burdah, dan berjenis-jenis puisi Salawat  
tentang kecintaan kepada sang Nabi Muhammad salallahu alayhi wasalam. 
   
  Kemudian saat mereka berusia 12 tahun, mulailah diajarkan tentang 
spiritualitas, tasawwuf. Kini hal semacam itu sudah tidak terlihat lagi. Oleh 
karenanya dimasa lalu mereka lebih bijaksana dalam masalah dunya. Saat ini 
anak-anak muda terlihat lebih sekuler dalam pemahaman agamanya, kalian dapat 
membandingkan apa yang diajarkan kepada anak-anak oleh orang tua mereka sat 
ini. 
   
  Lihatlah apa yang diajarkan oleh para guru, mereka pergi ke sekolah dan ke 
masjid yang mana didalamnya tidak ada hal lain yang dipikirkan dan dibicarakan 
kecuali politik. Aspek ini tidaklah ada. Itulah kenapa mereka  yang berada di 
Wilayah Teluk di Saudi , mereka  berkata, "Tidak ada lagi Awliya. Mereka sudah 
musnah." Padahal  Awliya ada disana namun kau begitu butanya sehingga kalian 
tidak bisa melihat.
   
  ”Wa man kaana fii haadzihii dunya a'maa fa huwa fil-aakhirati a'maa wa 
adhallu sabiilaa”. Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya 
di akhirat nanti ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan yang 
benar. [Al Israa' (17):72]
   
  Awliyaullah dimasa lalu dan Awliya dimasa kini mempunyai gaya berbeda. 
Awliyaullah tahu bahwa Allah swt tidak menciptakan mahluk apapun untuk 
menyakiti para hamba-Nya. Dengan kata lain dengan cara menghindari dari 
menyakiti hambaNya, maka Allah akan menaikkanmu. Grandsyaikh Abdullah Faiz 
(alm) qs berkata bahwa Allah berfirman, "Aku mengumumkan perang kepada siapapun 
yang memusuhi para hamba-Ku." Inn Allah la yarda li `ibadihi adh-dhulm - Allah 
tidak menerima penganiayaan kepada para hamba-Nya. 
   
  Tapi lihatlah saat ini, kita menganiaya diri kita sendiri. Ketika Allah 
berfirman,”Jangan menganiaya”. Bagaimana cara kita menganiaya diri kita 
sendiri? Dengan tidak shalat. Dengan tidak mematuhi  apa yang telah Allah 
berikan kepada kita. Saat ini orang-orang sangat sulit melakukan shalat. Mereka 
lupa membaca Qur'an. Setidaknya bacalah satu halaman Qur'an atau satu juz 
setiap hari. Mereka lupa membaca surat ini atau surat itu. Jenis kehidupan 
apakah ini? Kehidupanmu seperti seekor binatang. Kini orang-orang hanya 
memikirkan materi, kehidupan binatang. Adakah yang lainnya? Tidak ada. Mereka 
tidak lagi tertarik kepada kehidupan beragama.
   
  Perhatikan apa yang Muhammad al-Busayri qs jelaskan dalam puisinya, dalam 
puisi Burdah, Beliau menuliskan- nabiyuna al-aamiru an-naahi - Nabi kita adalah 
seorang pemimpin, aamir, yang memberikan perintah, dan apa yang dilarang." Fala 
ahadun abbara fee qawlin "lam" wa la "na`m" - tidak ada yang lebih baik dari 
beliau yang berkata 'tidak' atau yang berkata 'ya'. Hanya beliaulah ketika 
mengatakan tidak' adalah berarti 'tidak' dan ketika berkata 'ya' berarti 'ya'.
   
  Itu artinya ketika beliau berjanji bahwa hal ini 'ya', dan saat beliau 
mengucap 'tidak' tetaplah bermakna 'tidak'. Beliau menuliskan - "Nabiyuna 
al-aamirun-naahi - Nabi (saw) kita adalah yang memberi perintah dan larangan." 
Itu artinya kita berada dibawah batas-batas perintah dan larangan. Apa yang 
Nabi saw  perintahkan harus kita turuti dan apa yang beliau larang, maka tidak 
boleh dikerjakan.Sangat sederhana.
   
  Grandsyaikh Abdullah Faiz qs (alm) pernah berkata bahwa Allah swt mengumumkan 
perang kepada siapapun yang memusuhi para hamba-Ku." Dan beliau menjelaskan, 
Allah swt tidak suka siapapun menyakiti para hamba-Nya. Saat kau menyakiti para 
hamba-Nya, maka Dia mengumumkan perang kepadamu."
   
  Tetapi lihatlah saat ini, berapa banyak dari kita yang menyakiti hati istri 
kita dan berapa banyak istri yang menyakiti suaminya? Terjadi dikedua belah 
pihak. Dalam satu kata, hal tersebut bisa terjadi. Kau mungkin mengatakan satu 
kata yang menyaikiti hati pasanganmu. Sekarang lihatlah pelajaran mengapa 
setiap Negara mempunyai diplomat ditiap negara, duta-duta besar? Mereka 
diajarkan berdiplomasi dengan menggunakan kata-kata yang sangat diplomatis agar 
tidak membuat semua orang naik darah. Tasawwuf mengajarkan kita hal tersebut. 
   
  Jangan kalian menggunakan kata-kata yang kasar. Dalam tasawwuf, mereka biasa 
mengajarkan anak berusia 12 tahun semua jenis kata-kata halus untuk 
menggantikan kata-kata yang kasar, 200-300 buah kata, agar tidak membuat orang 
lain marah. Apakah hal seperti  itu diajarkan lagi saat  ini? Tidak, ajaran 
seperti itu sudah lama hilang.
   
  Jadi apa yang beliau katakan? "Nabi kita adalah seseorang yang memberi 
perintah dan larangan." Apakah kita mengikuti perintah-perintah beliau saw? 
Jika iya alhamdulillah. Apakah kita patuh untuk berhenti membangkang atau 
melakukan hal-hal yang tidak beliau sukai? Jika tidak maka kita harus berusaha 
menyempurnakan diri kita sendiri semampunya.
   
  Dan Nabi Muhammad saw  berkata, fa la ahadaun abarrah fee qawl 'lam' wa la 
'na`m'. Berapa kalikah sang Nabi (saw) berkata 'tidak' dalam hidupnya dan 
berapa kalikah beliau mengucap 'ya'? Sang Nabi (saw) berkata 'tidak' hanya di 
satu tempat dan berkata 'ya' dibanyak tempat. Dimana beliau berkata 'tidak'? 
dan dia berkata. "Ma qaala la qattan -beliau tidak pernah berkata 'tidak' 
selama hidupnya kecuali dalam syahadah - Illa fii syahadatihi." 
   
  Hanya sewaktu mengucap itulah beliau berkata 'tidak'. ma qaala la, qattun 
illa fii tasyahudihi. Kecuali ketika beliau mengucap syahadah - Asyhadu an La 
ilaha ill-Allah - satu kali. Tetapi lihatlah berapa banyakkah ketika seseorang 
meminta sesuatu kepada kita dan kita berkata 'tidak'?  Baru saja mereka 
berargumentasi, sebelum kau datang. "La, la, tidak, tidak," mereka 
berargumentasi, sebagai sebuah contoh. Wa la n`am qattun illa wa ja'ahu ni`am – 
"Tidak pernah beliau berkata 'ya' kecuali datanglah rahmat dan pahala."
   
  Beliau saw tidak pernah menyangkal apapun. Hanya satu hal dalam hidup beliau 
yang disangkal yaitu tidak menyekutukan apapun dengan Allah. Untuk sisa 
semuanya beliau berkata 'ya',  dan dengannya Allah melimpahkan pada manusia 
semua jenis rahmat. Jadi bagaimana memperoleh pemahaman ayat itu, dan dari 
baris puisi burdah itu? Didalamnya adalah harta karun bagi para murid.
   
  Ketika Muhammad al-Busayri berkata,  nabiyuna al-aamirun-naahiyu. Itu artinya 
beliaulah yang dapat berkata tidak boleh melakukan sesuatu kepada seorang. 
Bashiirun wa nadhiirun. Beliaulah satu-satunya yang memberikan kabar gembira 
dan peringatan. Hanya beliau satu-satunya yang memberikan perintah. Jadi apa 
yang harus kita lakukan? Kita harus mendengarkan perintah-perintah beliau saw. 
Apakah perintah beliau saw ?
   
  Pada masa Grandsyaikh Abdullah Faiz alm, semoga Allah merahmati jiwanya, kita 
kembali ke masa Grandsyaikh, ketika kami masih muda. Dan beliau biasa 
mengucapkan banyak hal. Beliau berkata, "Aku hanya mempunyai 2 orang murid." 
Dua orang murid? Padahal kita mengetahui Grandsyaikh Abdullah qs mempunyai 
murid ratusan bahkan ribuan. Dari semua yang beliau katakan "Aku mempunyai 2 
orang murid yaitu Mawlana Syaikh Nazim qs dan Mawlana Syaikh Husayn qs." Apakah 
maksud beliau? Inilah yang penting. Apakah makna penting dari ayat: nabiyuna 
al-aamirun-naahiyu.
   
  Beliau berkata: "Mengapa aku hanya mempunyai 2 orang murid? Karena jika 
dikatakan sesuatu kepada mereka, mereka akan menerimanya tanpa keraguan dan 
keengganan, bidun taraddud. Aku minta apapun kepada mereka, mereka akan 
melakukannya tanpa keengganan." Itu artinya dia mewarisi rahasia, dia 
mewarisinya rahasia al-aamiru wan-nahiyu dari sang Nabi Muhammad salallahu 
alayhi wasalam.
 
Ketika Grandsyaikh Abdullah qs (alm) bicara, ketika mulutnya terbuka untuk 
bicara, setiap wali harus mendengarkan. Mereka mempunyai headset spiritual, 
informasi surgawi, yang telah Allah berikan kepada awliya-Nya. Beliau berkata, 
"Aku satu-satunya yang diijinkan oleh Nabi Muhammad (saw) untuk bicara pada 
zaman ini dan awliya dimanapun wajib mendengarkan. Bukan hanya awliya namun 
ta'ifatul-jinn dengan rajanya harus mendengarkan. Karena aku mewarisi rahasia 
itu dari sang Nabi (saw)." 
   
  Setetes dari samudera itu adalah bersama sang Nabi (saw). Awliya memperoleh 
setetes. Beliau berkata, "Aku hanya keran yang dapat bicara dari tingkat itu. 
Maka seluruh awliya harus mendengarkan apa yang aku katakan." Jika kita 
membahas apa yang beliau katakan, aku selalu membawa satu buku catatan, jika 
kita membahas tiap malam, ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami karena 
melampaui pikiran/nalar kita saat itu. Kau akan paham namun akan terkejut bahwa 
hal seperti itu memang ada. Beliau memperolehnya dari Nabi Muhammad (saw), min 
al-amr wan-nahiyy dari apa yang telah diperintahkan dan apa yang dilarang. 
   
  Beliau berkata, "Aku mempunyai 2 orang murid." Kemudian bagaimana dengan 
sisanya? Murid sejati adalah dia yang tidak mempunyai keraguan kepada 
Syaikhnya. Yang lain mungkin berkata, "Bisa saja benar, bisa salah." Murid 
sejati adalah seperti Abu Bakr ash-Shiddiq ra. Tanpa syak [keraguan]. Kapan pun 
Nabi Muhammad  (saw) bicara, dia akan berkata, sadaqta ya rasulullah, kau 
bicara yang sesungguhnya Ya Nabi Allah!" Saat sang Syaikh bicara apapun, maka 
jangan bertanya.
   
  Ketika saya berada di Indonesia, bersama Mawlana Syaikh Nazim qs di tahun 
2001, itu adalah pertama kali Mawlana Syaikh Nazim qs datang ke Indonesia. Dan 
alhamdulillah kami mempunyai banyak pengikut disana. Ratusan ribu. Dan sebelum 
beliau datang, aku sudah datang sebanyak 5 atau 6 kali.  Dan mereka memiliki 
satu slot program TV untukku pada sebuah TV Nasional, sebelum waktu Fajr, dan 
itu merupakan siaran langsung, dimana Mawlana bicara dan mereka melontarkan 
pertanyaan-pertanyaan.
   
  Jadi, ketika saya datang, mereka bertanya apakah Mawlana dapat turut datang 
ke studio dan siaran itu merupakan siaran langsung dan kami berada disana pada 
waktu Fajr; kami shalat Fajr dahulu baru kemudian acara dimulai. Jadi Mawlana 
berkata 'ya'. Dan saya bicara dengan si pewawancara., "biar saya disini saja, 
dan Mawlana Sayikh Nazim qs yang akan mengambil alih seluruhnya, kalian 
bertanya apapun kepadaku, maka saya tidak akan bicara didepan Mawlana Syaikh 
Nazim qs " 
   
  Orang-orang TV itu berkata, "Jangan, orang-orang menginginkan anda.Syaikh 
Hisyam, jadi, kita akan bagi pertanyaan itu, kami bertanya kepada anda dan 
kepada Syaikh Nazim qs." 
  Jadi, mereka memperkenalkan Mawlana Syaikh Nazim qs sebagai "Syaikh dari 
Syaikh Hisyam", seperti yang mereka tahu siapa aku dan kemudian sebagai "Syaikh 
Thariqah Naqsybandi yang Termasyur." Kemudian mereka melontarkan 
pertanyaan-pertanyaan kepada Mawlana Syaikh Nazim . Dan kalian tahu, bahwa ini 
siaran langsung. Lalu  pewawancara bertanya, "Syaikh Hisyam, kami ingin 
bertanya sebuah pertanyaan kepada sang Syaikh." 
   
  Mawlana Syaikh Nazim menatapnya dan berkata, "Ketika aku disini, maka tidak 
ada Syaikh; dia tidak akan bicara didepanku." Jadi aku memberitahukan kepada 
pewawancara agar hati-hati. Kini siaran langsung, dipancarkan kemana-mana ke 
Malaysia dan Indonesia. Apakah yang dilakukan? Tetap diam, menyelamatkan 
situasi. Dan si pewawancara malu dan aku malu. Kemudian seseorang menelpon 
[berkata,] "Aku ingin bertanya." Mawlana Syaikh Nazim qs berkata, saat siaran 
TV langsung, "Ketika sang Syaikh bicara, maka tidak seorangpun boleh bertanya. 
Ketika Aku bicara maka kalian dengarkan!" Kemudian pewawancara bertanya, "Kami 
mempunyai pertanyaan lain." Lalu Mawlana berkata, "Pertanyaan, berikan kepada 
Syaikh Hisyam."
   
  Sebelumnya saya akan bercerita hal lain, ketika Syaikh al-Azhar-Mesir, saat 
kami bicara tidak seorangpun diijinkan bertanya. Kau ingat ketika kita bertemu 
Syaikh Buhairi dan pergi ke kediaman Dr. Zaki bersama Syaikh Ahmad Aamir? 
Apakah yang dikatakan oleh Syaikh Buhairi? Beliau berkata, "Saat para Syaikh 
dari al-Azhar berada disini, maka tidak seorangpun diperbolehkan untuk 
melontarkan pertanyaan!"
   
  Hal ini adalah suatu Adab [tata krama yang baik]. Adab yang baik adalah tidak 
bertanya meski satu pertanyaan pun. Sang Nabi (saw) tidak pernah melontarkan 
pertanyaan dalam Qur'an Suci. Beliau tidak pernah berkata 'tidak' kecuali dalam 
syahadah. Banyak nabi lain yang bertanya, contohnya Sayyidina Musa (as). Jadi, 
awliyaullah dari pengetahuan ini dan dari cintanya, mereka mengambilnya dari 
Nabi Muhammad (saw). Maka bagi Awliya Allah haqiqat-haqiqat terbuka dan 
tingkat-tingkat pemahaman baru akan diberikan dan mereka akan terus naik, naik, 
naik tidak pernah berdiam disatu tempat. Mereka selalu bergerak. Sehingga 
Grandsyaikh biasa berkata, "Jangan melawan Allah."
   
  Bagaimana caranya melawan Allah? Dahulu hanya Raja Namrud yang berperang 
secara fisik, melemparkan anak-anak panah. Lalu Allah mengirimkan seekor elang, 
seekor burung dan Namrud  melihat darah pada anak-anak panah [anak panah itu 
mengenai elang dan elangpun jatuh meluncur turun dan dia berkata, "Oh aku telah 
membunuh Allah. " Itulah yang dia bunuh, apapun itu adalah hanya hewan.
   
  Jadi artinya, "Jangan menyakiti para hamba-Ku. Jangan mencemarkan nama baik 
mereka. Jangan berkomplot melawan siapapun. Perlihatkan tingkah laku yang baik 
kepada semua orang." Kau ingin Allah senang, Allah senang ketika kalian membuat 
senang para hamba-Nya. Semoga Allah ridho dengan kita dan membuat kita ridho 
dengan para hamba-Nya, membuat Nabi Muhammad (saw) ridho dengan kita dan 
membuat syuyukh kita ridho dengan kita. Demi kemuliaan Sayyidina Muhammad 
salallahu alayhi wasalam, Bihurmati habib, Fatihah.
   
  Wa min Allah at Tawfiq
   
  Wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com


       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke