http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.03401436&channel=2&mn=159&idx=159
Ormas Islam
Pilkada Cerai-beraikan Warga Nahdlatul Ulama
Rabu, 27 Februari 2008 | 03:40 WIB

Jakarta, Kompas - Pemilihan kepala daerah atau pilkada membuat warga 
Nahdlatul Ulama di sejumlah daerah terpolarisasi dalam kelompok-kelompok 
tertentu. Meskipun warga NU diberi kebebasan untuk menggunakan hak 
politiknya, baik hak memilih maupun hak dipilih, pemanfaatan institusi 
dan orang-orang NU oleh pasangan peserta pilkada membuat warga NU 
tercerai-berai.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi 
di Jakarta, Selasa (26/2).

Secara individual, pengurus NU boleh mendukung calon tertentu dalam 
pilkada. Namun, dukungan tersebut tidak boleh diformalkan dengan membawa 
institusi NU. ”Pemformalan dukungan justru akan membatasi pilihan warga 
NU,” kata Hasyim.

Dia mengakui, sebagai ormas keagamaan, NU dan para ulamanya memiliki 
massa sangat besar. Kondisi ini sering dimanfaatkan peserta pilkada 
untuk menggunakan massa NU. Karena itu, meskipun NU tidak aktif dalam 
pilkada, tarikan terhadap institusi dan tokoh NU tetap akan tinggi.

Akibat tindakan para calon kepala daerah tersebut, banyak ulama dan 
tokoh NU yang terjebak dalam tindakan politis para calon kepala daerah. 
Kerendahan hati para ulama untuk menerima kandidat sebagai tamu 
disalahartikan dengan pemberian dukungan bagi calon kepala daerah tertentu.

Tindakan mereka ini akhirnya merusak tatanan keulamaan. Bahkan, di 
sejumlah tempat, tindakan tersebut juga merusak hubungan antara ulama 
dan umatnya. ”Padahal, dukungan dari ulama juga belum tentu akan memberi 
jaminan keberhasilan bagi calkada (calon kepala daerah),” kata Hasyim.

Tarikan-tarikan di pilkada ini umumnya hanya menjadikan NU sebagai alat 
atau pelengkap. Setelah pilkada usai, calon yang memanfaatkan NU, menang 
atau kalah, akan kembali meninggalkan NU. ”Jika orang NU pandai 
menyikapi diri, pilkada akan menjadi rahmat. Jika tidak, pilkada hanya 
akan menjadi musykilat (masalah),” katanya.

Merusak hubungan

Secara terpisah, peneliti The Wahid Institute Rumadi mengatakan, dalam 
sejarah politik, ulama NU memang tidak pernah bersatu. Namun, di masa 
lalu, perbedaan itu tidak berkembang menjadi perpecahan ulama maupun 
merusak hubungan ulama dan masyarakat.

Kini perbedaan pandangan politik ulama sering kali berimbas pada 
perpecahan umat. Konflik yang terjadi antarulama mulai berimbas pada 
munculnya ketegangan di antara umat.

Tertariknya para ulama dan tokoh NU dalam pertikaian politik praktis 
ini, lanjut Rumadi, disebabkan belum dewasanya para ulama dan tokoh NU 
dalam menyikapi pilkada sebagai hal yang wajar. Ulama juga banyak yang 
berharap berlebihan untuk mendapatkan sesuatu melalui politik.

”Sikap ulama yang terlalu ekstrem justru akan membuat umat lari dan 
tidak patuh terhadap ulama lagi,” tegas Rumadi.

(MZW)



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke