Saya merasa dimaf'ulkan bukan tulisan saya dikritik. Saya biasa dikritik, dan dihujat. Hal itu menjadi persoalan ketika ungkapannya lebih bersifat tuduhan dibandingkan dengan analisis yang kritis; dan hal itu justru dilakukan oleh para tokoh yang menolak keberadaan maf'ul. Artinya, kita melihat bahwa masih ada semacam kesenjangan antara apa yang diwacanakan dan tindakan yang kita lakukan. Jadi persoalannya, bukan sekadar pada tataran intelektual akademis semiata, tapi juga pada tataran kecerdasan emosional, bahkan spiritual. Pada sisi ini kita masih banyak masalah (khususnya saya).
[Non-text portions of this message have been removed]
