(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm)

                "Bangkitnya kembali" Tommy Suharto


Mohon sudilah kiranya para pembaca ikut merenungkan isi berita yang dimuat
Jawapos 26 Februari 2008 mengenai “bangkit-kembalinya” Tommy Suharto, yang
menunjukkan bahwa ia masih mempunyai uang yang banyak sekali, sehingga bisa
terus mempengaruhi banyak orang (termasuk pejabat-pejabat penting negara)
dengan berbagai cara, dan meneruskan “bisnis”nya.  Sesudah membaca berita
Jawapos ini, orang bisa geleng kepala karena keheranan (atau karena geram),
sambil bertanya-tanya  “Mengapa Tommy, yang jelas-jelas adalah sampah
masyarakat dan penjahat besar itu masih bisa bertindak seperti itu?”.



Pertanyaan  semacam itu adalah wajar sekali. Sebab, seperti yang dapat
dibaca kembali dalam “Kumpulan berita tentang uang haram Tommy Suharto”
persoalan yang menyangkut Tommy Suharto merupakan cermin betapa sudah
rusaknya sistem hukum negara kita dan bejatnya moral anak Suharto ini, yang
dengan uangnya yang berlimpah-limpah itu bisa saja dengan mudah  “membeli”
para pejabat, hakim, jaksa, polisi, militer, pengacara, pejabat pajak,
pimpinan berbagai bank, pembantu-pembantu utamanya, konco-konconya,  dan
para “pengawalnya”.



Berkat itu semualah, maka persoalannya dengan masalah BPPC (urusan cengkeh,
kerugian negara Rp 1,7 triliun), masalah projek mobil Timor (utang sebesar
Rp 4,5 triliun), persoalan dengan PT Vista, simpanan uang sebesar 36 juta
dollar AS di BNP Parisbas di Guernsay, persoalan dengan Bulog (gugatan Rp 3
triliun), tetap merupakan urusan yang ruwet, atau memang sengaja dibikin
“ruwet” oleh berbagai fihak berkat banyaknya uang suapan yang bisa dimainkan
dengan berbagai cara. Kalau dibaca kembali “Kumpulan berita tentang uang
haram Tommy Suharto” maka dari bahan-bahan ini saja sudah kelihatan –
walaupun baru sebagian – wajah sebenarnya atau  jati diri Tommy Suharto ini.



Dan sosok yang seperti inilah yang ketika datang di Lampung baru-baru ini,
disambut dengan “kehormatan” yang tinggi oleh banyak orang, termasuk oleh
Gubernur Lampung dan para bupati di Lampung dan Sumatera Selatan.



Padahal, sejak Tommy memulai “bisnis”-nya (dengan berbagai fasilitas yang
berupa penyalahgunaan kekuasaan oleh bapaknya) sudah tercium bau busuknya.
Apakah sosok semacam ini masih dipercayai untuk membikin hidup para petani
Indonesia lebih baik? Dan apakah tujuan “bisnis”-nya yang sekarang sudah
berbeda dengan tujuan “bisnis”-nya yang lalu ? Singkatnya, apakah dari
seorang yang sudah menimbulkan kerugian begitu besar kepada negara dan
rakyat masih bisa diharapkan adanya kebaikan bagi kepentingan orang banyak?



Untuk lebih jelasnya, harap baca berita Jawapos itu.



  1.. Umar Said


= = =



Berita dalam Jawapos :



Tommy Soeharto Sosialisasikan Bisnis
lewat Tradisi Temu Wicara Warisan Ayah


Sering Pakai Kata Daripada dan Semangkin





“Sebulan setelah Soeharto wafat, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto
mulai rajin ke daerah. Bersama para pejabat, sang putra bungsu itu juga
menghidupkan budaya "temu wicara" dengan para petani dengan bahasa dan gaya
Pak Harto dulu.



TAHUN ini boleh jadi hari-hari yang sibuk bagi Tommy Soeharto. Lewat bendera
baru perusahaannya, PT Mandala Energi Terapanindo, perusahaan yang
memproduksi mesin pengubah batubara menjadi gas sintetis, putra kelima Pak
Harto itu mencoba bangkit lagi.



Pesanan terhadap mesin Baragas (merek yang diusung PT Mandala) memang terus
mengalir. Kamis (21/2) lalu "mengantarkan" pesanan kepada para anggota
kelompok tani di Panjang, Bandar Lampung. Dan, Maret nanti melayani order
perusahaan tekstil milik warga India di Rancaekek, Bandung. Total tahun ini
ditargetkan mampu menjual 150 unit.



Pabrik Baragas dibangun di bekas lahan pabrik mobil nasional PT Timor Putera
Nasional di Cikampek, Jawa Barat.



Selain itu, order datang dari beberapa pemesan di Kalimantan dan Sulawesi.
Untuk pasar ekspor, Tommy mengincar Kamboja, negeri yang menghormati
mendiang ayahnya karena dianggap memfasilitasi "kemerdekaan" negara
tersebut.



Saat hadir di Lampung, provinsi penghasil kopi dan lada terbesar di
Indonesia, Tommy masih seperti anak "kepala negara". Tiba di bandara dengan
pesawat carter Beechcraft 1900, Tommy langsung menuju tempat acara dengan
pengawalan voorrijders.



Di lokasi PT Sinar Alam Kencana, tempat acara, dia disambut Gubernur Lampung
H Sjahroedin Z.P., Duta Besar Kerajaan Kamboja untuk Indonesia Mr Khem
Bunnaeng, serta para bupati di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.



Mengenakan batik cokelat, celana dan sepatu hitam, Tommy menjadi pusat
perhatian. Para undangan, terutama ibu-ibu, berusaha mengabadikan wajahnya
dengan kamera handphone. Bahkan, di antara mereka ada yang meminta foto
bareng.



Puluhan fotografer maupun kamerawan pun berebut mengambil gambar presiden
komisaris PT Humpuss tersebut. Tommy memang bak selebriti. Bahkan, gubernur
Lampung pun seperti kalah pamor.



Didampingi direksi PT Humpuss, perusahaan yang menangani distribusi Baragas,
pria 46 tahun itu memberikan bingkisan kepada 40 yatim piatu. Setelah itu,
Tommy menandatangani prasasti hibah mesin Baragas kepada Kelompok Tani
Sertani yang berasal dari tiga kabupaten di Lampung.



Tommy yang beberapa tahun dipenjara di Lapas Batu, Nusakambangan, karena
kasus pembunuhan hakim agung, lalu menggelar temu wicara dengan para petani.
Lima kursi berjajar rapi berhadapan dengan para petani. Tommy duduk di
tengah, diapit Gubernur H Sjahroedin Z.P. dan para direksi PT Humpuss.



"Pak Tommy, kami para petani tolong dibantu. Kenaikan BBM ini sangat memukul
kami," curhat seorang petani.



Mendengar keluhan itu, Tommy pun menjelaskan bahwa kehadirannya di Lampung
salah satunya ingin membantu petani dengan meluncurkan produk Baragas.
Langkah yang ditempuh bukan semata-mata bisnis. Dia ingin membantu petani,
pengusaha, serta mencari energi alternatif yang ramah lingkungan dan murah.



Kepada petani, Tommy mengatakan juga sedang memproduksi pupuk organik.
Dengan produk itu, produktivitas petani akan naik 50 persen. Selain biaya
pemupukan lebih hemat (20-30 persen), produktivitas hasil pertanian akan
naik sekitar 50 persen. "Ini kalau dijalankan secara nasional, maka subsidi
pupuk semangkin tidak diperlukan lagi," katanya.



Begitu pula dengan Baragas. Menurut Tommy, kalau dijalankan secara nasional,
kelangkaan BBM yang dialami banyak pembangkit listrik tidak terjadi lagi.
Tapi, karena produknya baru tahap awal, Tommy minta waktu untuk
pengembangan. "Semoga tidak butuh waktu terlalu lama untuk bisa diwujudken.
Gensetnya bisa pakai Baragas lagi. Tidak pakai daripada solar lagi," jelas
dia disambut tepuk tangan meriah para petani.



Ada juga petani yang kritis. "Pak Tommy, jangan-jangan kalau mesin Baragas
sudah diterima petani dan petani sudah sangat tergantung, tidak ada
pembinaan terhadap mereka," katanya.



Oleh kelompok tani setempat, kata dia, unit Baragas itu dipakai untuk
pengeringan jagung. "Sejauh mana perhatian PT Humpuss sendiri terhadap
petani. Jangan sampai kasih alat, tapi petani tidak diperhatikan,"
sambungnya.



Mendengar pertanyaan itu, Tommy, seperti gaya Pak Harto dulu, hanya
tersenyum. Kata dia, mesin Baragas -harganya sekitar Rp 350 juta untuk tipe
yang kecil hingga Rp 3 miliar- bukan hanya dipakai di Lampung, tapi sudah
dipakai di berbagai daerah, bahkan negara lain. Karena itu, kata Tommy,
Humpuss tak akan meninggalkan begitu saja customer-nya, sehingga memberi
kesan jelek kepada karya asli anak bangsa ini.



Menurut Tommy, kelompok petani adalah pasar potensial Baragas. Kalau puas
dengan produknya, kata Tommy, mereka akan menyampaikan kepada teman-teman
mereka. "Untuk pembiayaan, Humpuss menyerahken ke petani sendiri, apakah
perseorangan atau kelompok," katanya.



Selama temu wicara, tampak sekali Tommy seperti mewarisi gaya sang ayah.
Senyumnya tampak sengaja ditata sedemikian rupa. Termasuk penggunaan kosa
kata Soeharto yang sangat khas, seperti "semangkin", "daripada", serta
akhiran "ken". Bedanya, kalau ada pertanyaan lucu, Soeharto membalas dengan
tawa lepas dan renyah, Tommy hanya tersenyum-senyum. (el)







No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.1/1300 - Release Date: 26/02/2008
19:50


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke