salam saudara rabbit (eh salah, robith), terimakasih atas balasannya. sebenarnya peyan mengulangi perdebatan yang telah dilakukan oleh para ulama klasik dulu. mungkin secara sederhana saya dapat mengatakan bahwa perbedaan antara gadamer di satu sisi dan schleiermacher dan orang frankfurt disisi lain adalah beda antara kecenederungan realistis dan idealis--dalam makna tertentu. gadamer berusaha memahami secara maksimal apa yang disebut memahami dan menafsirkan itu; sedang orang frankfurt berusaha mencari titik idealitas terjauh. saya masih ingat, habermas dalam buku theory of comunicative action itu berusaha memaparkan bagaimana sebuah komunikasi antara pengujar dan pendengar berusaha mencari titik kesepakan semaksimal mungkin. sedang schlaiermacher berusaha memahami keadaan-keadaan psikologis atas penafsir sehingga bisa memahami pengujar secara persis ataupun bahkan lebih baik dari pengujar itu sendiri. sedangkan emilio betti (saya tambah satu poin) berusaha mencari makna obyetif pengujaran sebagai sebuah konsensus positif.
bagi saya, habermas, schlaiermacher, dan betti bukan menafsirkan sebagai sesuatu yang dihadapi, melainkan sebagai sesuatu yang dibayangkan sedemikian rupa sehingga sempurna. hal ini naif sekali, bagi. bukankah sebuah penafsiran berarti mengambil jarak dari kesadaran pengujar dan teks, berusaha mengenali teks melalui horizon penafsir yang didekatkan melalui sebuah fusion. dan bagi saya, tak ada yang asli dalam sebuah peleburan horizon; masing-masing harus saling merelakan sedemikian rupa sehingga kesadaran makna yang baru bukanl lagi yang dimiliki oleh teks ataupun penafsir semula. bagi saya, inilah titik positif dari gadamer yang lentur. beranikah anda, saudara robith yang terhormat, untuk dapat memahami al-qur'an (kalau pada akhirnya harus diterapkan pada kitab suci itu) dengan mengaku bahwa anda mempunyai pemahaman sebaik Tuhan, atau setidaknya kanjeng nabi. atau mungkin malah lebih baik dari TUhan dan nabi? kalau anda berani, terus-terang saya akan mengakui kehebatan anda, tapi saya tak akn mengikuti jejak anda. cacat formal anda adalah bahwa anda memilih sebuah idealitas pikiran tanpa memikirkan konsekwensi terjauh dari pilihan itu. bagi saya, ini adalah tindakan yang ngawur. maaf, jangan tersinggung. untuk habermas, saya hanya mengelaborasi sejauh yang dapat disingkronkan dengan diskursus islam. di sini, saya akan menguraikan sedikit kelemahan gagasan komunikasinya. kesalahan habermas adalah, yang bersangkutan dengan tema ini, ia justru menarik titik kesempurnaan dari sebuah komunikasi. ia tak pernah membayangkan bahwaq dalam sebuah komunikasi tak pernah akan tercapai titik kesempurnaan itu. ia hanya bisa ditundukkan oleh sebuah interest yang sangat partikular dan sangat temporal. itupun terjadi bukan dalam kesempurnaan maksud seperti yang anda katakan. masing-masing dari pengujar dan pendengar mempunyai latar belakang kesadaran kebahasaan yang majemuk yang bahkan tak bisa disadari sendiri oleh masing-masing. bisakah, misalnya, kita mengkalkulasi seluruh kesadaran kebahasaan itu sehingga bisa mencari titik kesepakatan yang diinginkan. hadza laquluhu al-'aqilun. ini dalam tataran kesadaran kebahasaan. belum lagi kita dibenturkan oleh tatanan nilai yang mengikat masing-masing dari pengujar dan pendengar; dan keduanya pun kadang mempunyai sensitifitas yang berbeda. dan kalaupun kita pada akhirnya berusaha menejrnihkan sebuah komuniakasi melalui sebentuk bahasa, akhirnyapun kita paham bahwa bahasa tulis (yang menjadi bidikan hermeneutik) merupakan sebuah ajang kekerasan yang reduksionis--ia adalah sebuah penanda yang seringkali menipu. apsalagi sebuah teks sakral yang diterima oleh pemeluknya dalam sebuah horizon yang sangat majemuk dan rumit itu. saya tak bisa mempunyai bayangan--meski samar--bahwa pada akhirnya akan terjadi sebuah kesepakatan komunikasi yang tuntas. kecuali hanya sesuatu yang dibayangkan. it must be something as immagined total agreement. dan bagaimana anda dapat menyelaraskan komunasi anda sebagai seorang penafsir dengan Tuhan yang bersabda dan serba Maha Mutlak itu? sadarkan anda akan konsekwensi ini? atau barangkali anda tak pernah bersungguh-sungguh membaca habermas? kemudian recouer. dalam bukunya time and naration itu ia mengatakan bahwa penafsiran itu hanya akan mungkin ketika ia diujarkan, diceritakan, dinarasikan. bagi saya, sebuah intensi yang diujarkan dalam bentuk bahasa merupakan sebuah keharusan untuk sadar akan konsekwensi bahwa pada akhirnya tak akan pernah ada sebuah kepahaman yanh total dari sebuah memahami dan menafsirkan. ia jutru mengalami reduksi, penambahan, dan--tak jarang--kesalahpahaman yang diakui sebagai pemahaman yang obyektif. kalau anda membaca kronologi penafsiran, anda akan menemukan bahwa obyetifitas yang selalu ditekan melalui bentuk konsensus doktrin itu hanyalah sebuah pembayangan komunal. bagi saya, ini adalah bahaya besar bagi penafsiran yang kemudian lenyap begitu saja karena ia kemudian ia dilekatkan dengan adagium al-ma'lum minaddin bidlarurah. sekali lagi ini sangat berisiko, tapi sekali lagi kita mempunyai jargon bahwa suara jamaah adalah suara TUhan, sehingga "bahaya" ini tak terlalu tercium. apalagi ketika kita mendapatkan sebuah asumsi bahwa aksiden yang menjadi pembeda antara tafsir dan takwil dan diskursus tafsir konvensional adalah bahwa tafsir harus berani dinyatakan secara "syahadah" bahwa makna yang dimaksud adalah maksud TUhan. terus terang, saya ngeri membayangkan konsekwensi dari cara ini; bagaimanakah sebuah penafsiran bisa disandingkan secara sejajar dengan teks sentralnya?! bukankah dengan demikian, akan terjadi apa yang dinamakan dengan intertextuality yang sejajar? siapakah yang berani melakukan itu? anda: saudara robith? semoga tidak. dan saya tidak. itu kalau anda secara literal membaca pikiran tokoh-tokoh yang anda sebutkan. dan semoga ketika anda membaca, anda melakukan distilasi yang memadai sehingga tidak fatal jadinya. kemudian, masalah porsi yang banyak kepada penafsir: sadarkah anda apa yang dimaksud dengan menafsirkan teks--menafsirkan teks sakral agama, terutama?! bukankah ujaran ketika menjadi sebuah teks, ia sebagai maksud pengujar berarti sudah selesai sehingga yang tersisa hanya tugas penafsir untuk menyingkap misteri pemaknaannya?! dapatkan, misalnya, kita mengatakan bahwa TUhan dalam alqur'an masih merupakan dzat yang berwicara dalam bentuk pengujaran lisan nabi? dapatkan anda mengatakan itu saudara robith yang baik? saya tidak. bagi saya, wicara itu telah tertinggal dalam bentuk teks al-Qur'an yang dibukukan oleh sayyidina Usman itu. itu artinya sebagai sebuah ekspresi pengujaran, ia sudah selesai. tanggung-jawab yang tersisa adalah bagaimana memahami wicara itu--dalam serba keterbatasan dan ketotolan kita. sehingga tentu saja, porsi yang besar kemudian jatuh kepada penafsir. bukankah hal ini adalah logika yang sederhana?! bagi saya, dengan memahami hermeneutik sebagai penjelasan tentang bagaimanakah sebenarnya yang dimaksud dengan memahami dan menafsirkan itu, yang menjadi cara gadamer, kita sebenarnya berusaha dengan rendah untuk mengakui ke-serba-terbatas-an kita dalam melakukan sebuah penafsiran; untuk tak dengan tergesa-gesa melakukan obyektifikasi pemaknaan. disisi lain, ia justru merupakan hal yang paling netral dari bias--kalau memang apa yang disebut sebagai bebas bias itu memang ada di dunia ini--; ia bisa menjadi milik anak semua agama. meski saya sadar bahwa ghirah agama akan melarang kita untuk mengakui itu. tapi paling tidak, sekali lagi, ia tak mendoktrin kita untuk menggagahi sebuah penafsiran sebagai yang paling obyektif. wallahu a'lam. salam dari dermalak yunus ----- Original Message ---- From: robet_gasede <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, February 29, 2008 8:55:16 AM Subject: [kmnu2000] Re: Kritik atas Kritik Hermeneutika (Mendukung Kang Yunus) Salam Kang Yunus yang saya hormati 1. Setelah saya membaca konsep "kesadaran yang dihadapkan oleh dampak sejarah" (wirkungsgeschichtl iches Bewusstein), saya mempunyai kesimpulan bahwa konsep hermeneutika Gadamer tidak akan sampai pada makna awal penulis. Jelas Gadamer berbeda dengan Schleiermacher. Apalagi, jika kita melihat penjelasan Gadamer bahwa setiap penafsir memiliki prasangka, memiliki tradisi, dan memiliki worldview yang berbeda dengan penulis buku, saya pikir peran penafsir akan lebih besar daripada penulis.Bukan hanya itu, peran penafsir kedua dari penafsir pertama juga akan lebih besar. Ditambah lagi kalau kita melihat konsep penyatuan horizon (fusion of horizons); antara horizon penulis dan penafsir. Jika kita bandingkan dengan teori para pembela makna awal dan makna yang diinginkan penulis, akan membuat Gadamer terlihat lebih memberi (kalau tidak ingin dikatakan terpaksa) porsi yang luas bagi para penafsir. Di titik ini, konsep hermeneutika Gadamer akan terlihat cenderung mendukung relatifitas tafsir, poin yang kemudian diserang oleh Habermas dan Madzhab Frankfrut. Di sisi relatifitas ini, saya pikir ada titik kesamaan antara Roland Barthes dan Gadamer. Walaupun tentu akan ada perbedaan. Seperti halnya Gadamer disamakan dengan Heidegger, saya pikir akan reduktif. Saya pikir warna pemikiran Hegel, Dilthey, Romantisme, dll juga mewarnai pemikiran Gadamer. Tentu yang paling mewarnai pemikiran Gadamer adalah Gadamer sendiri dengan horizon intelektual dan sejarah pribadinya yang khas. 2.Dalam bukunya, Hermeneutics and Human Sciences (essay on langueage, action, interpretation) Ricouer membahas teks sebagai "terminus a quo" atau titik awal. Dan menjadikan aksi sebagai "terminus a quem" atau titik akhir. Di sisi lain, ia juga mengutip Hegel tentang kemungkinan kita menafsirkan sejarah sama seperti teks. Bahkan juga tindakan manusia bisa dijadikan bahan kajian tafsir. Sisi ini justru yang menjadi poin yang saya bidik, entah kenapa mas Yunus tidak berkomentar. Bagi saya, pengembangan wilayah kerja intelektual ini, akan menjadi pintu untuk mengembangkan tafsir dan hermeneutika. Dan Mas Yunus juga tidak berkomentar tentang penafian satu konsep hermeneutik, tidaklah berarti penafian terhadap semua konsep hermeneutik. Ala kulli hal, saya mohon petunjuk kepada anda. Saya masih pengen banyak belajar dari anda. Termasuk saya tidak bisa memahami ungkapan anda "kayaknya memang membahas hermeneutik tidak lagi menarik", tapi anehnya anda menulis hermeneutika. Mohon dijelaskan. Salam Hangat dari Jember Robith Qoshidi Nb: Maaf kepada teman milis, kalau ada semacam kelancangan di dalam ungkapan2 saya. Saya tidak bermaksud menyepelekan siapapun. Maaf dari hati yang sensitif. --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Anis Masduki" <anismasduki@ ...> wrote: > > Harusnya "adin husaini" artinya agama orang Syiah...tapi yang > bersangkutan juga anti syiah...;))) > > > salam, > am > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "-MGR-" <indunisi@> wrote: > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, zu nuz <denndariasli@ > wrote: > > > > > > dan bagi saya adyan husaini, adalah orang yang paling semangat kalo > > untuk mengkritik; > > > > Menarik anda menulis nama "adian husaini", dengan "adyan husaini", > > "adyan" yang berarti "agama-agama" namun yang bersangkutan sangat anti > > pluralisme agama, yang bersangkutan mungkin perlu ganti nama dengan > > "addin islami" saja > > > ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ [Non-text portions of this message have been removed]
