Salam hangat

Saudara Yunus, saya jadi yakin anda memang benar-benar menguasai
pemikiran Gadamer. Dan benar pendapat Gadamer bahwa pemahaman itu
adalah proses peleburan horizon penulis dan penafsir. Di titik ini,
penafsir tidak pernah akan sampai pada maksud awal penulis. Sama
seperti sampean membaca tulisan saya. Saat saya membaca komentar
sampeyan, luar biasa ke mana-mana, tapi anehnya saya merasa anda tidak
berbicara dengan saya. Dalam tulisan saya, saya tidak merasa membela
Gadamer, atau Habermas, apalagi merasa pemikiran saya sama dengan
mereka. Saya hanya mengkaji saja. 

Sebab yang benar-benar pikiran saya, yang paling akhir aja (yang
paling gak bermutu). Yang lain adalah pemaparan. Tapi anehnya
kritik-kritik anda terhadap Gadamer, Habermas,  dll, diarahkan pada
saya. Seakan-akan saya adalah tokoh yang memperbolehkan menafsirkan
secara bebas (saudele dewe). Tidak. Saya tidak mengatakan begitu. Atau
dalam kacamata Gadamer, saya berbicara begitu. Saya tidak tahu. Saya
hanya pengkaji, dan saya lebih suka kajian sejarah dan sosiologi.
Walaupun masih amatiran. Maklum belum S2 seperti sampean.

Yang jelas, saya hanya mencoba menjernihkan pikiran orang tentang
hermeneutika.  Janganlah menolak hermeneutika hanya karena itu
keilmuan produk luar. Sebab ulama dulu pun mengadopsi mantik, tapi
tidak merasa keluar dari agama. Kedua, saya mengatakan hermeneutika
itu bukan hanya untuk tafsir teks suci. Teks lain juga pakai
hermeneutika. Jadi upaya penolakan terhadap hermeneutika yang ada saat
ini hanyalah menolak sebagian dari wilayah kerja hermeneutika. Bukan
menolak seluruh hermeneutika. Ketiga, saya katakan bahwa menolak
konsep hermeneutika Gadamer tidak berarti menolak konsep hermeneutika
Schleiermacher, Betti, Dilthey, Bultman, dll. Itu ide saya. Saya tidak
merasa mengatakan lebih dari itu. 

Jadi saya tidak mengerti ungkapan anda, "...cacat formal anda adalah
bahwa anda memilih sebuah idealitas pikiran tanpa memikirkan
konsekwensi terjauh dari pilihan itu. bagi saya, ini adalah tindakan
yang ngawur. maaf, jangan tersinggung..." Apakah sampean merasa bahwa
saya sependapat dengan Gadamer, Barthes. Tidak. Coba baca sekali lagi
tulisan saya, sampean akan sadar bahwa saya tidak mengatakan itu. 
Saya hanya mengatakan di dalam pemikiran hermeneutika ada yang perlu
dikritisi dan ada yang bisa diterima.

Kalau sampean mengatakan, saya mengulang perdebatan ulama klasik. Saya
pikir anda perlu membaca ulang tulisan saya. Di situ sampean akan
memahami bahwa saya hanya menyadarkan sejarah tentang perdebatan
tentang teks, filsafat teks, tafsir di jaman klasik tidaklah tabu.
Kalau menganggap tabu kajian teks, filsafat teks, dan tafsir, kita
akan mundur dan lebih bodoh dari pemikir masa lalu. Itu adalah
pendapat saya. Saya tidak mengatakan lebih dari itu. Saya tidak tahu
kalau anda memakai kacamata Gadamer. Lagi-lagi, saya tidak tahu.

Tentang Habermas. Sampean mengungkapkan, "...kesalahan Habermas
adalah, yang bersangkutan dengan tema ini, ia justru menarik titik
kesempurnaan dari sebuah komunikasi. ia tak pernah membayangkan bahwaq
dalam sebuah komunikasi tak pernah akan tercapai titik kesempurnaan
itu..." Kebetulan saya punya buku the theory of comunicatif action,
saya beli bersamaan dengan buku ricouer, Hermeneutics and Human
Sciences (essay on language, action, interpretation), antropology
structural Strauss, Du Contract Sosial Rosseau, Mythology Barthes, dll
edisi Indonesia. Di Indonesia memang luar biasa, banyak sekali buku2
Barat yang berseliweran di sini. Saya merasa beruntung pulang ke
Indonesia. 

Sependek yang saya tahu, yang diupayakan Habermas adalah membuka ruang
komunikasi –khususnya untuk menentukan kebijakan politik-, demi
meminimalisir efek konflik. Konskwensinya, negara harus terbuka. Dan
kita harus membuka partisipasi publik. Oleh karenanya setiap kebijakan
harus diuji dalam diskursus publik. Tidak hanya dalam meja kantor
pemerintah dan ruang parlemen. Habermas tahu bahwa kesepakatan tidak
akan pernah terjadi secara tuntas. Bahkan justru Habermas memandang
legitimasi hukum bukanlah memperbanyak jumlah pendukung perorangan.
Tetapi legitimasi itu hanya bisa diperoleh melalui pembentukan proses
politik yang selalu terbuka terhadap revisi secara diskursif dan
argumentatif. Jadi tujuannya bukanlah kesepakatan tuntas, tapi hanya
proses membuka ruang publik sebesar-besarnya ikut berpartisipasi dalam
setiap kebijakan. Jangan-jangan pembacaan anda terhadap Habermas
adalah it must be something as immagined. Saya tidak tahu. 

Salam Hangat
RQ



--- In [email protected], zu nuz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> salam
> saudara rabbit (eh salah, robith), terimakasih atas balasannya.
> 
> sebenarnya peyan mengulangi perdebatan yang telah dilakukan oleh
para ulama klasik dulu. mungkin secara sederhana saya dapat mengatakan
bahwa perbedaan antara gadamer di satu sisi dan schleiermacher dan
orang frankfurt disisi lain adalah beda antara kecenederungan
realistis dan idealis--dalam makna tertentu. gadamer berusaha memahami
secara maksimal apa yang disebut memahami dan menafsirkan itu; sedang
orang frankfurt berusaha mencari titik idealitas terjauh. saya masih
ingat, habermas dalam buku theory of comunicative action itu berusaha
memaparkan bagaimana sebuah komunikasi antara pengujar dan pendengar
berusaha mencari titik kesepakan semaksimal mungkin. sedang
schlaiermacher berusaha memahami keadaan-keadaan psikologis atas
penafsir sehingga bisa memahami pengujar secara persis ataupun bahkan
lebih baik dari pengujar itu sendiri. sedangkan emilio betti (saya
tambah satu poin) berusaha mencari makna obyetif pengujaran sebagai
sebuah konsensus
>  positif.  
> 
> bagi saya, habermas, schlaiermacher, dan betti bukan menafsirkan
sebagai sesuatu yang dihadapi, melainkan sebagai sesuatu yang
dibayangkan sedemikian rupa sehingga sempurna. hal ini naif sekali,
bagi. bukankah sebuah penafsiran berarti mengambil jarak dari
kesadaran pengujar dan teks, berusaha mengenali teks melalui horizon
penafsir yang didekatkan melalui sebuah fusion. dan bagi saya, tak ada
yang asli dalam sebuah peleburan horizon;  masing-masing harus saling
merelakan sedemikian rupa sehingga kesadaran makna yang baru bukanl
lagi yang dimiliki oleh teks ataupun penafsir semula. bagi saya,
inilah titik positif dari gadamer yang lentur.
> 
> beranikah anda, saudara robith yang terhormat, untuk dapat memahami
al-qur'an (kalau pada akhirnya harus diterapkan pada kitab suci itu)
dengan mengaku bahwa anda mempunyai pemahaman sebaik Tuhan, atau
setidaknya  kanjeng nabi. atau mungkin malah lebih baik dari TUhan dan
nabi? kalau anda berani, terus-terang saya akan mengakui kehebatan
anda, tapi saya tak akn mengikuti jejak anda. 
> 
> cacat formal anda adalah bahwa anda memilih sebuah idealitas pikiran
tanpa memikirkan konsekwensi terjauh dari pilihan itu. bagi saya, ini
adalah tindakan yang ngawur. maaf, jangan tersinggung.
> 
> untuk habermas, saya hanya mengelaborasi sejauh yang dapat
disingkronkan dengan  diskursus islam. di sini, saya akan menguraikan
sedikit kelemahan gagasan komunikasinya. kesalahan habermas adalah,
yang bersangkutan dengan tema ini, ia justru menarik titik
kesempurnaan dari sebuah komunikasi. ia tak pernah membayangkan bahwaq
dalam sebuah komunikasi tak pernah akan tercapai titik kesempurnaan
itu. ia hanya bisa ditundukkan oleh sebuah interest yang sangat
partikular dan sangat temporal. itupun terjadi bukan dalam
kesempurnaan maksud seperti yang anda katakan. masing-masing dari
pengujar dan pendengar mempunyai latar belakang kesadaran kebahasaan
yang majemuk yang bahkan tak bisa disadari sendiri oleh masing-masing.
bisakah, misalnya, kita mengkalkulasi seluruh kesadaran kebahasaan itu
sehingga bisa mencari titik kesepakatan yang diinginkan. hadza
laquluhu al-'aqilun. ini dalam tataran kesadaran kebahasaan. belum
lagi kita dibenturkan oleh tatanan nilai
>  yang mengikat masing-masing dari pengujar dan pendengar; dan
keduanya pun kadang mempunyai sensitifitas yang berbeda. dan kalaupun
kita pada akhirnya berusaha menejrnihkan sebuah komuniakasi melalui
sebentuk bahasa, akhirnyapun kita paham bahwa bahasa tulis (yang
menjadi bidikan hermeneutik) merupakan sebuah ajang kekerasan yang
reduksionis--ia adalah sebuah penanda yang seringkali menipu. apsalagi
sebuah teks sakral yang diterima oleh pemeluknya dalam sebuah horizon
yang sangat majemuk dan rumit itu. saya tak bisa mempunyai
bayangan--meski samar--bahwa pada akhirnya akan terjadi sebuah
kesepakatan komunikasi yang tuntas. kecuali hanya sesuatu yang
dibayangkan. it must be something as immagined total agreement.
> 
> dan bagaimana anda dapat menyelaraskan komunasi anda sebagai seorang
penafsir dengan Tuhan yang bersabda dan serba Maha Mutlak itu?
sadarkan anda akan konsekwensi ini? atau barangkali anda tak pernah
bersungguh-sungguh membaca habermas?
> 
> kemudian recouer. dalam bukunya time and naration itu ia mengatakan
bahwa penafsiran itu hanya akan  mungkin ketika ia diujarkan,
diceritakan, dinarasikan. bagi saya, sebuah intensi yang diujarkan
dalam bentuk bahasa merupakan sebuah keharusan untuk sadar akan
konsekwensi bahwa pada akhirnya tak akan pernah ada sebuah kepahaman
yanh total dari sebuah memahami dan menafsirkan. ia jutru mengalami
reduksi, penambahan, dan--tak jarang--kesalahpahaman yang diakui
sebagai pemahaman yang obyektif. kalau anda membaca kronologi
penafsiran, anda akan menemukan bahwa obyetifitas yang selalu ditekan
melalui bentuk konsensus doktrin itu hanyalah sebuah pembayangan
komunal. bagi saya, ini adalah bahaya besar bagi penafsiran yang
kemudian lenyap begitu saja karena ia kemudian ia dilekatkan dengan
adagium al-ma'lum minaddin bidlarurah. sekali lagi ini sangat
berisiko, tapi sekali lagi kita mempunyai jargon bahwa suara jamaah
adalah suara TUhan, sehingga "bahaya" ini tak
>  terlalu tercium.  apalagi ketika kita mendapatkan sebuah asumsi
bahwa aksiden yang menjadi pembeda antara tafsir dan takwil dan
diskursus tafsir konvensional adalah bahwa tafsir harus berani
dinyatakan secara "syahadah" bahwa makna yang dimaksud adalah maksud
TUhan. terus terang, saya ngeri membayangkan konsekwensi dari cara
ini; bagaimanakah sebuah penafsiran bisa disandingkan secara sejajar
dengan teks sentralnya?! bukankah dengan demikian, akan terjadi apa
yang dinamakan dengan  intertextuality yang sejajar? siapakah yang
berani melakukan itu? anda: saudara robith? semoga tidak. dan saya tidak.
> 
> itu kalau anda secara literal membaca pikiran tokoh-tokoh yang anda
sebutkan. dan semoga ketika anda membaca, anda melakukan distilasi
yang memadai sehingga tidak fatal jadinya.
> 
> kemudian, masalah porsi yang banyak kepada penafsir: sadarkah anda
apa yang dimaksud dengan menafsirkan teks--menafsirkan teks sakral
agama, terutama?! bukankah ujaran ketika menjadi sebuah teks, ia
sebagai maksud pengujar berarti sudah selesai sehingga yang tersisa
hanya tugas penafsir untuk menyingkap misteri pemaknaannya?! dapatkan,
misalnya, kita mengatakan bahwa TUhan dalam alqur'an masih merupakan
dzat yang berwicara dalam bentuk pengujaran lisan nabi? dapatkan anda
mengatakan itu saudara robith yang baik? saya tidak. bagi saya, wicara
itu telah tertinggal dalam bentuk teks al-Qur'an yang dibukukan oleh
sayyidina Usman itu. itu artinya sebagai sebuah ekspresi pengujaran,
ia sudah selesai. tanggung-jawab yang tersisa adalah bagaimana
memahami wicara itu--dalam serba keterbatasan dan ketotolan kita.
sehingga tentu saja, porsi yang besar kemudian jatuh kepada penafsir.
bukankah hal ini adalah logika yang sederhana?!
> 
> bagi saya, dengan memahami hermeneutik sebagai penjelasan tentang
bagaimanakah sebenarnya yang dimaksud dengan memahami dan menafsirkan
itu, yang menjadi cara gadamer, kita sebenarnya berusaha dengan rendah
untuk mengakui ke-serba-terbatas-an kita dalam melakukan sebuah
penafsiran; untuk tak  dengan tergesa-gesa melakukan obyektifikasi
pemaknaan. disisi lain, ia justru merupakan hal yang paling netral
dari bias--kalau memang apa yang disebut sebagai bebas bias itu memang
ada di dunia ini--; ia bisa menjadi milik anak semua agama. meski saya
sadar bahwa ghirah agama akan melarang kita untuk mengakui itu. tapi
paling tidak, sekali lagi, ia tak mendoktrin kita untuk menggagahi
sebuah penafsiran sebagai yang paling obyektif. wallahu a'lam.
> 
> salam dari dermalak
> yunus
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: robet_gasede <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, February 29, 2008 8:55:16 AM
> Subject: [kmnu2000] Re: Kritik atas Kritik Hermeneutika (Mendukung
Kang Yunus)
> 
> Salam Kang Yunus yang saya hormati
> 
> 1. Setelah saya membaca konsep "kesadaran yang dihadapkan oleh dampak
> sejarah" (wirkungsgeschichtl iches Bewusstein), saya mempunyai
> kesimpulan bahwa konsep hermeneutika Gadamer tidak akan sampai pada
> makna awal penulis. Jelas Gadamer berbeda dengan Schleiermacher.
> Apalagi, jika kita melihat penjelasan Gadamer bahwa setiap penafsir
> memiliki prasangka, memiliki tradisi, dan memiliki worldview yang
> berbeda dengan penulis buku, saya pikir peran penafsir akan lebih
> besar daripada penulis.Bukan hanya itu, peran penafsir kedua dari
> penafsir pertama juga akan lebih besar. 
> 
> Ditambah lagi kalau kita melihat konsep penyatuan horizon (fusion of
> horizons); antara horizon penulis dan penafsir. Jika kita bandingkan
> dengan teori para pembela makna awal dan makna yang diinginkan
> penulis, akan membuat Gadamer terlihat lebih memberi (kalau tidak
> ingin dikatakan terpaksa) porsi yang luas bagi para penafsir. Di titik
> ini, konsep hermeneutika Gadamer akan terlihat cenderung mendukung
> relatifitas tafsir, poin yang kemudian diserang oleh Habermas dan
> Madzhab Frankfrut. Di sisi relatifitas ini, saya pikir ada titik
> kesamaan antara Roland Barthes dan Gadamer. Walaupun tentu akan ada
> perbedaan. Seperti halnya Gadamer disamakan dengan Heidegger, saya
> pikir akan reduktif. Saya pikir warna pemikiran Hegel, Dilthey,
> Romantisme, dll juga mewarnai pemikiran Gadamer. Tentu yang paling
> mewarnai pemikiran Gadamer adalah Gadamer sendiri dengan horizon
> intelektual dan sejarah pribadinya yang khas.Hermeneutics and Human
Sciences (essay on langueage,
> action, interpretation)
> 
> 2.Dalam bukunya, Hermeneutics and Human Sciences (essay on langueage,
> action, interpretation) Ricouer membahas teks sebagai "terminus a quo"
> atau titik awal. Dan menjadikan aksi sebagai "terminus a quem" atau
> titik akhir. Di sisi lain, ia juga mengutip Hegel tentang kemungkinan
> kita menafsirkan sejarah sama seperti teks. Bahkan juga tindakan
> manusia bisa dijadikan bahan kajian tafsir. Sisi ini justru yang
> menjadi poin yang saya bidik, entah kenapa mas Yunus tidak
> berkomentar. Bagi saya, pengembangan wilayah kerja intelektual ini,
> akan menjadi pintu untuk mengembangkan tafsir dan hermeneutika. Dan
> Mas Yunus juga tidak berkomentar tentang penafian satu konsep
> hermeneutik, tidaklah berarti penafian terhadap semua konsep
> hermeneutik. Ala kulli hal, saya mohon petunjuk kepada anda. Saya
> masih pengen banyak belajar dari anda. Termasuk saya tidak bisa
> memahami ungkapan anda "kayaknya memang membahas hermeneutik tidak
> lagi menarik", tapi anehnya anda menulis hermeneutika. Mohon dijelaskan.
> 
> Salam Hangat dari Jember
> Robith Qoshidi
> 
> Nb: Maaf kepada teman milis, kalau ada semacam kelancangan di dalam
> ungkapan2 saya. Saya tidak bermaksud menyepelekan siapapun. Maaf dari
> hati yang sensitif.
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Anis Masduki" <anismasduki@ ...>
wrote:
> >
> > Harusnya "adin husaini" artinya agama orang Syiah...tapi yang
> > bersangkutan juga anti syiah...;)))
> > 
> > 
> > salam,
> > am
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "-MGR-" <indunisi@> wrote:
> > >
> > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, zu nuz <denndariasli@ > wrote:
> > > >
> > > > dan bagi saya adyan husaini, adalah orang yang paling semangat
kalo
> > > untuk mengkritik; 
> > > 
> > > Menarik anda menulis nama "adian husaini", dengan "adyan husaini",
> > > "adyan" yang berarti "agama-agama" namun yang bersangkutan
sangat anti
> > > pluralisme agama, yang bersangkutan mungkin perlu ganti nama dengan
> > > "addin islami" saja
> > >
> >
> 
> 
>  
> 
> 
>      
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke