ISLAM DAN DEMOKRASI
Islam Bukan Sumber Permasalahan Demokratisasi
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO / Kompas Images
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra (kiri) dan 
dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz 
Magnis-Suseno menjadi pembicara dalam dialog media Jerman-Indonesia 
bertema Islam, Demokrasi, dan Kebebasan Media di Hotel Grand Hyatt, 
Jakarta, Selasa (4/3).
Rabu, 5 Maret 2008 | 01:41 WIB

Jakarta, Kompas - Pelaksanaan demokratisasi di sejumlah negara 
berpenduduk Muslim memang menimbulkan masalah. Namun, masalah ini bukan 
terjadi karena Islam sebagai agama yang dianut masyarakatnya.

Hal tersebut diungkapkan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara 
Franz Magnis-Suseno dalam dialog media Jerman-Indonesia ”Islam, 
Demokrasi, dan Kebebasan Media”, Selasa (4/3). Turut hadir sebagai 
pembicara dalam seminar tersebut adalah Hans-Ludwig Frese dari Kleio 
Humanities Bremen, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi 
Azra, dan Siti Musdah Mulia dari Indonesian Conference on Religion and 
Peace.

Menurut Magnis, permasalahan yang terjadi dalam proses demokratisasi di 
negara-negara dunia ketiga disebabkan kegagalan proses transisi 
demokrasi. Struktur masyarakat tradisional belum siap diubah menjadi 
masyarakat modern.

”Tatanan masyarakat tradisional yang sudah stabil dipaksa harus berubah 
sesuai tatanan masyarakat global. Kondisi ini membuat kemapanan sosial, 
ekonomi, keamanan, dan stabilitas dalam masyarakat menjadi terganggu,” 
katanya.

Untuk Indonesia, menurut Magnis, masalah yang terjadi selama proses 
demokratisasi selama 10 tahun terakhir lebih disebabkan akutnya korupsi 
dan pemerintahan yang lemah.

Sementara Azyumardi mengatakan, pelaksanaan demokrasi di negara 
berpenduduk Islam terbesar di dunia itu bukanlah hal baru. Sejak 
menjelang kemerdekaan, masyarakat muslim Indonesia sudah menerima 
demokrasi. Setelah mengalami demokrasi terpimpin di era Soekarno dan 
demokrasi Pancasila di era Soeharto, kini Indonesia sedang mencoba 
melaksanakan demokrasi yang sesungguhnya.

Meningkatnya kesadaran beragama di seluruh dunia selama dua dasawarsa 
terakhir juga terjadi di Indonesia. Namun, hal ini diyakini tidak akan 
mengganggu pelaksanaan demokrasi yang sedang dijalankan.

”Ketaatan dalam menjalankan agama tidak memiliki hubungan timbal balik 
dengan pilihan politik,” lanjut Azyumardi.

Kondisi ini jelas terlihat dari partai pemenang pemilu yang merupakan 
partai beraliran nasionalis. Partai-partai berasas Islam atau berbasis 
massa umat Islam justru bukan menjadi pilihan utama masyarakat. Padahal, 
jumlah penduduk Muslim di Indonesia mencapai 88 persen.

Keberhasilan pelaksanaan demokratisasi di Indonesia turut disokong oleh 
dua ormas Islam terbesar, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua 
kelompok masyarakat madani yang mandiri itu sudah menyatakan Pancasila 
dan Negara Kesatuan RI sebagai ideologi dan bentuk negara yang final.

”Kondisi ini tidak terjadi di Timur Tengah. Di sana tidak ada kelompok 
masyarakat madani yang mandiri dari pengaruh negara,” tegasnya. (mzw)


______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke