Mas A'la, Saya berkali-kali membaca surat singkat Anda, sangat "imajinatif", mudah-mudahan saya tidak salah baca. Kalu saya baca secara ekstrim kira-kira begini: Anda mengatakan bahwa kalangan yang gandrung dengan wacana orientalisme dan sejenisnya itu adalah mereka yang tidak mendapatkan PENGHIDUPAN dari orientalis itu dan teman-temannya, atau minimal pernah memendam kebencian kepada fihak-fihak itu.
Saya kira tidak sesederhana itu karena meski dipengaruhi alam "pra-sadar" ide-ide itu selalu terbang bebas ke dalam cakrawala pikiran. Lagi pula klaim seperti itu bisa berbahaya jika dibaca terbalik: Bahwa kalangan yang selama ini mengkampanyekan liberalisme, pluralisme, multikultualisme, kebebasan, kesetaraan gender, toleransi, dan jejenisnya dibiayai oleh para pengusaha/pendatang/penjelajah lintas nasional itu melalui lembaga-lembaga founding LSM, atau menjadi sejenis centeng/penghianat pada masa penjajahan VOC dahulu kala. Semoga tidak, Salam, Anam 2008/3/6 Abd A'la <[EMAIL PROTECTED]>: > Saya hanya ingin konfirmasi. Jika tidak salah Foucault itu orang Tmabk > Siring yang rumahnya kena lumpur Lapindo. Kemudian orang-orang postcolonial > itu, seperi Spivak dan teman-teman tampaknya orang desa tetangga saya di > Kampung. Apa betul? Jika benar, persoalan menjadi jelas mengapa orang-orang > di kampung saya sangat anti bule, penjajah. Demikian pula beberapa santri > saya -karena mungkin temannya spivak -jika ada yang merujuk kepada > orientalis, pasti dianya dituduh orinetalis. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
