http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20080308005819
   
  Televisi Komunitas, Sebuah Media Alternatif
Oleh : Budhi Hermanto 

08-Mar-2008, 09:20:00 WIB - [www.kabarindonesia.com]

   
  KabarIndonesia (Magelang, 6/2/2008) - Saat ini muncul geliat baru dalam dunia 
media, khususnya media televisi di Indonesia. Sejumlah televisi berbasis 
komunitas bermunculan sebagai media dari, oleh, dan untuk warga komunitas itu 
sendiri. Di tengah gemerlapnya siaran televisi swasta yang menyuguhkan berbagai 
program hiburan, kehadiran televisi komunitas menjadi warna tersendiri yang 
menarik untuk dicermati.

Grabag TV misalnya, televisi komunitas ini berada di Kecamatan Grabag, 
Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Televisi yang memancar dengan daya 
hanya 50 watt, dan hanya menjangkau radius 7 km ternyata mendapat tempat di 
mata pemirsa televisi di Kecamatan tersebut. Kendati hanya mengudara 3 jam per 
hari, Grabag TV tetap menyuguhkan tayangan yang berbeda dengan siaran televisi 
lain.

Tayangan siaran Grabag TV tidak seperti tayangan siaran televisi swasta di 
Indonesia. Di Grabag TV tidak ada acara gosip atau info selebriti, sinetron 
yang menyuguhkan konflik perebutan harta, kekuasaan dan cinta, dan siaran 
lainnya sebagaimana dinikmati pemerisa televisi swasta sehari-hari.
    
"Jika kami menyuguhkan tayangan yang serupa, apalagi meniru siaran televisi 
swasta tentu tidak ada yang menonton. Karena kualitas gambar siaran televisi 
swasta pasti lebih baik dibanding siaran kami." papar Hartanto selaku pelopor 
Grabag TV.

Menurut Hartanto, televisi komunitas hadir sebagai media pendidikan dan 
pemberdayaan masyarakat. Melalui televisi komunitas, warga bisa menyuarakan 
aspirasi mereka. Jika selama ini masyarakat hanya menjadi penonton, melalui 
televisi komunitas mereka bisa berperan sebagai pembawa acara, pemain/aktor, 
bahkan menjadi sutradara.

"Tidak ada kualifikasi dan persyaratan khusus seperti layaknya yang terjadi di 
televisi lain. Disini (TV Komunitas. Red), tidak perlu persyaratan camera face, 
berpenampilan dan bersuara menarik. Ini TV warga, siapapun punya kesempatan 
untuk tampil di televisi." lanjut Hartanto menegaskan.

Akibatnya tayangan televisi komunitas terlihat sangat natural, apa adanya. 
Keterbatasan peralatan tidak menyurutkan para pegiat televisi komunitas di 
Grabag untuk menyuguhkan tayangan alternatif bagi pemirsanya. Dalam sebuah 
rekaman tayangan terlihat seorang kameramen merangkap reporter sedang melakukan 
wawancara dengan seorang petani. Berbekal camera handycam seharga 2 juta 
dibantu  tripod seharga 100 ribu, kameramen yang merangkap reporter sedang 
melaporkan reportasenya. Sejenak kemudian ia berhenti dan mendekat ke camera 
dan merubah medium sorotan kamera menjadi long shoot agar petani yang berdiri 
disampingnya masuk dalam sorotan kamera. Ia kemudian melanjutkan reportasenya 
dengan melakukan wawancara terhadap petani.

Sungguh menggelikan sekaligus menghibur karena ditayangkan melalui televisi 
tanpa proses editing, penampilan reporter yang sederhana dan si petani yang 
sesekali terlihat melirik ke kamera. Namun yang tak kalah penting adalah, isi 
pembicaraan (content) tentang musim, harga pupuk, hingga komoditas pertanian 
yang menjadi pilihan.

Itulah televisi komunitas, isi acara program siaran tentang keseharian warga. 
Jauh dari tayangan glamour yang menggambarkan ruangan berkelas, rumah mewah, 
mobil terbaru, dan produk-produk konsumtif yang sedang trendy. Televisi 
komunitas tidak mempunyai studio siaran. Alam dan lingkunganlah yang menjadi 
studio mereka. Bahkan wajah reporter maupaun pemain tanpa make up, sehingga  
terlihat berkilau akibat keringat yang membasahi jidat dan wajah mereka.

Sebagai media hiburan, tayangan televisi komunitas menyuguhkan tayangan 
kesenian tradisional yang pemainnya warga setempat. Sesekali menayangkan video 
klip lagu-lagu daerah dengan gaya dan acting seperti tahun 80-an, dimana 
penyanyi dan bintang video klipnya juga warga setempat. Menakjubkan.

Televisi Komunitas ternyata didirikan dengan biaya yang murah dan bersumber 
dari warga komunitasnya. Pemancar televisi ini mengudara pada gelombang VHF 
dengan daya pancar 50 watt. Biaya pembuatan pemancar berkisar 10-15 juta 
termasuk antena. 1 unit komputer editing seharga 4 juta, dan 1 buah kamera 
handycam untuk produksi. Jika hendak melakukan produksi multi kamera maka 
diperlukan digital video switcher seharga 8 juta-an. Sehingga dengan biaya 30 
juta sudah bisa mengudara. Apabila mampu mengajak partisipasi warga dengan 
baik, maka biaya akan menjadi lebih murah. Grabag TV menjadi salah satu contoh, 
dimana kebutuhan kamera handycam berasal dari sumbangan warganya sendiri.

Keberadaan televisi komunitas seperti di Grabag, Magelang ini menjadi sebuah 
terobosan pemanfaatan media di Indonesia. Jika selama ini, tayangan televisi 
dianggap tidak mendidik karena menyuguhkan tayangan-tayangan yang tidak 
bermutu, hanya berorentasi komersial dan menjerumuskan penonton menjadi 
konsumtif, kehadiran televisi komunitas menjadi alternatif yang perlu mendapat 
dukungan dan apresiasi.

Dalam sebuah pertemuan para aktivis penyiaran dan pengiat media komunitas di 
Jogyakarta pada bulan Desember 2007 lalu, menegaskan bahwa keberadaan televisi 
komunitas adalah pengejawantahan dari demokratisasi penyiaran di Indonesia. 
Tidak ada monopoli kepemilikan dalam media televisi karena televisi komunitas 
itu adalah milik warga (diversity of ownership), sekaligus akan mendorong 
keberagaman isi siaran (diversity of content). 


budhi hermanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  To: TV Komunitas <[EMAIL PROTECTED]>
From: budhi hermanto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sat, 8 Mar 2008 23:44:32 -0800 (PST)
Subject: [tvkomunitas] Televisi Komunitas, Sebuah Media Alternatif

        KabarIndonesia (Magelang, 6/2/2008) - Saat ini muncul geliat baru dalam 
dunia media, khususnya media televisi di Indonesia. Sejumlah televisi berbasis 
komunitas bermunculan sebagai media dari, oleh, dan untuk warga komunitas itu 
sendiri. Di tengah gemerlapnya siaran televisi swasta yang menyuguhkan berbagai 
program hiburan, kehadiran televisi komunitas menjadi warna tersendiri yang 
menarik untuk dicermati. (selengkapnya silahkan buka www.kabarindonesia.com)    
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.  

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke