As-salamu'alaikum terus terang baru sekarang saya terpancing memberi komentar di Milis ini. selama ini hanya menjadi 'penikmat' saja. perihal apa yang terjadi di cirebon sebenrnya tidak separah apa yang terjadi di belahan NU yang lain. tapi temen2 merasa ini sudah merupakan ancaman. saluuut buat temen2 muda NU di cirebon, terutama apa yang dilakukan marzuki wahid. "salut juk, sekarang kau semakin berani aja.....". atas nama pecinta NU, aku memang merasa apa yang sekarng yang menimpa NU dan kemana arah transformasi ini? tidak di PCNU tetapi di tingkat PBNU pun juga terjadi seperti itu (bahkan lebi parah). siapa lagi yang bisa kita percaya untuk menjadi lokomotif bagi organisasi yang sempat menyita perhatian dunia ini selama kepmimpinan Gus Dur? Gus Dur sndiri yang selama ini menjadi simbol (figur) kepemimpinan yang transformatif di NU, apakah masih bisa menjadi rujukan? Saya, dan juga banyak teman muda NU lain, yang dulu merasa tercerahkan pemikirannya oleh sepak terjang kepemimpinan GD, sekarang juga mulai kehilangan kepercayaan terhadap GD. dulu kita terhadap GD seperti kita kepada Nabi, tapi sekarang tidak. Saat ini ketika NU dalam kepemimpinan Hasyim Muzadi, apa juga masih tersisa kpercayaan kita kepadanya? susah. gak ada visi sosial dan intelektual dalam kepemimpinan NU saat ini. saya perlu ingatkan temen2 bahwa justru inilah yang justru menjadi ancaman terbesar di NU. Kalau kita coba merujuk kembali apa tujuan para pendiri (mbah Hasyim, mbah wahab dan lain2) atau tujuan NU didirikan? tidak perlu saya sebutkan semua, intinya adalah "melindungi umat". kalau dulu ancaman terhadap umat lebih banyak karena serangan ideologis kaum wahabi atas jasa politik "pecah belah"nya Belanda, maka saat ini ancaman terhadap umat kita amat komplek begiu rupa (saya kira temen2 sudah tahu semua tentang ganasnya kapitalisme global), tetapi yang mendesak sebenarnya adalah ancaman kemiskinan umat (NU). sebagian orang melihat, mengapa syahwat politik orang NU begitu besar, karena tak lain adalah alasan kemiskinan yang melatarbelakangi. maaf saya hanya menshare keluhan. saya sebenarnya bkan yang anti politik, tetapi apa yang yang sedang berlangsung di NU skrg sama sekali tidak nyaman dirasakan. Hasrat politk harus disalurkan dengan benar, lewat partai. artinya yang berhasyrat berpolitk yang pindah ke partai saja, jangan merusak maqosidun nahdliyyah. maaf, sekali lagi kok seperti menggurui. sekali lagi salut dengan temen2 NU cirebon!! wassalam Baehaqi, PP MIS sarang
----- Original Message ---- From: lakpesdamcirebon <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 18, 2008 10:39:20 AM Subject: [kmnu2000] ANCAMAN BAGI NU CIREBON DAN MUNGKIN DAERAH-DAERAH LAINNYA Assalamu'alaikum wr. wb. Tgl 8 Maret 2008, di daerah Sedong, kab. Cirebon, para pengurus Tanfidziyah PCNU Kab. Cirebon berkumpul. Dalam pertemuan itu terjadi klarifikasi besar-besaran --yang sesungguhnya tidak kelar juga-- antara pengurus yang masih menjaga Khittah NU, dalam hal ini Marzuki Wahid dengan para pengurus lainnya, yang sudah terlibat jauh dukung- mendukung calon Pibup dan Pilgub. Berdasarkan sadapan penulis, ada beberapa yang dipertanyakan Marzuki Wahid ke para pengurus NU Cirebon, diantaranya adalah: (1). Perihal dipampangnya foto Dedi Supardi (Bupati Cirebon dan calon incumbent) dalam acara Harlah NU oleh PCNU kab. Cirebon di Sumber tgl 13 Desember 2007. Kenapa ini bisa terjadi? Tanya Marzuki Wahid (2). Perihal money politic, dimana pengurus melalukukan bagi-bagi duitnya Dhani kepada pengurus MWC-MWC masing-masing 2 jt. Ini uang apa? (3). Perihal kenetralan PCNU dalam Pilkada baik Pilbup maupun Pilgub. Menjawab pertanyaan Marzuki Wahid itu, pengurus dalam hal ini Ali Murtadha menjawab bahwa, selama ini Dedi sering membrikan uang dan mengerti akan kesulitan-kesulitas keuangan PCNU. Karena itu ia pantas saja dipampang gambarnya. Mengenai uang dua jutaan yang dibagi ke MWC- MWC hampir pengurus tidak menjawabnya dengan tegas. Apakah jika boleh menerima uang Dhani, berarti MWC juga boleh menerima uang dari calon lainnya, jika pun lebih besar? Untuk pertanyaan ini, para pengurus pun diam dihadapan Marzuki Wahid. Sementara itu untuk permintaan bahwa NU Cirebon tetap netral, para engurus, selain Marzuki Wahid, menyatakan bahwa NU Cirebon harus berpihak. "Jika memang pengurus NU Cirebon tidak bisa netral, sebaiknya seluruh calon lain selain Dedi (Calbup) dan Dhani (Calgub) juga didatangkan ke NU, dan diminta komitmtemnnya apa yang bisa disumbangkan buat NU. Apakah calon-calon itu akan menjalankan misi politik NU yang bertujuan mnggratiskan sekolah bagi rakyat, mempermurah biaya kesehatan dan orientasi politik kemaslahatan lainnya. Ini pun artinya NU harus berubah menjadi Partai", tegas Marzuki Wahid. Dari situ kita tahu bahwa PCNU Cirebon sudah tergadaikan justru oleh para pengurus strukturalnya sendiri. Ini tragedi memang. Ini bukan hanya terjadi di Cirebon, tetapi juga di beberapa daerah lainnya. Tgl. 13 Maret 2008, Habib Riziq (komandan FPI) berceramah di desa Sadasari Majalengka. Ia mengecam Ahmadiyah setempat, mengecam Pemerintah dan juga kiai-kiai NU, khususnya Gus Dur. Pada hari yang sama ia juga ceramah di Cikijing Majalengka dan Tegalwangi Cirebon. Pada tgl 14 Maret ia juga ceramah di Kuningan. Sebelumnya rombongan penceramah FPI juga cermaha di Banjar. Isi-isi ceramahnya hampir- hampir sama saja. Yang menarik kehadiran Habib Riziq di wilayah III Cirebon juga, selain difasilitasi FPI juga difasilitasi FSC (Forum Santri Cirebon). Sementara kita tahu beberapa pengurus kunci di FSC juga adalah pengurus kunci di PCNU kab. Cirebon. Sebut saja misalanya Lukman Hakim dan Ali Murtadha. Ini jangan dianggap sepele, karena ini juga mengindikasikan bahwa selain PCNU juga sudah digadai secara politis, oleh oknum yang sama PCNU juga rawan bahkan mungkin sudah dirasupi gerakan Islam transnasional Salam Ali Mursyid PC Lakpesdam NU Cirebon ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs [Non-text portions of this message have been removed]
