Salam
Cak Moqsith,
Apa Sampean mau meniru Gus Miek?
Menurut saya jangan dulu, belum levelnya, Cak.
Maboknya Gus Miek jangan disamakan dengan para maboknya roker, penyair,
aktivis, atau intelektual kita, baik yang tua ataupun yang muda.
Saya meyakini, maboknya Gus Miek itu 'disuruh' tuhan. Gus Miek itu
al-mustatsna"
Jadi, sekali lagi, Sampean jangan ikut Gus Miek dulu... hehehehe...
Kembali ke Djambek.
Yang saya tanyakan adalah, pembaruan apa yang telah dilakukan Syaikhr Djambek?
Sehingga maulid-nya diperingati seperti maulidnya Nabi Muhammad SAW.
Untuk teman-teman yang yang punya akses ke Pak Syafi'i, tolong bilangin ke
dia, mbok hari kematiannya saja yang diperingati, begitu juga dengan Buya
Hamka..
Tapi kalau hari kematiannya yang diperingat, jadi kaya orang NU ya...
Salam,
Hamzah Sahal
"Abd. Moqsith Ghazali" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hamzah,
Baca Djambek, aku jadi ingat tokoh kontrasnya. Gus Mik Jawa Timur yang dikenal
suka mabok, sampai akhir hayat aku tak pernah mendengar ia "tobat". Beda ya,
kiai NU dan kiai Muhammadiyah. He....
Sith
----- Original Message ----
From: hamzah sahal <[EMAIL PROTECTED]>
To: kmnu kmnu <[email protected]>
Cc: nurul ummah <[EMAIL PROTECTED]>; wong cirebon <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, April 1, 2008 9:26:28 AM
Subject: [kmnu2000] syafi'i ma'arif menulis syaikh djambek
Republika,
Selasa, 01 April 2008
Syekh Djambek (1860-1947)
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Nama lengkapnya Syekh Muhammad Djamil Djambek, seorang alim ahli fikih, ushul
fikih, ilmu falak, dan ilmu dakwah yang sangat handal. Salah seorang anaknya
Kolonel Dahlan Djambek telah dibunuh PKI saat PRRI (Pemerintah Revolusioner
Republik Indonesia) telah menyerah kepada Jakarta awal 1960-an.
Tambahan perkataan Djambek untuk syekh ini adalah karena ia senang memanjangkan
janggut dan kumis sampai di usia lanjutnya, ketika seluruh jambangnya telah
memutih. Perjalanan hidup tokoh ini penuh rona dan drama, dan jika difilmkan
akan memancarkan sinyal pendidikan dan kearifan yang memukau.
Sosok syekh besar i