Republika,
  Selasa, 01 April 2008

Syekh Djambek (1860-1947) 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


  Nama lengkapnya Syekh Muhammad Djamil Djambek, seorang alim ahli fikih, ushul 
fikih, ilmu falak, dan ilmu dakwah yang sangat handal. Salah seorang anaknya 
Kolonel Dahlan Djambek telah dibunuh PKI saat PRRI (Pemerintah Revolusioner 
Republik Indonesia) telah menyerah kepada Jakarta awal 1960-an. 
   
  Tambahan perkataan Djambek untuk syekh ini adalah karena ia senang 
memanjangkan janggut dan kumis sampai di usia lanjutnya, ketika seluruh 
jambangnya telah memutih. Perjalanan hidup tokoh ini penuh rona dan drama, dan 
jika difilmkan akan memancarkan sinyal pendidikan dan kearifan yang memukau.
   
  Sosok syekh besar ini perlu ditampilkan lagi sekarang, saat pihak keluarga, 
para murid, dan simpatisannya sedang berupaya merenovasi surau/pesantren yang 
dibangunnya sekitar seabad yang lalu agar berfungsi kembali secara efektif. 
Sebuah panitia yang diketuai cucunya, Sudirman Suwin SE, awal Februari 2008, 
mengadakan berbagai kegiatan, seperti seminar 100 tahun Syekh Djambek, bedah 
buku, dan tabligh akbar. 
   
  Semuanya ini bertujuan, di samping menghimpun dana untuk renovasi, juga yang 
terpenting untuk menggali kembali semangat pembaruan dan perjuangan syekh yang 
cukup fenomenal. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau syekh, Kampung Tengah 
Sawah, Pasar Bawah, Bukittinggi.
   
  Mengapa tokoh ini patut dikenang? Jauh sebelum tampil sebagai alim besar yang 
disegani, Muhammad Djamil adalah seorang petualang liar yang menyebabkan 
ayahnya, seorang alim, hampir putus asa. Saat berusia 20-an, Djamil adalah 
seorang 'parewa' dengan segala tabiat buruk yang melekat pada dirinya. Dia ahli 
sihir, pemabuk, dan bahkan suka mencuri.
  Petualangan ini dilakukannya selama 10 tahun, kemudian karena terselamat dari 
gebukan orang kampung sewaktu akan mencuri, ia kemudian insaf; ia bersembunyi 
di dalam kolom yang ditutupi rumput air yang di Minangkabau disebut banto. Dari 
kolam tempat menyelamatkan diri inilah kesadaran itu muncul pada diri Djamil, 
semakin lama semakin kental dan kuat untuk kembali ke jalan yang benar: 
beragama secara sungguh-sungguh. Bukankah ini sebuah drama yang sarat dengan 
sinyal moral?
   
  Ringkas cerita, setelah ayahnya yakin betul anaknya sudah taubat, tahun 1894, 
saat usia Djamil telah menginjak 34 tahun, dibawa ke Makkah untuk berhaji dan 
mencari ilmu. Djamil belajar di kota itu selama sembilan tahun sampai ia sudah 
menguasai ilmu-ilmu seperti yang tersebut di atas dengan membawa semangat juang 
yang mendidih untuk membebaskan kaumnya dari segala bentuk kemusyrikan, 
takhayul, bid'ah, dan khurafat, yang menjadi panorama umum di seluruh ranah 
Minang di awal abad ke-20. Revolusi Padri seperti tidak berbekas lagi di 
kalangan rakyat banyak. Ajaran tarekat yang mematikan akal pikiran begitu kuat 
di kalangan umat Islam.
   
  Djamil yang sebelum belajar di Makkah juga telah mendalami ajaran tarekat 
Naqsyabandi. Kita sedikit tahu tentang siapa Djambek ini setelah membaca sebuah 
skripsi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullh tahun 1970. Karya tulis ini masih 
sangat perlu dikerjakan tentang tokoh ini untuk masa-masa yang akan datang, 
sesuatu yang tidak mudah, karena langkanya sumber yang ditinggalkannya. Tidak 
seperti Hamka yang lebih dari 100 mewariskan karya tulis untuk dipelajari 
bangsa ini. 
   
  Selama di Makkah, otak dan hati Djamil dicuci, antara lain, oleh Syekh Ahmad 
Khatib al-Minangbawi, seorang perantau Minang yang menjadi salah seorang imam 
di Masjidil Haram, yang pernah juga menjadi guru H Agus Salim, yang sebelumnya 
nyaris saja akan menjadi seorang ateis. Dengan bekal ilmu agama inilah kemudian 
Syekh Muhammad Djamil Djambek bersama dengan Syekh Abdul Karim Amrullah, Dr 
Abdullah Ahmad, dan masih ada yang lain, mengadakan revolusi pemikiran yang 
sempat menghebohkan ranah Minang. Di ujung perjalanan mereka berhasil.
   
  Tak berbeda dengan gerakan pembaruan di seluruh Dunia Islam, mula-mula 
dimusuhi, dicaci-maki, bahkan dikafirkan, tetapi karena berangkat dari 
keyakinan yang mendalam, akhirnya secara diam-diam diikuti. Dan, seluruh karier 
Djambek sampai wafatnya tahun 1947 membuktikan semuanya ini. Minangkabau telah 
tercerahkan. Maka, mengingat jasanya yang luar biasa itu Syekh Djamil Djambek 
telah dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama pada 7 Agustus 
1995, oleh Presiden Soeharto, tiga tahun sebelum meletakkan jabatannya sebagai 
presiden RI kedua. 
   
  Akhirnya, saya berharap agar upaya menghidupkan kembali Djambek dalam semua 
dimensinya dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak kepalang tanggung. Djambek 
adalah sebuah mutiara yang teramat mahal untuk dijadikan cermin. Kita semua 
akan sangat rugi, jika mutiara ini tetap saja dibiarkan terbenam dalam kultur 
amnesia kolektif yang tengah menghinggapi bangsa ini sejak beberapa dasawarsa 
terakhir. Djambek adalah cermin untuk kita semua. 

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke