Manusia Setengah Dewa
Sindo, 2 April 2008
Akhirnya berita itu saya terima juga. Saya dapat mewawancarai Gus Dur untuk
penelitian disertasi saya! Sungguh senang rasa hati saya seperti tidak percaya,
karena berbulan-bulan telah berusaha ke sana dan ke mari, menghubungi berbagai
pihak hanya untuk dapat mewawancarai mantan Presiden ke-4 RI, mantan pemimpin
NU, organisasi Islam terbesar di negeri ini dan dunia, dengan sederetan
penghargaan akademik dan kemasyarakatan.
Walaupun Gus Dur kini bukan lagi presiden dan Ketua PB NU; kondisi kesehatannya
pun tidak seperti orang normal pada umumnya, tetap saja mendapat kesempatan
bertemu dengan Gus Dur adalah ibarat peristiwa besar buat saya setelah gagal
meminta tolong pada seorang pengurus PKB, bahkan mendekati orang dekatnya, Mas
Sastro, yang sering mendorong kursi roda Gus Dur dalam berbagai kesempatan
penting.
Berita saya dapat mewawancarainya itu sendiri baru saya terima pada Kamis, 12
Oktober, menjelang siang dari Anita Rachman, putri kedua beliau, yang memberi
tahu bahwa saya dapat mewawancarai beliau pada Sabtu,14 Oktober 2006 pukul
13.30, di kantor PB NU Kramat Raya, Jakarta. Namun, kegembiraan ini rupanya
masih harus terganggu. Ketika saya tengah joging pada Sabtu pagi itu, saya
mendapat berita bahwa saya harus menunggu kemungkinan perubahan tempat
wawancara, sekalipun bukan penundaan atau pembatalan, karena kondisi kesehatan
Gus Dur sedikit terganggu dan tengah diperiksa dokter.
Saya disarankan tunggu berita selanjutnya mengenai penentuan tempat wawancara
yang baru hingga setengah jam menjelang wawancara. Dalam kebimbangan saya masih
harus menunggu, apakah benar akan jadi atau tidak, sebab dalam kurang dari
setengah jam saya baru tahu di mana wawancara akan dilangsungkan. Tidak sabar,
saya coba menelepon Anita, namun dia mengatakan tunggu saja dan akan
memberitahukan tepat setengah jam sebelum jadwal. Dia hanya memberi informasi
bahwa pertemuan akan dilakukan di sekitar Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Saat yang dinanti datang, saya menanti dengan pertanyaan, ada apa gerangan,
mengapa belum diberi tahu tempat yang akan saya tuju menjelang wawancara. Saya
khawatir karena rumah saya jauh di pinggiran Jakarta, dan jangan-jangan Gus Dur
sakit payah. Kekhawatiran semakin menjadi-jadi setelah dalam taksi menuju
kawasan Gatot Subroto saya ditelepon, diberi tahu agar menuju Rumah Sakit
Medistra, ke Ruang ICU di lantai 2.
Saya berpikir sejenak, apakah Gus Dur tengah dalam kondisi genting sehingga
saya harus ke sana dan baru diberitahukan putri beliau itu sesaat menjelang
wawancara. Lagi-lagi putri beliau mengatakan tidak ada apa-apa dan saya tetap
dapat mewawancarai beliau seperti yang saya harapkan. Tidak sabar menunggu
dalam taksi yang terjebak kemacetan, setiba di RS Medistra saya segera bergegas
ke lantai 2.
Tidak tampak kesibukan atau keramaian yang istimewa di sana, yang ada hanya
para keluarga penunggu pasien ICU. Saya bertanya pada penjaga RS apakah Gus Dur
dirawat di ICU. Tanpa mempertanyakan sebelumnya siapa saya, penjaga itu
menyuruh saya ke pengawal beliau.
Dari pengawal Gus Dur yang cuma seorang di luar ruang ICU, tadinya saya
bayangkan sulit masuk karena dijaga ketat, saya menemui Mbak Anita, yang di
sana juga sudah ada Yenni Zanuba dan adiknya yang paling bungsu. Setelah
menunggu sebentar, diantar Anita, saya menjumpai Gus Dur di ruang
pembaringannya, ruang khusus di ICU, melewati beberapa pasien yang dalam
kondisi genting.
Sambil memperkirakan bagaimana kondisi Gus Dur, Anita memberi tahu pengawal
bahwa saya akan mewawancarai Gus Dur untuk studi saya sehingga tidak perlu
dikhawatirkan. Dengan perasaan masih takut setelah melewati beberapa pasien
yang tengah meregang nyawa, dan melihat pengawal yang kelihatan angker, saya
memasuki ruang Gus Dur dengan langkah sangat hati-hati karena takut mengusik
Gus Dur yang tengah berbaring di tempat tidur.
Semula saya menduga sang mantan presiden itu tengah sekarat dan berbaring tidak
berdaya. Sepintas di dalam ruangan yang terdengar hanyalah suara-suara dari
alat-alat yang tengah dipasang memantau kondisi Gus Dur, mulai dari alat
pemantau gerakan jantung, tekanan darah dan sebagainya.Khawatir saya belum
hilang,apakah saya masih bisa mewawancarai beliau dalam kondisi beliau
berbaring seperti itu. Setelah terpaku beberapa saat, saya mencoba menenangkan
diri dan menyapu seluruh ruangan dengan pandangan mata yang tenang.
Ketenangan yang kemudian membuat saya dapat mendengar suara dengkuran Gus Dur
yang membedakannya dari suara mesin-mesin canggih penyambung nyawa di rumah
sakit. Ketenangan itu pula yang membuat saya bisa melihat bahwa mesin yang
berada di sebelah kanan Gus Dur adalah mesin pencuci darah yang tengah bekerja
mencuci darah Gus Dur.
Setelah menyadari bahwa Gus Dur tengah tidur lelap dan bukan sedang kesakitan,
walau posisi badannya bolak-balik berganti-ganti, saya menjadi benar-benar
tenang dan yakin bahwa Gus Dur tidak dalam kondisi sakit keras atau tidak
berdaya. Beliau hanya sedang tidur siang sambil melakukan cuci darah dengan
alat di sebelahnya itu. Lambat-laun saya kemudian mulai mendengar ada suara
lain terdengar di dalam ruangan, di luar suara mesin-mesin canggih itu.
Semula saya mengira itu suara orang yang sedang menjelaskan proses berjalannya
cuci darah dan proses bekerja mesin dalam bahasa Inggris. Ternyata kemudian
saya keliru, karena setelah saya coba dengar baikbaik, itu adalah suara siaran
dan ulasan berita dari sebuah siaran radio Amerika. Saya mencoba mencari dari
mana suara itu datang. Setelah mencari ke sana-ke mari, mata saya tertuju pada
instrumen kecil sebesar buku notes yang adalah radio dengan kapasitas canggih
untuk menangkap berita luar negeri.
Tidak disangka, Gus Dur yang saya kira sedang lemah tidak berdaya itu tengah
tidur sambil mendengarkan radio asing yang tengah mengulas berita tentang
perkembangan politik mutakhir dan kepemimpinan Presiden Bush. Padahal, melihat
kondisinya yang berbaring di ICU, orang akan menyangka kalau beliau sedang
sakit keras.
Beberapa sahabat dekat dan keluarga sempat menjenguk walau sejenak, yang
menandakan mereka juga punya perasaan was-was akan kondisi Gus Dur,walaupun
diketahui kemudian dari pengakuan Gus Dur bahwa beliau secara rutin melakukan
cuci darah sejak beberapa lama belakangan yang harus jalani 2 kali seminggu.
Tiba-tiba masuk seorang tokoh penting, Muhaimin Iskandar, keponakan beliau yang
juga Ketua Umum PKB dan Wakil Ketua DPR. Dia melihat sejenak ke arah Gus Dur
yang tengah berbaring dan bercakap sebentar dengan pengawal dan menghampiri
saya sambil memastikan apakah benar cuci darahnya akan memakan waktu 4-5 jam.
Setelah 5 menit di ruangan, Cak Imin segera pulang. (*)
Poltak Partogi Nainggolan
Penulis sedang menyelesaikan disertasi doktoral di Universitaet Freiburg Jerman
(//mbs)
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
[Non-text portions of this message have been removed]