Manusia Setengah Dewa (2) 
  Kamis, 3 April 2008 - 09:19 wib
  Tidak lama kemudian, suster penjaga memeriksa tangan kanan, sehingga 
tersingkap selang-selang yang menghubungkan tubuh Gus Dur dengan mesin pencuci 
darah.

Setelah memastikan semuanya beres setelah satu jam mesin bekerja, yang masih 
membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam lagi untuk penyelesaian cuci darah secara 
total, suster merapikan tempat tidur beliau dan mengeluarkan radio kecil di 
bawah selimut beliau dan mematikannya.

Suster mungkin ingin agar tidur siang Gus Dur tidak terganggu. Ternyata 
kemudian dia keliru, sebab setelah radionya mati, Gus Dur lalu berbaring ke 
sana dan ke mari, lalu terbangun dari tidurnya. Di luar dugaan, Gus Dur segera 
berusaha membuka mata, menandakan bahwa beliau sudah terjaga dan menanyakan di 
mana radionya?

Suster kemudian menjelaskan posisi radio itu dan pengawal pun memberitahukan 
bahwa saya ada di ruangan untuk mewawancarai beliau sejenak. Perkenalan dan 
wawancara dimulai, tanpa basa-basi, walau saya belum pernah sekalipun bertemu 
langsung dan berkunjung ke Gus Dur.

Saya memperkenalkan diri secara singkat, hanya memberi tahu nama dan keperluan 
wawancara menulis disertasi tentang periode pemerintahan Gus Dur dan kaitannya 
dengan reformasi militer. Tampak Gus Dur menyambut secara antusias, dan saya 
pun segera mengajukan pertanyaan pertama. Tidak disangka, beliau, yang saya 
kira sedang lemah dan baru bangun tidur, dapat segera merespons pertanyaan 
pertama saya.

Substansi wawancara saya sendiri saya tuliskan dalam bagian lain. Di 
tengah-tengah wawancara saya, masuk seorang wanita keturunan Tionghoa, yang 
langsung menyalami Gus Dur dan memperkenalkan diri sambil meraih tangan beliau 
dan menyalami erat-erat beliau yang tengah berbaring.

Rupanya ia seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini yang menangani soal 
cuci darah. Mereka kemudian bercakap-cakap secara akrab sebagaimana seseorang 
yang tengah berjumpa dengan sahabat lama layaknya. Keakraban mereka dalam 
berbincang-bincang dan bergurau menandai betapa dalam dan hangatnya hubungan 
Gus Dur dengan berbagai kalangan minoritas di negeri ini.

Dokter itu pun bertanya sejak kapan Gus Dur harus menjalani cuci darah. Gus Dur 
menjelaskan sudah sejak beberapa lama belakangan ini. Dengan enteng, secara 
ceplas-ceplos Gus Dur bercakap, tidak ada sedikit pun rasa cemas tebersit di 
wajahnya. Seperti kebiasaan sehatnya, Gus Dur pun mulai beraksi membuat 
banyolan-banyolan di depan lawan bicaranya.

Wawancara serius saya pun terhenti sementara. Namun, tidak mengapa, sebab 
banyolan-banyolan beliau tidak kalah menariknya karena merupakan pula rekaman 
perjalanan dan pengalaman politiknya- yang masih ada hubungannya dengan riset 
disertasi saya. Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba saja Gus Dur berguyon 
tentang mantan orang kuat Orde Baru, Soeharto, tokoh yang pernah menjadi mitra 
maupun lawan politiknya dulu. Juga berguyon tentang hubungan segitiganya dengan 
Soeharto dan Oom Liem (Sioe Liong), salah satu konglomerat Indonesia.

Beliau bercerita, konon Oom Liem mencari-cari Soeharto dan bertanya kepada Gus 
Dur tentang keberadaannya. Gus Dur yang suka iseng menjawab cari saja ke LA 
(Los Angeles, Amerika Serikat), karena menurutnya Soeharto ada di sana. Oom 
Liem yang mengira info Gus Dur serius, segera mencari Soeharto ke LA.

Di sana, Oom Liem tidak kunjung ketemu sehingga harus kembali ke Jakarta untuk 
menanyakannya kembali pada Gus Dur. Gus Dur lalu menjawab, "Lha, kamu cari ke 
mana? Di Los Angeles? Coba dong cari ke ?RE'," sambil mengeja dua huruf itu 
dalam lafal bahasa Inggris yang ia plesetkan seperti ?LA', yang maksudnya 
bukanlah Los Angeles, tetapi artis ternama tahun 70-80-an yang cantik dan 
pernah menurut kabar burung (namanya juga gosip) dekat dengan mantan tokoh Orde 
Baru itu.

Belum selesai ketawa kami dengan lelucon itu, Gus Dur sudah mulai lagi dengan 
guyonan lain.Yang ini bukan hal baru, tetapi tetap segar mendengarnya, karena 
beliau sendiri yang menyampaikannya. Gus Dur cerita, setelah beliau lengser, di 
Eropa bertamu ke Habibie.

Beliau ditanya Habibie tentang apa yang diomongkannya sama Presiden Castro, 
karena Habibie penasaran dengan kunjungan Gus Dur ke Cuba dulu. Setelah 
dipaksa-paksa Habibie, Gus Dur bilang bahwa beliau bercerita pada Castro bahwa 
empat presiden yang dimiliki Indonesia punya karakter yang aneh-aneh. Presiden 
pertama menurutnya adalah orang yang gila wanita.

Presiden kedua adalah orang yang gila harta, sedangkan yang ketiga, Habibie, 
adalah orang gila teknologi. Sementara, presiden keempat, dirinya, adalah yang 
bikin semua orang jadi gila! Namanya juga joke, semua celotehan beliau itu 
tidak perlu dianggap serius. Sekalipun bukan joke baru buat beliau, karena kami 
pernah mendengarnya, namun ketika diungkapkan kembali, kami tertawa 
terbahak-bahak.

Tampak tidak ada yang berubah dari Gus Dur, ia selalu saja lucu dengan 
guyonannya. Gus Dur tetap melanjutkan guyonannya sebelum bercerita ke hal yang 
serius, masalah politik sungguhan. Beliau bercerita, suatu waktu, saat 
berkunjung ke Timur Tengah, beliau membawa serta Supermie (merek mi instan 
produksi PT Indofood) untuk bekal makannya.

Karena sempat sempatnya beliau membawa bekal Supermie dan begitu suka dan 
sering makan bekalnya itu di negeri Arab, tuan rumahnya pun heran dan bertanya 
mengapa hal itu mesti dilakukan. Gus Dur lalu menjawab, "Saya membawa Supermie 
banyak dan suka makanan ini karena saya kan 'Abu Noodle (mi)' yah, masih 
saudara dengan Abu Mussa dan lainnya di negeri Anda!" Dari guyonan bisa saja 
Gus Dur mengalihkan ceritanya ke topik-topik serius.

Suatu waktu, beliau mengajak Akbar Tandjung berkunjung ke Habibie untuk 
menyarankan Habibie agar mundur dari kursi kepresidenannya. Entah bagaimana, 
Gus Dur menceritakan Akbar mau saja dan menurut sarannya, sehingga pergilah 
mereka berdua menghadap Habibie.

Akbar pun mengatakan pada Habibie tanpa tedeng aling-aling (secara tembak 
langsung) apa yang disarankan Gus Dur. Tentu saja Habibie terkejut mendengar 
permintaan Akbar agar segera lengser, sehingga Habibie membetulkan duduknya dan 
berhadapan langsung dengan Akbar sambil emosional mengatakan apakah 
sungguh-sungguh Akbar menyuruhnya mundur.

Kemudian Habibie memberondongnya lagi dengan banyak pertanyaan yang semakin 
emosional. Di sini Gus Dur hendak menceritakan bagaimana Akbar dimarah-marahi 
Habibie yang emosional karena ulah Gus Dur yang jahil itu. Sebelum mengakhiri 
guyonan, sebelum tamu kami, ibu dokter Tionghoa ahli hemodialisis itu pergi, 
Gus Dur sempat bercerita bagaimana tokoh penting di Kanada menyarankannya untuk 
menjadi Presiden Indonesia lagi.

Di sini tampaknya secara sepintas Gus Dur ingin mengungkapkan harapannya untuk 
dapat maju kembali sebagai calon presiden yang akan datang, dalam Pemilihan 
Presiden 2009. Kalau ini memang serius dan telah menjadi tekad Gus Dur yang 
kuat, tentu saja bagi orang awam seperti saya ambisi Gus Dur ini merupakan hal 
yang luar biasa di tengah-tengah kesadaran, sekaligus kepesimisan dan kesinisan 
orang akan kondisi kesehatan beliau saat ini.

Hebatnya tentu, berbeda dengan kondisi orang yang dalam kondisi kesehatan 
seperti beliau, semangat, cita-cita, tekad dan ambisi Gus Dur sangat luar biasa 
sekali. Berbagai guyonan itu memang tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena 
masih harus dibuktikan kebenarannya.

Semua guyonan itu tidak perlu diperlakukan serius, seperti sikap Gus Dur yang 
easy going atau EGP (emangnya gue pikirin, gitu aja kok repot?!) Namun, di luar 
itu, semuanya menjadi guyonan tetap baru dan segar didengar alias lucu, 
sekalipun mungkin sudah pernah diungkapkan beliau. Sehingga, tidak juga keliru 
tampaknya untuk mengatakan bahwa Gus Dur memang dilahirkan untuk guyon, dan ia 
akan guyon sampai akhir hayatnya.

Namun, jangan sekali-sekali menganggap sepele beliau. Gus Dur memang pantas 
dijuluki "manusia setengah dewa". (*)

Poltak Partogi Nainggolan
Penulis sedang menyelesaikan disertasi doktoral di Universitaet Freiburg Jerman 
  (//mbs) 

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke