sungguh, saya tak faham membaca tulisan yang sangat "ndakik" ini. Tapi ada
sebuah hal yang membuat saya paham, sekaligus aneh: dulu, dalam milis ini, saya
pernah memanggil Anis dengan gus, gus Anis. beliau marah. tapi saat ini, gus
Irwan memanggilnya dengan gus kok diam. Apa karena yang memanggil begitu adalah
seorang gus ya? Benar begitu, Nis?
sebenarnya dalam keadaan dan prsyarat apa atribut ini harus dilekatkan?
salam
yunus
"--::Irwan Masduqi::--" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Gus Mawhib dan Gus Anis,
Ada banyak dimensi yang membedakan Gus Dur dengan Hasan Hanafi maupun Jabiri.
Serasional dan seliberal Gus Dur, beliau masih percaya "wangsit dari kyai
khas". Kata beliau, "Saya nggak mau mencalonkan presiden untuk pemilu ke depan,
kecuali mendapat perintah dari kyai khas". Sementara "kyai khas" tidak ada
dalam kamus pemikiran Hasan dan Jabiri, hehehehehe. Diam-diam, sejatinya Gus
Dur itu masih terjangkit paradigma irasional terkait teori "perwangsitan".
Hasan Hanafi dan Jabiri tampak lebih suka "memproblematisasi"
persoalan-persoalan yang sebenarnya simplistik. Sebaliknya, Gus Dur acap
"mensimplifikasi" perkara-perkara problematis nan dilematis dengan ungkapan
"Gitu aja kok repot"!!!
Meski demikian, ada sekelumit kesejajaran antara ide Hasan Hanafi dan Gus Dur
terkait tipologisasi ulama. Hanafi membagi ulama/mufakkir menjadi dua:
ulama/mufakkir jamahir (pemikir elitis) dan ulama/mufakkir nukhbah (pemikir
populis), sedangkan Gus Dur membagi kyai menjadi dua: kyai khas dan kyai
kampung. Tapi sejauh ini, saya belum pernah dengar Gus Dur membagi tipologi
ayam menjadi dua: ayam khas dan ayam kampung, maklumlah Gus Dur kan bukan
peternak ayam, hehehe. Cape dech.......
Benar apa yang disampaikan Gus Mawhib bahwa buku Hasan Hanafi, min al-Fana' ila
al-Baqa' akan segera terbit. Kata Hasan Hanafi, buku itu akan diterbitkan oleh
penerbit Beirut. Saya pun kemarin melihat naskahnya di kediamannya. Setelah
menulis min al-Fana' ila al-Baqa', beliau akan menulis lagi buku berjudul min
al-Naql ila 'Aql. Melihat umur Hasan Hanafi yang sudah tua, mengapa ya beliau
tidak menulis buku yang berjudul min al-Mahdi ila Lahdi? hehehe.
Gus Anis, setahu saya, Jabiri dalam Madkhal ila al-Quran hanya menyebut nama
Khalafullah satu kali, itupun hanya di catatan kaki halaman 259. Dalam
diskursus studi narasi al-Quran, Jabiri menyetujui konklusi-konklusi yang
dicapai Khalafullah. Bagi mereka berdua, Qashash al-Quran tidak serta-merta
menunjukkan bahwa al-Quran adalah Kitab Sejarah. Narasi dalam al-Quran
sejatinya hendak diproyeksikan dan difungsikan untuk dijadikan "teladan"
(al-'idhah wa al-i'tibar). Tetapi mereka bedua berbeda dalam memberikan
klasifikasi tipologi narasi. Khalafullah membagi narasi al-Quran menjadi tiga:
1) narasi mitis pengaruh tradisi Yudeo-Kristiani (qashash usthuri); 2) narasi
historis atau cerita yang sesuai dengan realitas sejarah (qashash tarikhi); dan
3) narasi metaforis (qashash tamtsili). Sedangkan Jabiri, yang berambisi hendak
memahami al-Quran secara "kronologis", membagi narasi-narasi al-Quran
berdasarkan rangkaian kronologis Makiyyah-Madaniyyah. Menurut
Jabiri, narasi al-Quran harus dipahami secara kronologis untuk melacak
kesejajaran antara al-Quran dan gerak sejarah perkembangan dakwah dan sirah
Nabawiyyah. Intinya, pendekatan Jabiri dan Khalafullah agak berbeda.
Buku Jabiri itu cukup menarik. Tetapi, menurut saya, Madkhal ila al-Quran
adalah karya terjelek Jabiri. Diskursus penting yang digelindingkan Jabiri,
menurut sekelumit yang saya ingat, antara lain:
1. Redefinisi al-Quran. Dalam chapter ini, ia mendekonstruksi definisi
konvensional al-Quran yang dinilai ideologis-sektarianistik. Kemudian ia
menawarkan definisi al-Quran versi al-Quran itu sendiri, yaitu kitab yang
diturunkan oleh Allah kepada Muhammad via Jibril (tanpa diembel-embeli makhluq
atau tidak, hadits atau qadim).
2. Dekonstruksi konsep Ummiyyat al-Nabi. Segendang sepenarian dengan George
Maqdisi, Jabiri meyakini Muhammad saw tidak buta huruf.
3. Relasi doktrin monoteis Islam dengan sekte-sekte monoteis Kristen
(Ebionistes dan Arrius). Buku Jabiri, seperti pengakuannya dalam wawancara,
muncul didorong oleh banyak faktor, antara lain tragedi WTC. Ia sadar bahwa
Islam/Quran telah dibajak oleh gerakan teroris-militan. Nah, untuk mengurangi
ketegangan antara Islam dan Barat, maka diperlukan kajian pluralis dan inklusif
yang mengetengahkan relasi-relasi dalam Abrahamic Religion. Dalam chapter ini,
dibahas juga soal historisitas formasi trinitas.
4. Komparasi konsep kenabian menurut berbagai perspektif.
5. Dekonstruksi konsep mukjizat konvensional. Seperti Ibn Rusyd, Jabiri sampai
pada kesimpulan bahwa Mukjizat Muhammad saw hanyalah al-Quran.
Kejadian-kejadian nyleneh, seperti terbelahnya bulan dll, ditolak mentah-mentah
dengan seabrek argumentasi rasional.
6. Problem originality al-Quran.
7. dll.
Saya pikir, buku Jabiri ini masih di bawah level buku Mushtafa Bouhindi,
al-Ta'tsir al-Masihi fi Tafsir al-Quran. Sayangnya, karya Bouhindi ini kurang
mendapatkan perhatian dan publikasi massif, sehingga kurang dikenal oleh
kalangan luas. Padahal, kalau kita lihat bobot isinya, sungguh melampuai
capaian Jabiri. Bouhindi, dalam bukunya itu, berhasil merombak secara
besar-besaran struktur nalar tafsir sekaligus memberikan alternatifnya.
Ada informasi menarik seputar perkembangan intelektual Fatayat Mesir. Sejauh
ini saya kebetulan diberi kepercayaan untuk menjadi supervisor dalam kajian
Fatayat Mesir. Sekarang ini, Fatayat Mesir sedang sibuk mengkaji buku-buku
antara lain:
1. Geschichte des Qorans (Tarikh Quran) karya Noldekke, Die Richtungen der
Islamichen Koranauslegung (Madzahib Tafsir) karya Goldziher, dan karya
orientalis lainnya seperti W. Muir, Regis Blachere, Arthur Jefferi, dll.
2. Madkhal ila Hermeneutika karya Adil Mushtafa
3. Beberapa karya Abu Zaid
4. Al-Quran wa al-Kitab karya Syahrour
5. Al-Nash al-Qurani karya Tayyib Tizini
6. Al-Hijaj fi al-Quran karya Abdullah Aulah
7. Nadhariyyatul Ma'rifat bayn al-Quran wa al-Falsafah karya Abd al-Hamid Kurdi
8. Komparasi antara Fann al-Qashashi karya Khalafullah dengan Asatir Awwalin
karya Muhammad Karim Kuwwas
9. Tafsirul Quran bayn Qudama wa Muhaditsin karya Gammal Banna
10. Kayfa Nata'amalu ma'a al-Quran karya Yusuf Qardhawi
11. Komparasi al-Burhan Zamakhsari dengan Itqan karya al-Suyuthi. Komparasi
untuk menindaklanjuti kajian Nollin terkait isu dependensi dan plagiasi
al-Suyuthi terhadap Zamakhsari.
12. Madkhal ila al-Quran karya Jabiri
13. dll.
Insya Allah, ke depan Fatayat Mesir akan saya arahkan untuk mengkaji
karya-karya klasik seputar ulum al-Quran yang selama ini kurang mendapatkan
perhatian dari banyak kalangan. Contohnya, kita akan mengkaji Al-'Aql wa Fahm
al-Quran karya al-Haris al-Muhatsibi (termasuk pioneer Sunni), Qanun al-Ta'wil
karya Ibn al-Arabi, Qanun al-Ta'wil karya al-Ghazali, al-Mashahif karya
al-Sijistani, Mutasabih al-Quran serta Tanzih Quran 'an Matha'in karya Qadhi
Abd al-Jabbar, dll. Doakan semoga terlaksana dan bermanfaat.
Salam
Irwan Masduqi
Aktivis LAKPESDAM
----- Pesan Asli ----
Dari: Muhammad Mawhiburrahman <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Minggu, 6 April, 2008 09:50:43
Topik: Re: [kmnu2000] Re: Tentag GD, dan perbedaanya dengan Hasan dan Jabiri
Anis,
Saya sepakat dengan kamu dalam poin bahwa gagasan dalam ranah apapun; termasuk
di dalamnya adalah ideologi bisa menjadikan politik sebagai salah satu sarana
manifestasi dengan tanpa melibatkan partisipasi agama.
Kembali pada kasus Gus Dur, saya melihat ada perbedaan yang krusial antara Gus
Dur sebagai salah satu ikon pemikir Indonesia dengan para pemikir dunia Arab.
Memang benar, Hassan Hanafi pernah terlibat gerakan IM pada masa mudanya.
Jabiri pun demikian. Semasa mudanya, dia aktif dalam partai Union Nationale des
Forces Popularies yang lantas menjelma sebagai Union Sosialiste des Forces
Popularies. Jabiri muda bahkan termasuk dalam deretan kader militan bagi partai
USFP ini.
Nah, perbedaan yang saya maksudkan disini adalah, Gus Dur, paling tidak dalam
asumsi saya, menjadikan ideologinya yang brilian itu hanya sebatas sebagai
relasi sosial. Hal inilah yang dalam bahasa Hassan Hanafi telah mengerangkeng
Gus Dur dalam konflik-konflik politik yang kerap kontra produktif bagi
pembumian gagasan pemikiran atau ideologinya.
Lain halnya, jika Gus Dur memposisikan ideologinya layaknya sikap yang diambil
para pemikir Arab Modern dan Kontemporer. Sepemahaman saya, para pemikir Arab
semodel Hassan Hanafi, Jabiri atau Nashr Hamid menempatkan ideologi mereka
sebagai proyeksi rasional. Ini lantas mengapa, gagasan-gagasan mereka menuai
apresiasi dan terkesan rapi serta matang, juga terencana. Berkebalikan dengan
Gus Dur, yang konsepnya selalu memunculkan kesan acak-kadut, zig-zag dan tak
mudah dipahami.
Tentang buku al-Jabiri yang kamu sebut itu, kawan-kawan Lakpesdam 5 bulan yang
lalu telah membedahnya secara serius. Bahkan ketika abah Robith belum pulang ke
Indonesia. Biarlah tema yang berbau Qur'an menjadi bidang garap Gus Irwan saja.
Saya sungkan untuk melangkahinya. Saya takut tak mendapat doa kelulusan darinya.
Salam,
Muhammad Mawhiburrahman
Faculty of Theology
Department of Creed and Philosophy
Al-Azhar University Cairo
http://www.mmawhib. blogspot. com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---
----- Original Message ----
From: Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Sunday, April 6, 2008 3:44:44 AM
Subject: [kmnu2000] Re: tentag GD, buku baru Hasan dan Jabiri
Muhib,
Pemikiran, ideologi dan bahkan agama (tepatnya pemahaman agama) tidak
ada salahnya (atau bahkan harus) diperjuangkan melalui politik...Tanpa
harus mengatasnamakan Tuhan sehingga yang terjadi adalah penindasan
manusia atas nama Tuhan.
Pemikir-pemikir Mesir itu banyak yang aktif di politik.
Pemikir-pemikir Marxis afiliasinya ke partai-partai sosialis seperti
Khalil dan Rif'at Said. Termasuk Hassan dulu pernah di IM.
Sering-sering lah kamu ke Ammu Hasan dan mungkin Jamal Al Banna. Di
Indonesia jarang saya menemukan pemikir yang ketika diwawancarai bisa
elaboratif dan mendalam, terutama dalam khazanah Islam klasik.
Makanya, saya kangen suasana wawancara dan seminar-seminar dengan
tokoh-tokoh besar Mesir itu...;)Di hadapan mereka gairah intelektual
saya terpuaskan meski hanya banyak mendengar.
Saya menunggu buku itu. Buku Jabiri yang terbaru, Madkhal Ila Al
Quran, sudah saya baca meski baru mukaddimah dan saya harus berhenti
untuk konsentrasi bidang saya.
Waktu saya wawancara Abu Zayd di Jogja, gagasan Jabiri dalam buku
terbarunya punya kesamaan dengan Khalafullah. Jika memang benar, apa
Jabiri menyebut Khalafullah? Abu Zayd bertanya begitu.
Saya kira teman-teman Lakpesdam sudah waktunya menyambut antusias buku
Jabiri yang baru ini dan mengkajinya perlahan.
Salam,
Anis M
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
http://tc.deals. yahoo.com/ tc/blockbuster/ text5.com
[Non-text portions of this message have been removed]
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]
between 0000-00-00 and 9999-99-99
[Non-text portions of this message have been removed]