Salam,

Yunus dan teman-teman, kebetulan saya akhir-akhir ini agak rajin
mengikuti sidang tesis dan disertasi teman-teman UIN. Wuih, temanya
keren-keren Nuz...Bayangkan saja, ada dekontruksi derrida untuk
nguplek-uplek Qiyas Syafi'i. Saya tidak tahu apakah mahasiswa ini tahu
betul qiyas Syafi'i beserta metode ijtihad yang dipakainya. Tapi
ketika dipertanyakan hanya dalil-dalil qiyas saja, jawabannya
meragukan. Jabiri juga dikutip-kutip tanpa kritisisme sedikitpun.
Seperti Mas Baso mengutip Jabiri ketika Ibn Hazm ditafsirkan
sedemikian rupa dalam seputar Qiyas. Tapi Mas Baso tidak memberikan
ulasan dan komentarnya sendiri.

Ada lagi Nuz, pendekatan otoritarianisme Khalid Abu Al Fadl dipakai
untuk mendekati Syafi'i. Aduuuuuuh, ini kok bisa sampai ke sini gmn?
Khalid memakainya untuk melawan eklusifitas, penafsiran otoritarian
tapi tidak otoritatif ala wahabisme, lah ini ko dipakai untuk
menghabisi Syafi'i. Syafi'i ni kayaknya figur regresif (pada yang
pertama) dan otoritarian (pada yang kedua) dan dengan begitu mari
dikroyok rame-rame.

Fenomena apa kemudian jika bukan latah yang ingin saya katakan? Saya
sendiri sekarang sedang berusaha keras untuk tidak masuk ke jurang
seperti mereka. Saya berusaha untuk proporsional, adil dan
sekomprehensif mungkin mencoba mengkaji khazanah klasik Islam ini,
terutama Syafi'i. Saya sendiri ragu untuk bisa menghadirkan tulisan
lebih bagus dari mereka. Tapi keyakinan saya, Imam Syafi'i tidak bisa
dinilai sesederhana, selugu dan semudah itu. Saya hanya ingin agak
hati-hati dalam hal ini.


Sekian dulu,
Anis M

   



--- In [email protected], zu nuz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> sungguh, saya tak faham membaca tulisan yang sangat "ndakik" ini.
Tapi ada sebuah hal yang membuat saya paham, sekaligus aneh: dulu,
dalam milis ini, saya pernah memanggil Anis dengan gus, gus Anis.
beliau marah. tapi saat ini, gus Irwan memanggilnya dengan gus kok
diam. Apa karena yang memanggil begitu adalah seorang gus ya? Benar
begitu, Nis?
>    
>   sebenarnya dalam keadaan dan prsyarat apa atribut ini harus
dilekatkan?
>    
>   salam
>   yunus 
> 
> "--::Irwan Masduqi::--" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Gus Mawhib dan Gus Anis,
> Ada banyak dimensi yang membedakan Gus Dur dengan Hasan Hanafi
maupun Jabiri. Serasional dan seliberal Gus Dur, beliau masih percaya
"wangsit dari kyai khas". Kata beliau, "Saya nggak mau mencalonkan
presiden untuk pemilu ke depan, kecuali mendapat perintah dari kyai
khas". Sementara "kyai khas" tidak ada dalam kamus pemikiran Hasan dan
Jabiri, hehehehehe. Diam-diam, sejatinya Gus Dur itu masih terjangkit
paradigma irasional terkait teori "perwangsitan".
> 
> Hasan Hanafi dan Jabiri tampak lebih suka "memproblematisasi"
persoalan-persoalan yang sebenarnya simplistik. Sebaliknya, Gus Dur
acap "mensimplifikasi" perkara-perkara problematis nan dilematis
dengan ungkapan "Gitu aja kok repot"!!!
> 
> Meski demikian, ada sekelumit kesejajaran antara ide Hasan Hanafi
dan Gus Dur terkait tipologisasi ulama. Hanafi membagi ulama/mufakkir
menjadi dua: ulama/mufakkir jamahir (pemikir elitis) dan
ulama/mufakkir nukhbah (pemikir populis), sedangkan Gus Dur membagi
kyai menjadi dua: kyai khas dan kyai kampung. Tapi sejauh ini, saya
belum pernah dengar Gus Dur membagi tipologi ayam menjadi dua: ayam
khas dan ayam kampung, maklumlah Gus Dur kan bukan peternak ayam,
hehehe. Cape dech.......
> 
> Benar apa yang disampaikan Gus Mawhib bahwa buku Hasan Hanafi, min
al-Fana' ila al-Baqa' akan segera terbit. Kata Hasan Hanafi, buku itu
akan diterbitkan oleh penerbit Beirut. Saya pun kemarin melihat
naskahnya di kediamannya. Setelah menulis min al-Fana' ila al-Baqa',
beliau akan menulis lagi buku berjudul min al-Naql ila 'Aql. Melihat
umur Hasan Hanafi yang sudah tua, mengapa ya beliau tidak menulis buku
yang berjudul min al-Mahdi ila Lahdi? hehehe.
> 
> Gus Anis, setahu saya, Jabiri dalam Madkhal ila al-Quran hanya
menyebut nama Khalafullah satu kali, itupun hanya di catatan kaki
halaman 259. Dalam diskursus studi narasi al-Quran, Jabiri menyetujui
konklusi-konklusi yang dicapai Khalafullah. Bagi mereka berdua,
Qashash al-Quran tidak serta-merta menunjukkan bahwa al-Quran adalah
Kitab Sejarah. Narasi dalam al-Quran sejatinya hendak diproyeksikan
dan difungsikan untuk dijadikan "teladan" (al-'idhah wa al-i'tibar).
Tetapi mereka bedua berbeda dalam memberikan klasifikasi tipologi
narasi. Khalafullah membagi narasi al-Quran menjadi tiga: 1) narasi
mitis pengaruh tradisi Yudeo-Kristiani (qashash usthuri); 2) narasi
historis atau cerita yang sesuai dengan realitas sejarah (qashash
tarikhi); dan 3) narasi metaforis (qashash tamtsili). Sedangkan
Jabiri, yang berambisi hendak memahami al-Quran secara "kronologis",
membagi narasi-narasi al-Quran berdasarkan rangkaian kronologis
Makiyyah-Madaniyyah. Menurut
> Jabiri, narasi al-Quran harus dipahami secara kronologis untuk
melacak kesejajaran antara al-Quran dan gerak sejarah perkembangan
dakwah dan sirah Nabawiyyah. Intinya, pendekatan Jabiri dan
Khalafullah agak berbeda.
> 
> Buku Jabiri itu cukup menarik. Tetapi, menurut saya, Madkhal ila
al-Quran adalah karya terjelek Jabiri. Diskursus penting yang
digelindingkan Jabiri, menurut sekelumit yang saya ingat, antara lain:
> 1. Redefinisi al-Quran. Dalam chapter ini, ia mendekonstruksi
definisi konvensional al-Quran yang dinilai ideologis-sektarianistik.
Kemudian ia menawarkan definisi al-Quran versi al-Quran itu sendiri,
yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad via Jibril
(tanpa diembel-embeli makhluq atau tidak, hadits atau qadim).
> 2. Dekonstruksi konsep Ummiyyat al-Nabi. Segendang sepenarian dengan
George Maqdisi, Jabiri meyakini Muhammad saw tidak buta huruf.
> 3. Relasi doktrin monoteis Islam dengan sekte-sekte monoteis Kristen
(Ebionistes dan Arrius). Buku Jabiri, seperti pengakuannya dalam
wawancara, muncul didorong oleh banyak faktor, antara lain tragedi
WTC. Ia sadar bahwa Islam/Quran telah dibajak oleh gerakan
teroris-militan. Nah, untuk mengurangi ketegangan antara Islam dan
Barat, maka diperlukan kajian pluralis dan inklusif yang
mengetengahkan relasi-relasi dalam Abrahamic Religion. Dalam chapter
ini, dibahas juga soal historisitas formasi trinitas.
> 4. Komparasi konsep kenabian menurut berbagai perspektif.
> 5. Dekonstruksi konsep mukjizat konvensional. Seperti Ibn Rusyd,
Jabiri sampai pada kesimpulan bahwa Mukjizat Muhammad saw hanyalah
al-Quran. Kejadian-kejadian nyleneh, seperti terbelahnya bulan dll,
ditolak mentah-mentah dengan seabrek argumentasi rasional.
> 6. Problem originality al-Quran.
> 7. dll.
> 
> Saya pikir, buku Jabiri ini masih di bawah level buku Mushtafa
Bouhindi, al-Ta'tsir al-Masihi fi Tafsir al-Quran. Sayangnya, karya
Bouhindi ini kurang mendapatkan perhatian dan publikasi massif,
sehingga kurang dikenal oleh kalangan luas. Padahal, kalau kita lihat
bobot isinya, sungguh melampuai capaian Jabiri. Bouhindi, dalam
bukunya itu, berhasil merombak secara besar-besaran struktur nalar
tafsir sekaligus memberikan alternatifnya.
> 
> Ada informasi menarik seputar perkembangan intelektual Fatayat
Mesir. Sejauh ini saya kebetulan diberi kepercayaan untuk menjadi
supervisor dalam kajian Fatayat Mesir. Sekarang ini, Fatayat Mesir
sedang sibuk mengkaji buku-buku antara lain:
> 1. Geschichte des Qorans (Tarikh Quran) karya Noldekke, Die
Richtungen der Islamichen Koranauslegung (Madzahib Tafsir) karya
Goldziher, dan karya orientalis lainnya seperti W. Muir, Regis
Blachere, Arthur Jefferi, dll.
> 2. Madkhal ila Hermeneutika karya Adil Mushtafa
> 3. Beberapa karya Abu Zaid
> 4. Al-Quran wa al-Kitab karya Syahrour
> 5. Al-Nash al-Qurani karya Tayyib Tizini
> 6. Al-Hijaj fi al-Quran karya Abdullah Aulah
> 7. Nadhariyyatul Ma'rifat bayn al-Quran wa al-Falsafah karya Abd
al-Hamid Kurdi
> 8. Komparasi antara Fann al-Qashashi karya Khalafullah dengan Asatir
Awwalin karya Muhammad Karim Kuwwas
> 9. Tafsirul Quran bayn Qudama wa Muhaditsin karya Gammal Banna
> 10. Kayfa Nata'amalu ma'a al-Quran karya Yusuf Qardhawi
> 11. Komparasi al-Burhan Zamakhsari dengan Itqan karya al-Suyuthi.
Komparasi untuk menindaklanjuti kajian Nollin terkait isu dependensi
dan plagiasi al-Suyuthi terhadap Zamakhsari.
> 12. Madkhal ila al-Quran karya Jabiri
> 13. dll.
> 
> Insya Allah, ke depan Fatayat Mesir akan saya arahkan untuk mengkaji
karya-karya klasik seputar ulum al-Quran yang selama ini kurang
mendapatkan perhatian dari banyak kalangan. Contohnya, kita akan
mengkaji Al-'Aql wa Fahm al-Quran karya al-Haris al-Muhatsibi
(termasuk pioneer Sunni), Qanun al-Ta'wil karya Ibn al-Arabi, Qanun
al-Ta'wil karya al-Ghazali, al-Mashahif karya al-Sijistani, Mutasabih
al-Quran serta Tanzih Quran 'an Matha'in karya Qadhi Abd al-Jabbar,
dll. Doakan semoga terlaksana dan bermanfaat.
> 
> Salam
> Irwan Masduqi
> Aktivis LAKPESDAM
> 
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Muhammad Mawhiburrahman <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [email protected]
> Terkirim: Minggu, 6 April, 2008 09:50:43
> Topik: Re: [kmnu2000] Re: Tentag GD, dan perbedaanya dengan Hasan
dan Jabiri
> 
> Anis,
> 
> Saya sepakat dengan kamu dalam poin bahwa gagasan dalam ranah
apapun; termasuk di dalamnya adalah ideologi bisa menjadikan politik
sebagai salah satu sarana manifestasi dengan tanpa melibatkan
partisipasi agama.
> 
> Kembali pada kasus Gus Dur, saya melihat ada perbedaan yang krusial
antara Gus Dur sebagai salah satu ikon pemikir Indonesia dengan para
pemikir dunia Arab. Memang benar, Hassan Hanafi pernah terlibat
gerakan IM pada masa mudanya. Jabiri pun demikian. Semasa mudanya, dia
aktif dalam partai Union Nationale des Forces Popularies yang lantas
menjelma sebagai Union Sosialiste des Forces Popularies. Jabiri muda
bahkan termasuk dalam deretan kader militan bagi partai USFP ini.
> 
> Nah, perbedaan yang saya maksudkan disini adalah, Gus Dur, paling
tidak dalam asumsi saya, menjadikan ideologinya yang brilian itu hanya
sebatas sebagai relasi sosial. Hal inilah yang dalam bahasa Hassan
Hanafi telah mengerangkeng Gus Dur dalam konflik-konflik politik yang
kerap kontra produktif bagi pembumian gagasan pemikiran atau ideologinya.
> 
> Lain halnya, jika Gus Dur memposisikan ideologinya layaknya sikap
yang diambil para pemikir Arab Modern dan Kontemporer. Sepemahaman
saya, para pemikir Arab semodel Hassan Hanafi, Jabiri atau Nashr Hamid
menempatkan ideologi mereka sebagai proyeksi rasional. Ini lantas
mengapa, gagasan-gagasan mereka menuai apresiasi dan terkesan rapi
serta matang, juga terencana. Berkebalikan dengan Gus Dur, yang
konsepnya selalu memunculkan kesan acak-kadut, zig-zag dan tak mudah
dipahami.
> 
> Tentang buku al-Jabiri yang kamu sebut itu, kawan-kawan Lakpesdam 5
bulan yang lalu telah membedahnya secara serius. Bahkan ketika abah
Robith belum pulang ke Indonesia. Biarlah tema yang berbau Qur'an
menjadi bidang garap Gus Irwan saja. Saya sungkan untuk melangkahinya.
Saya takut tak mendapat doa kelulusan darinya.
> 
> Salam,
> 
> Muhammad Mawhiburrahman
> Faculty of Theology 
> Department of Creed and Philosophy
> Al-Azhar University Cairo
> http://www.mmawhib. blogspot. com
> --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---
> 
> ----- Original Message ----
> From: Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net>
> To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> Sent: Sunday, April 6, 2008 3:44:44 AM
> Subject: [kmnu2000] Re: tentag GD, buku baru Hasan dan Jabiri
> 
> Muhib,
> 
> Pemikiran, ideologi dan bahkan agama (tepatnya pemahaman agama) tidak
> ada salahnya (atau bahkan harus) diperjuangkan melalui politik...Tanpa
> harus mengatasnamakan Tuhan sehingga yang terjadi adalah penindasan
> manusia atas nama Tuhan. 
> 
> Pemikir-pemikir Mesir itu banyak yang aktif di politik.
> Pemikir-pemikir Marxis afiliasinya ke partai-partai sosialis seperti
> Khalil dan Rif'at Said. Termasuk Hassan dulu pernah di IM. 
> 
> Sering-sering lah kamu ke Ammu Hasan dan mungkin Jamal Al Banna. Di
> Indonesia jarang saya menemukan pemikir yang ketika diwawancarai bisa
> elaboratif dan mendalam, terutama dalam khazanah Islam klasik.
> 
> Makanya, saya kangen suasana wawancara dan seminar-seminar dengan
> tokoh-tokoh besar Mesir itu...;)Di hadapan mereka gairah intelektual
> saya terpuaskan meski hanya banyak mendengar.
> 
> Saya menunggu buku itu. Buku Jabiri yang terbaru, Madkhal Ila Al
> Quran, sudah saya baca meski baru mukaddimah dan saya harus berhenti
> untuk konsentrasi bidang saya.
> 
> Waktu saya wawancara Abu Zayd di Jogja, gagasan Jabiri dalam buku
> terbarunya punya kesamaan dengan Khalafullah. Jika memang benar, apa
> Jabiri menyebut Khalafullah? Abu Zayd bertanya begitu.
> 
> Saya kira teman-teman Lakpesdam sudah waktunya menyambut antusias buku
> Jabiri yang baru ini dan mengkajinya perlahan. 
> 
> Salam,
> Anis M 
> 
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of
Blockbuster Total Access, No Cost. 
> http://tc.deals. yahoo.com/ tc/blockbuster/ text5.com
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> ________________________________________________________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>                            
> 
>  between 0000-00-00 and 9999-99-99        
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke