Cungkring Jadi Raja
  “Gonjang ganjing Pilkada Jabar”
   
  Pilkada Jabar (Jawa Barat) sudah lewat. Masyarakat banyak yang tidak tertarik 
“merayakan” pesta rakyat yang diadakan pada 12 April yang lalu. Tingkat 
partisipasi pemilih tergolong rendah. Hampir di setiap TPS sepi peminat. Meski 
diadakan pada hari libur, masyarakat lebih memilih bekerja daripada mendatangi 
TPS untuk mencoblos. Ternyata, masyarakat semakin apatis terhadap masa depannya 
sendiri. 
   
  Pilkada Jabar juga menandai jatuhnya kredibilitas dan popularitas Partai 
politik. Berdasarkan perolehan suara sementara yang terkumpul di KPU Propinsi, 
suara DA’I (Dany-Iwan) yang diusung Partai Golkar dan Demokrat terpuruk di 
urutan terakhir. Padahal, Jabar merupakan lumbung suara partai yang bergambar 
beringin ini. 
   
  Setidaknya, berdasarkan pemilu 2004, Golkar berhasil menguningkan Jabar 
dengan mengantongi 27,9 persen dari 20,7 juta suara atau menguasai 17 daerah. 
Ini belum menghitung suara Demokrat yang mengantongi 8,25 persen suara. Di atas 
kertas, koalisi keduanya sedikitnya mengantongi 36 persen. 
   
  Begitu juga dialami pasangan AMAN (Agum-Nu’man) yang diusung oleh PDIP, PPP, 
PKB, PKPB, PBB, PBR, dan PDS. Namun, koalisi 7 partai ini tidak mampu 
mengungguli pasangan HD (Heryawan-Dede Yusuf) yang hanya diusung PKS dan PAN. 
Padahal, berdasarkan “sunnatullah”, suara AMAN berada di posisi aman. 
   
  Pemimpin ganteng
  Banyak hal yang tidak terduga dalam politik. Melambungnya perolehan suara HD 
mencengangkan sekaligus membingungkan banyak orang. Pada akhirnya, orang (pakar 
politik) hanya bisa menduga-duga atas kemenangan HD. Dugaan kuat kemenangan HD  
lebih disebabkan popularitas Dede Yusuf sebagai selebritis. 
   
  Alasan tersebut ada benarnya. Dede lebih dulu dikenal orang, terutama 
ibu-ibu, melalui sinetron, iklan, dan tayangan entertaint lainnya. Di mata 
orang, Dede lebih dikenal sebagai artis ketimbang politisi atau sesosok 
intelektual. Wajahnya yang ganteng dan senyumannya yang simpatik mampu menyihir 
banyak pemilih. 
   
  Belum lagi menghitung sosok Heryawan yang di back-up pengikut setia PKS yang 
militan. Heryawan termasuk “orang baru” yang tidak banyak dikenal publik Jabar. 
Namun, momentum kemunculannya sangat tepat dikala masyarakat lebih banyak 
berharap pada figur baru yang diharapkan mampu membawa perbaikan dan perubahan 
baru. Orang tidak lagi peduli pada visi, misi, serta program-program yang 
ditawarkan oleh keduanya.
   
  Kemenangan HD mendulang sukses pasangan SBY-JK pada waktu Pilpres 2004 
kemarin. Waktu itu, kegantengan dan popularita SBY mampu mengantarkannya ke 
istana negara. Lagi-lagi “ganteng” masuk dalam kamus politik kita. 
Pertanyaannya, sejak kapan “kegantengan” termasuk dalam kriteria kepemimpinan 
kita?
   
   
  Jamaluddin Mohammad
  http:///wong-cerbon.blogspot.com

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke