Ghost(bukan gus) Jamal, how are you Cirebon today? Yang paling "menarik" dari tulsanmu, Anda tampak "picik", menampakan keirian kepada Dede yusuf artis ganteng itu. Mungkin dengan latar belakang karena ente tidak ganteng. Jadi, ketika berbicara politik pun, ente tetap menampakkan "balas dendam" kepada orang-orang berwajah ganteng.
Anda tidak membaca substansi dan realitas politis di lapangan! Jamal yang ganteng seperti bintang ayat-ayat cinta/tidak kebagian kapling, Btw. Ternyata sisa-sisa obrolan, waktu kita "muda'' dulu di warung pondok lirboyo, masih membekas pada diri ante, tergores dalam tulisanmu ini. Selamat, Anda ada SEDIKIT bakat jadi pengamat "pil-lurah" he.. he... Rul(tidak ganteng/Tapi tidak sejelek jamal:) To: [email protected] From: Jamaluddin Mohammad <[EMAIL PROTECTED]> Date: Mon, 21 Apr 2008 00:36:16 -0700 (PDT) Subject: [kmnu2000] Cungkring Jadi Raja Cungkring Jadi Raja Gonjang ganjing Pilkada Jabar Pilkada Jabar (Jawa Barat) sudah lewat. Masyarakat banyak yang tidak tertarik merayakan pesta rakyat yang diadakan pada 12 April yang lalu. Tingkat partisipasi pemilih tergolong rendah. Hampir di setiap TPS sepi peminat. Meski diadakan pada hari libur, masyarakat lebih memilih bekerja daripada mendatangi TPS untuk mencoblos. Ternyata, masyarakat semakin apatis terhadap masa depannya sendiri. Pilkada Jabar juga menandai jatuhnya kredibilitas dan popularitas Partai politik. Berdasarkan perolehan suara sementara yang terkumpul di KPU Propinsi, suara DAI (Dany-Iwan) yang diusung Partai Golkar dan Demokrat terpuruk di urutan terakhir. Padahal, Jabar merupakan lumbung suara partai yang bergambar beringin ini. Setidaknya, berdasarkan pemilu 2004, Golkar berhasil menguningkan Jabar dengan mengantongi 27,9 persen dari 20,7 juta suara atau menguasai 17 daerah. Ini belum menghitung suara Demokrat yang mengantongi 8,25 persen suara. Di atas kertas, koalisi keduanya sedikitnya mengantongi 36 persen. Begitu juga dialami pasangan AMAN (Agum-Numan) yang diusung oleh PDIP, PPP, PKB, PKPB, PBB, PBR, dan PDS. Namun, koalisi 7 partai ini tidak mampu mengungguli pasangan HD (Heryawan-Dede Yusuf) yang hanya diusung PKS dan PAN. Padahal, berdasarkan sunnatullah, suara AMAN berada di posisi aman. Pemimpin ganteng Banyak hal yang tidak terduga dalam politik. Melambungnya perolehan suara HD mencengangkan sekaligus membingungkan banyak orang. Pada akhirnya, orang (pakar politik) hanya bisa menduga-duga atas kemenangan HD. Dugaan kuat kemenangan HD lebih disebabkan popularitas Dede Yusuf sebagai selebritis. Alasan tersebut ada benarnya. Dede lebih dulu dikenal orang, terutama ibu-ibu, melalui sinetron, iklan, dan tayangan entertaint lainnya. Di mata orang, Dede lebih dikenal sebagai artis ketimbang politisi atau sesosok intelektual. Wajahnya yang ganteng dan senyumannya yang simpatik mampu menyihir banyak pemilih. Belum lagi menghitung sosok Heryawan yang di back-up pengikut setia PKS yang militan. Heryawan termasuk orang baru yang tidak banyak dikenal publik Jabar. Namun, momentum kemunculannya sangat tepat dikala masyarakat lebih banyak berharap pada figur baru yang diharapkan mampu membawa perbaikan dan perubahan baru. Orang tidak lagi peduli pada visi, misi, serta program-program yang ditawarkan oleh keduanya. Kemenangan HD mendulang sukses pasangan SBY-JK pada waktu Pilpres 2004 kemarin. Waktu itu, kegantengan dan popularita SBY mampu mengantarkannya ke istana negara. Lagi-lagi ganteng masuk dalam kamus politik kita. Pertanyaannya, sejak kapan kegantengan termasuk dalam kriteria kepemimpinan kita? Jamaluddin Mohammad http:///wong-cerbon.blogspot.com --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. [Non-text portions of this message have been removed] --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. [Non-text portions of this message have been removed]
